Rabu, 19 Mei 21

Pernah Diprediksi Bubar, Ridwan Hisjam Ungkap Rahasia Kekuatan Politik Golkar

Pernah Diprediksi Bubar, Ridwan Hisjam Ungkap Rahasia Kekuatan Politik Golkar
* Politisi Partai senior Partai Golkar Ridwan Hisjam. (Foto: Dok Pribadi)

Jakarta, Obsessionnews.com – Golkar adalah partai tua yang sampai saat masih bertahan menjadi salah satu partai dengan perolehan terbesar di urutan kedua. Artinya, di tengah banyak partai baru bermunculan, Golkar nyatanya masih mampu bersaing, dan selalu berada di atas perolehan suara partai-partai baru.

Padahal saat reformasi 1988, Golkar diprediksi banyak orang akan ikut bubar, seiiring jatuhnya Presiden Soeharto. Namun, nyatanya Golkar sampai saat ini masih ada. Meski tidak sekuat zaman Orde Baru, Golkar masih menjadi partai yang sangat diperhitungkan. Lalu mengapa Golkar masih tetap kuat?

Ridwan Hisjam, politisi senior Partai Golkar menjelaskan tentang hal itu. Menurutnya, ada alasan mengapa Golkar masih tetap bisa bertahan dan mampu berada dalam urutan kedua dengan perolehan suara terbanyak disetiap pemilu. Khususnya pasca reformasi.

Pertama kata Ridwan, selama ini Golkar masih dipilih masyarakat karena simbol pohon beringinnya. Lambang pohon beringin dianggap bukan sembarangan lambang. Tapi ada makna terdalam, berupa muatan filosofis yang dibuat oleh para pendiri Golkar. Beringin adalah simbol, kekuatan, dan kekokohan.

“Jadi captive market Golkar selama ini saya melihat orang memilih Golkar bukan karena partainya. Tapi pohon beringinya. Biasanya itu orang-orang tua, mantan-mantan pegawai negeri yang sudah pensiunan. Jadi kekuatan captive market Golkar ada di situ,” ujar Ridwan saat dihubungi, Minggu (7/3/2021).

Karena kuatnya simbol beringin dalam tubuh Golkar, maka pada Pemilu 1999, banyak pengurus DPP dan DPD yang mengusulkan adanya perubahan nama, lambang, dan warga Partai Golkar. Hal ini disebut sebagai bentuk penyelamatan Partai Golkar pasca reformasi. Karena Golkar yang menjadi penyanggah Orde Baru diprediksi akan ikut hancur bersama turunnya Soeharto.

Namun, saat itu, Ridwan yang menjabat Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur menolak dengan adanya rencana perubahan nama, lambang dari Partai Golkar. Hal itu ia ungkapkan Ridwan setelah ia mendapatkan masukan para ulama sepuh di Jawa Timur yang meminta agar semua atribut Golkar tetap dipertahankan.

“Pada saat itu saya bilang ke Bang Akbar Tanjung selaku Ketua Umum Golkar. Saya bilang bahwa jangan sampai ada perubahan apapun dalam tubuh Golkar, baik itu lambang, nama partai, atau warna partai. Golkar harus tetap seperti awal pendiriannya,” ucap Ridwan.

“Mengapa? Karena apa yang saya sampaikan berdasarkan dawuh dari para ulama-ulama sepuh di Jawa Timur. Kita tahu bahwa Golkar ini juga didirikan oleh para kiai, yang notabennya mereka ini benar-benar ulama yang tawadhu. Mungkin bahasa saya, lambang Golkar sudah ditirakati oleh para kiai sepuh,” terang Ridwan menambahkan.

Ridwan bersyukur, setelah Akbar Tanjung mendapat masukan itu, dia mau menerima, akhirnya tidak ada sedikitpun perubahan dari Golkar. Dan faktanya, pada Pemilu 2004, Golkar di bawah kepemimpinan Akbar Tanjung mampu menjadi partai pemenang Pemilu. Menurut Ridwan, Ini menjadi bukti Golkar masih ada di hati rakyat.

Biasa dengan Hasil Survei

Untuk saat ini, Golkar masih berada di urutan kedua partai pemenang Pemilu pada 2019 lalu. Meski diakui pasca kepemimpinan Akbar Tanjung suara Golkar terus menurun. Terlebih saat ini ada hasil survei dari Litbang Kompas yang mengatakan elektabilitas Partai Golkar saat ini merosot menjadi 3,4 persen.

Bukan tidak percaya, tapi Ridwan melihat itu sebagai hal yang biasa. Karena hasil survei itu bukan menunjukan suara hasil Pemilu. Mungkin yang dimaksud dari 3,4 persen itu adalah suara pemilih Golkar yang sudah usia lanjut. Mereka inilah kata Ridwan yang masih menjadi kekuatan Captive Market dari Partai Golkar.

“Bukan tidak percaya, tapi kita biasa saja dengan hasil survei. Mungkin suara Golkar yang 3,4 persen itu ya suara-suara para pemilih Golkar yang sudah tua-tua itu. Pemilih setia, dan hasil survei itu bukan menunjukan hasil pemilu,” ucap Ridwan, anggota DPR Komisi VII dapil Malang Raya ini.

Menurut Ridwan Survei cukup dijadikan semangat agar kerja politik kader Partai Golkar lebih ditingkatkan. Ridwan punya impian dan cita-cita Golkar mampu menjadi pemenang Pemilu pada 2024 Namun, syaratnya kader Golkar harus banyak turun ke bawah gaet para pemilih muda atau kaum milenial.

“Dalam semingu minimal 3 hari kita melakukan kerja politik, atau paling nggak 4 hari. Jangan sepenuhnya pengurus DPP menyerahkan ke anggota DPR atau DPRD. Kalau kerja politiknya dalam seminggu cuman 1 hari, ya selesai, tidak ada kemajuan,” terang Ridwan.

“Saya DPP Golkar masih kurang dalam melakukan kerja-kerja politik. DPP hanya memerintahkan kepada fraksi untuk melakukan kerja politik pada saat turun ke dapil. Kalau sebatas itu, saya yakin sangat kurang,” ucap Ridwan.

Kalau mau Golkar menang Pemilu pada 2024, maka syaratnya kerja politik kata Ridwan harus dilakukan dari sekarang, jangan menunggu dua tahun lagi. “Kalau kerjanya nunggu 2023, ya sudah ketinggalan,” tegasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.