Kamis, 13 Agustus 20

Perdagangan TKW di Luar Negeri, Diperkosa dan Dipenjara

Perdagangan TKW di Luar Negeri, Diperkosa dan Dipenjara
* Kepolisian mengumumkan penangkapan tersangka perdagangan manusia terbesar. (BBC)

Ternyata, tenaga kerja Indonesia wanita (TKW) ada yang diperdagangkan di luar negeri, mengalami nasib buruk, sudah diperkosa dan dipenjara pula. Perdagangan manusia terbesar terungkap, wanita Indonesia dijual ke Irak, diperkosa, lalu dipenjara.

Seorang buruh migran yang dikirim ke Suriah dan Irak secara gelap bercerita tentang pengalaman buruknya dalam kasus “perdagangan manusia terbesar yang berhasil diungkap Polri.”

Mabes Polri tengah memproses delapan orang yang diduga terlibat dalam kasus dugaan perdagangan sekitar 1.200 orang ke negara-negara di Timur Tengah sebagai tenaga kerja ilegal.

Bagi Jingga, 20, bukan nama sebenarnya, tawaran bekerja di Arab Saudi sangat menggiurkan. Buruh pabrik asal Tangerang, Banten itu diiming-imingi tetangganya untuk bekerja di Arab Saudi dengan gaji Rp5 juta per bulan dengan bonus Rp5 juta jika ia dinyatakan sehat untuk bekerja di luar negeri.

Jingga, lulusan SMP, mengatakan saat itu penghasilannya per bulan hanya sebesar Rp 300.000 dan seringkali uang itu tidak cukup untuk membiayai hidupnya dan keluarganya.

“Saya udah lelah, capek melihat perekonomian keluarga. Pulang pergi pulang pergi sebulan cuma dapat hasil Rp 300.000. Belum bayar utang. Adik saya juga masih kecil-kecil. Ya udahlah, demi keluarga, mau mengangkat derajat orang tua,” kata Jingga seperti dilansir BBC Indonesia, Rabu (10/4/2019).

Dengan harapan itu, Jingga membulatkan tekadnya untuk pergi. Saat semua dokumennya siap, Jingga mengatakan ia malah diminta bekerja dulu di Surabaya selama dua minggu.

Setelah itu, di awal tahun 2018, ia dikirim ke Malaysia, Dubai, Turki, Sudan, Suriah, hingga Irak. Selama itu, Jingga mengatakan ia sama sekali tidak menerima gaji. Bahkan, Jingga mengaku dirinya oleh majikannya di Suriah, di mana ia bermukim selama tiga bulan.

ilustrasi. (ist)

Bersama dengan seorang tenaga kerja lain asal Lombok, Jingga memberanikan diri untuk kabur ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriah. Namun, Jingga mengatakan, petugas KBRI mengembalikannya ke agennya.

Di kantor agen di Damaskus, selama satu bulan, Jingga mengatakan dia disiksa di kantor yang dikelola warga negara Indonesia itu. “Saya dipukulin, rambut saya dipotong, tubuh saya dipamerkan ke orang-orang di kantor itu. Setelah itu saya diterbangkan, dijual ke Irak,” ujar Jingga.

Ia mengatakan penderitannya berlanjut selama ia bekerja selama tujuh bulan di sana. Jingga mengatakan di sana ia kerap disiksa dan diperkosa oleh anak majikannya.

Anehnya, saat mengadukan hal itu ke majikannya, Jingga malah dituduh mencemarkan nama baik dan mencuri. “Saya nggak mencuri sama sekali. Anaknya sendiri yang memperkosa saya. Saya nggak salah. Saya dijebloskan ke penjara dalam keadaan hamil tiga bulan,” ungkap Jingga.

Jingga kemudian bebas setelah dijamin oleh pengacara sebuah organisasi kemanusiaan di Irak, Seed Foundation, dan International Organization for Migration (IOM). Jingga pulang ke Indonesia pada bulan Februari tahun ini.

“Jangan sampai ada yang berangkat lagi, mohon benar-benar pemerintah nutup ke (jalur) ke Timur Tengah, biar jangan terjadi yang kayak saya ini,” tutur Jingga.

Jingga adalah salah satu dari setidaknya 1.200 orang yang menjadi korban pengiriman tenaga kerja ilegal ke negara Timur Tengah sejak tahun 2014. Kasus ini baru diungkap pihak kepolisian dan delapan orang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kebanyakan korban itu berasal dari Nusa Tenggara Barat dan Jawa Barat. Mabes Polri mengatakan praktik ini dilakukan oleh empat jaringan berbeda yang merekrut dan mengirim tenaga kerja ke Maroko, Suriah, Turki, dan Arab Saudi. (BBC/RED)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.