Rabu, 20 Maret 19

Pementasan Musikal Keroncong ‘Doea Tanda Tjinta’ Oleh Indonesia Kita

Pementasan Musikal Keroncong ‘Doea Tanda Tjinta’  Oleh Indonesia Kita
* Pementasan Musikal Keroncong ‘Doea Tanda Tjinta’ di Taman Ismail Marzuki (TIM), jakarta, 29 - 30 Juli 2016.

Jakarta, Obsessionnews.com – Kreativitas Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Djaduk Ferianto di atas panggung sudah tidak perlu diragukan lagi. Ketiga pemrakarsa forum seni dan budaya yang dikenal dengan Indonesia Kita ini kembali mengangkat warisan Indonesia ke atas panggung.

Indonesia Kita mulai menggelar pertunjukan sejak tahun 2011, dan sejak itulah pentas-pentas yang diadakan menjadi “laboratorium kreatif” bagi berbagai seniman, baik lintas bidang, lintas kultural, maupun lintas generasi.

Indonesia Kita yang secara berkala dan rutin diselenggarakan pada akhirnya telah mampu meyakinkan penonton untuk melakukan apa yang disebut oleh Butet sebagai “ibadah kebudayaan”, yakni semangat untuk bersama-sama mendukung dan mengapresiasi karya seni budaya.

Pentas-pentas Indonesia Kita mendapat apresiasi yang baik, tanggapan positif, dan mampu menjadi ruang interaksi tidak hanya antara seniman dan masyarakat penonton, melainkan juga antara penonton dengan penonton.

Pementasan Doea Tanda Tjintayang dipentaskan pada 29 – 30 Juli 2016 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mengambil warisan musikal keroncong dan menampilkan lagu-lagu keroncong yang diaransemen dengan gaya terbaru untuk dipersembahkan kepada masyarakat.

Pentas Indonesia Kita ke-20 yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini menampilkan kolaborasi seniman yang memperkaya musikal keroncong dengan unsur-unsur perpaduan genre musik lainnya, seperti blues, rock sampai musik etnik.

Lakon Doea Tanda Tjinta merupakan cerita berlatar zaman pergerakan kemerdekaan, ketika gagasan tentang Indonesia merdeka menjadi ancaman bagi pemerintahan Hindia Belanda. Bagaimana para pemuda-pelajar pada saat itu mulai menyemai benih pemikiran tentang kemerdekaan, dan bagaimana persoalan-persoalan yang mereka hadapi, menjadi tema cerita dalam lakon ini.

Lakon ini adalah kisah seorang pemuda keturunan Belanda yang menjadi mata-mata dan mencoba mempengaruhi para pemuda, membujuk mereka agar terus mendukung pemerintahan Hindia Belanda.

Lakon ini juga bercerita tentang kisah cinta seorang anak nyai, yang berusaha mempertahankan keyakinan dan prinsipnya untuk lebih mendukung pergerakan Indonesia merdeka daripada ia harus menerima warisan papanya yang menetapkan syarat  memilih menjadi warga Hindia Belanda.

Antara cinta dan pergolakan pemikiran serta gagasan tentang kemerdekaan itu, menjadi dua alur yang paralel, saling berkaitan, dan akan menjadi sebuah kejutan di akhir kisah, ketika sebuah jam yang merupakan warisan anak nyai itu mengungkap kisah sebenarnya.

Jalan cerita Doea Tanda Tjinta diiringi dengan lagu-lagu keroncong yang telah menjadi bagian penting dalam mengiringi proses pembentukan sejarah perjuangan bangsa, lagu-lagu yang legendaris tersebut dibawakan dengan sangat apik oleh para seniman keroncong dan Sinten Remen yang berkolaborasi dan menghasilkan pertunjukan yang menarik.

Memadukan keroncong dengan bentuk kesenian lainnya ke panggung pementasan, merupakan tantangan tersendiri di dalam program Indonesia Kita kali ini.

Koreografer B. Kristiono Soewardjo yang sering terlibat dalam berbagai event baik di dalam maupun luar negeri ini juga terlibat secara langsung dalam mengarahkan tarian para pemain.

Pementasan ini juga didukung oleh Endah Laras, Heny Janawati, Olga Lydia, Merlyn Sopjan, Subardjo HS, Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Susilo Nugroho, Trio GAM (Gareng, Joned, Wisben) dimana artistiknya ditangani oleh Ong Hari Wahyu dan Retno Ratih Damayanti. (Puspa, mahasiswa IPB, dan saat ini magang di Obsession Media Group)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.