Minggu, 25 Agustus 19

Perempuan-perempuan Pakistan Dijadikan Budak Seks di Cina

Perempuan-perempuan Pakistan Dijadikan Budak Seks di Cina
* ilustrasi budak seks

Keterlaluan! Perempuan-perempuan Pakistan dijadikan budak seks di Cina dengan kedok pernikahan

Enam bulan yang lalu, Sophia (bukan nama sebenarnya) yang merupakan seorang perempuan Kristen dari Pakistan, melangsungkan pernikahan dengan seorang pria Kristen asal Cina di kota Faisalabad, Pakistan timur.

Pernikahan tersebut terlihat sempurna dan menunjukkan keduanya pasangan yang serasi. Sophia, 19 tahun, bekerja di sebuah salon kecantikan. Adapun calon suaminya yang berusia 21 tahun adalah pedagang alat-alat kecantikan.

Orang tua Sophia tidak punya cukup uang untuk membiayai perkawinan tersebut, namun dari pihak calon suaminya bermurah hati menawarkan seluruh biaya pernikahan.

Prosesi pernikahan berlangsung sesuai dengan adat orang Pakistan, yang tentu saja membuat orang tua Sophia senang karena calon suaminya yang berasal dari China menghormati tradisi setempat.

Seperti biasa ada proses lamaran, dilanjutkan dengan upacara pemakaian daun pacar “henna” dan terakhir “baraat”. Tradisi itu meliputi tiba di rumah pengantin perempuan, melakukan akad nikah, lalu pengantin perempuan pergi untuk memulai kehidupan baru dengan suaminya.

Namun hanya dalam waktu sebulan, Sophia kembali lagi ke rumah orang tuanya. Ia melarikan diri dari apa yang ia yakini saat ini adalah upaya penipuan yang memperdagangkan perempuan-perempuan Pakistan ke dalam perbudakan seksual di China.

Saleem Iqbal, seorang pegiat HAM Kristen yang menelusuri perkawinan semacam itu mengatakan, dirinya meyakini ada sekitar 700 perempuan, kebanyakan Kristen, telah menikahi pria-pria China hanya dalam waktu satu tahun.

Apa yang terjadi pada banyak perempuan ini tidak diketahui, tetapi Human Rights Watch mengatakan mereka “berisiko mengalami perbudakan seksual”.

Sophia (kanan) menikahi laki-laki asal China setelah pastor mengenalkan keduanya. (BBC)

 

Dalam beberapa minggu terakhir, puluhan warga China dan beberapa penghubung dari Pakistan, termasuk setidaknya satu pendeta Katolik, ditangkap terkait dengan dugaan pernikahan palsu.

Badan Investigasi Federal Pakistan (FIA) mengungkapkan kepada BBC bahwa “kelompok-kelompok kriminal China memperdagangkan para perempuan Pakistan dan “menyamarkannya” dengan perkawinan lalu dimasukkan ke dalam perdagangan seks”.

Dikatakan dalam satu kelompok beberapa pria berperan sebagai insinyur di sebuah proyek pembangkit listrik sambil mengatur pernikahan dan mengirimkan uang dengan kisaran mulai US$12.000 (atau Rp173 juta) sampai US$25.000 (atau Rp361 juta) kepada setiap perempuan di China.

Perempuan-perempuan Kristen – yang sebagian besar berasal dari kalangan orang-orang miskin dan terpinggirkan – tampaknya menjadi sasaran utama para pelaku perdagangan manusia, mereka membayar uang ratusan juta kepada para orangtuanya.

Meski China membantah bahwa perempuan-perempuan Pakistan itu diperdagangkan untuk kemudian dijerumuskan ke dalam industri pelacuran. Mereka mengatakan “beberapa media telah mengarang laporan dan menyebarkan rumor tersebut”.

Namun pada pekan ini, pihaknya mengakui jumlah calon pengantin perempuan Pakistan yang mengajukan visa tahun ini mengalami lonjakan – ada 140 pengajuan visa pada tahun ini, jumlah yang sama dengan tahun lalu. Seorang pejabat dari kedutaan China di Islamabad mengatakan kepada media setempat pihaknya telah memblokir setidaknya 90 pengajuan visa.

Ada sekitar 2,5 juta orang Kristen di Pakistan. (BBC)

Masyarakat yang tidak seimbang
Meningkatnya kasus-kasus yang diduga memperdagangkan perempuan dari Pakistan ke China telah terjadi di tengah gelombang masuknya puluhan ribu warga negara China ke negara itu.

China menginvestasikan miliaran dolar dalam proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) (CPEC), untuk pembangunan jaringan pelabuhan, jalan, kereta api, dan proyek-proyek energi.

Kedua negara tersebut adalah sekutu dekat dan kebijakan visa-on-arrival untuk warga negara China juga telah mendorong para pengusaha dan profesional yang tidak terkait langsung dengan proyek CPEC ini turut serta membanjiri Pakistan.

Namun ada juga beberapa warga China yang diyakini sengaja bepergian ke Pakistan untuk mencari calon istri.

Para peneliti mengatakan bahwa warisan kebijakan satu anak yang diterapkan di China selama satu satu dasawarsa disertai preferensi sosial untuk anak laki-laki telah menciptakan masyarakat yang tidak seimbang, di mana jutaan pria tidak dapat menemukan istri.

Selama bertahun-tahun hal ini telah memicu perdagangan perempuan dari beberapa negara Asia yang miskin, termasuk Vietnam, Myanmar dan Kamboja – di mana para pegiat mengatakan banyak perempuan dijanjikan pekerjaan di China namun kemudian dijual lewat pernikahan palsu.

Tampaknya jalan masuk yang begitu mudah ke Pakistan telah menciptakan titik baru berupa perdagangan manusia.
.
Investigasi FIA dan wawancara BBC dengan para pegiat dan penyintas menunjukkan bahwa beberapa ulama Pakistan memainkan peran dalam mengidentifikasi para pengantin perempuan dan mengesahkan kredensial agama dari warga China yang ingin meminang para perempuan tersebut.

Usai melangsungkan pernikahan, para pasangan ini tinggal di sejumlah bungalow yang disewa oleh para pelaku perdagangan manusia di Lahore dan kota-kota lainnya. Dari sana, mereka dikirim ke China. (BBC/RED)

Sumber: BBC News Indonesia

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.