Selasa, 24 September 19

Perpindahan Ibu Kota dan Suara Budayawan

Perpindahan Ibu Kota dan Suara Budayawan
* Hendrajit. (Foto: FB Hendrajit)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Indonesia (GFI)

 

Yang bikin gelisah tahu nggak apa? Sampai hari ini belum ada budayawan yang bersuara ihwal perpindahan ibu kota. Terlepas yang setuju ataupun tidak.

Pak Emil Salim, dengan segala hormat, memang bagus pandangan kritisnya terhadap rencana pemerintah memindahkan ibu kota. Namun, tetap saja, seperti reputasi beliau sejak era Orde Baru sampai sekarang. Pendekatan mantan menetri era Pak Harto ini tetap dalam perspektif kebijakan ekonomi, lingkungan hidup dan demografi. Tidak salah memang, tapi belum tepat. Sehingga saya pesimis pandangan seperti Pak Emil akan punya daya tekan agar pemerintah mengurungkan niatnya.

Lain halnya kalau disorot dari aspek kebudayaan. Sebab masalah pokok yang krusial di balik wacana pindah ibukota itu adalah betapa para pemimpin kita mengabaikan pertimbangan kajian strategis tradisi keindonesiaan dan kearifan lokal.

Jadi di situ ada aspek material namun juga aspek imaterial dalam menentukan ibukota negara. Sebuah kota punya daya rasa khas, yang pada perkembangannya mempengaruhi temparemen dan cita rasa warga masyarakat pemukimmya.

Amerika memilih Washington, bukannya New York yang relatif sama besarnya tapi jauh lebih hiruk-pikuk sebagai ibukota. Mesir memilih Kairo, bukannya Alexandria, yang juga sama monumental dan bersejarah sebagai simbol kejayaan peradaban Mesir.

Mengapa begitu penting suara para budayawan dan bahkan agamawan urun rembug soal ini? Sebab saya dapat kesan, bahwa beberapa masukan dari para penasihat spiritualnya kepada Presiden Jokowi bukan atas dasar pertimbangan imaterial dan spiritual. Melainkan seakan-akan spiritual dan immaterial.

Lebih celakanya lagi, hal-hal yang seolah-olah spiritual, goib dan immaterial itu, kemudian dikawinkan dengan pertimbangan-pertimbangan yang justru sepenuhnya materialistis. Seperti kepentingan-kepentingan yang diwarnai motif-motif ekonomi-bisnis, Seperti misalnya, sebuah kota di propinsi tertentu, mengandung kekayaan alamlah, atau sebuah kota selama ini sudah jadi basis dan sentra bisnis para taipan dan sebagainya.

Untuk menggugah sebuah kesadaran baru ihwal putusan memilih ibu kota, sulit diharapkan hanya mengandalkan reputasi intelektual Pak Emil Salim sebagai ekonom. Dengan segala hormat pada Pak Emil, beliau tetap merupakan salah satu tokoh senior, yang masih meyakini cara lama dan pola pikir lama, untuk menyelesaikan masalah lama yang itu-itu juga.

Menurut saya, dengan segala kekisruhan di balik wacana, atau mungkin rencana, pemindahan ibu kota telah membawa hikmah bagi kita semua. Untuk memikirkan dan menggagas hal-hal baru yang selama ini di luar pikiran kita selama ini.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.