Selasa, 27 Oktober 20

Pengusaha (Djarum Group) – Robert Budi Hartono

Pengusaha (Djarum Group) – Robert Budi Hartono
* Robert Budi Hartono.

Memiliki seabreg perusahaan dan kekayaan triliunan rupiah, serta banyak karyawan, jelas Robert Budi Hartono merupakan tokoh yang berpengaruh di peta perekonomian nasional. Robert berandil besar menciptakan banyak lapangan kerja. Pengaruh Robert tak hanya di sektor perekonomian, tetapi juga di dunia olah raga.

Robert yang hobi bulutangkis mendirikan Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum pada tahun 1969. PB Djarum melahirkan sejumlah pebulutangkis yang mengharumkan nama Indonesia. Mereka antara lain adalah Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Joko Supriyanto, dan Taufik Hidayat.


Selama bertahun-tahun Majalah Forbes menempatkan Robert Budi Hartono, yang memiliki nama asli Oei Hwie Tjhong, sebagai salah seorang terkaya di dunia, dan menduduki peringkat teratas orang terkaya di Indonesia.
Forbes mencatat total kekayaan Robert tahun 2012 mencapai 6,5 miliar dolar AS dan menempati posisi 146 orang terkaya di dunia. Kekayaan pria kelahiran Semarang, 28 April 1940, ini melonjak tajam pada 2017. Dilansir Forbes, Selasa (21/3/2017), nilai kekayaannya mencapai 9 miliar dolar AS atau setara Rp 119,7 triliun (kurs Rp 13.300 per dolar AS), dan menduduki peringkat 140 dari 500 daftar orang terkaya di dunia. Sementara statusnya sebagai orang terkaya di Indonesia tak tergoyahkan.

Kakaknya, Michael Bambang Hartono yang bernama asli Oei Hwie Siang, menempati posisi 145 dari daftar orang terkaya di dunia 2017 versi Forbes, dan berada di peringkat kedua orang terkaya di Indonesia. Michael memiliki kekayaan 8,9 miliar dolar AS atau setara Rp 118,37 triliun.

Robert mengumpulkan kekayaan dari bisnis rokok Djarum. Dia bersama Michael meneruskan bisnis rokok yang dirintis oleh ayahnya, Oei Wie Gwan, di Kudus, Jawa Tengah. Pada tahun 1963 pabrik perusahaan Djarum terbakar dan perusahaan sedang dalam kondisi yang tidak stabil. Oei meninggal dunia tak lama kemudian, Setelah sang ayah meninggal dunia, Robert bersama Michael melanjutkan usaha tersebut. Di bawah kendali mereka Djarum kembali bangkit dan memodernisasikan peralatan di pabriknya. Pada tahun 1972 Djarum mulai mengeskpor produk rokoknya ke luar negeri. Tiga tahun kemudian Djarum memasarkan Djarum Filter, merek pertamanya yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang diperkenalkan pada tahun 1981.

Di tangan dua bersaudara Hartono tersebut, Djarum tumbuh menjadi perusahaan raksasa. Djarum saat ini memiliki pangsa pasar yang besar di Amerika Serikat. Di Indonesia, produksi Djarum mencapai 48 miliar batang pertahun atau 20% dari total produksi nasional.

Seiring dengan pertumbuhannya, perusahaan rokok ini menjelma dari perusahaan rokok menjadi grup bisnis yang berinvestasi di berbagai sektor antara lain perbankan, properti, agrobisnis, elektronik dan multimedia. Robert dan Michael melalui Farindo Holding Ltd. menguasai 51% saham Bank Central Asia (BCA). Selain itu, mereka juga memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 65.000 hektar di Kalimantan Barat sejak tahun 2008, serta sejumlah properti di antaranya pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik. Salah satu bisnis Group Djarum di sektor ini bergerak di bawah bendera Polytron yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Perusahaan Polytron ini kini juga memproduksi ponsel yang sebelumnya hanya meproduksi AC, kulkas, produk video dan audio, dan dispenser. Melalui perusahaan yang baru dibuat yakni Ventures Global Digital Prima, Global Digital Niaga (Blibli.com), mereka juga membeli Kaskus, situs Indonesia yang paling populer. (ARH)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017. 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.