Senin, 17 Januari 22

Pelindo Ikut Sukseskan Rehabilitasi Mangrove di Indramayu

Pelindo Ikut Sukseskan Rehabilitasi Mangrove di Indramayu
* PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo bersinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) gelar Soft Launching Rehabilitasi Kawasan Mangrove di Kabupaten Indramayu. (Foto: Pelindo)

Jakarta, obsessionnews.com – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo bersinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) gelar Soft Launching Rehabilitasi Kawasan Mangrove dalam upaya mempercepat rehabilitasi kawasan mangrove nasional di Kabupaten Indramayu pada Sabtu (27/11/2021).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut perjanjian kerja sama kegiatan Rehabilitasi Mangrove melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL)/Corporate Social Responsibility (CSR) yang di tandatangani pada September lalu.

Turut hadir Asisten Deputi Pengelolaan Perubahan Iklim dan Kebencanaan Kemenkomarves Kus Prisetiahadi, Bupati Indramayu Nina Agustina, Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P4K) KKP Muhammad Yusuf, Group Head Sekretariat Perusahaan Pelindo Ali Mulyono, serta kelompok pembudidaya ikan dan tani Kabupaten Indramayu.

Dalam keterangan tertulis Pelindo, Senin (29/11), Kus mengucapkan tterima kasih kepada Pelindo yang telah mendukung Pemerintah dalam melakukan rehabilitasi kawasan mangrove melalui program TJSL. Tidak lupa kepada Pemerintah Kabupaten Indramayu yang bersedia menerima, mendukung, dan memfasilitasi kegiatan ini.

“Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam melakukan rehabilitasi kawasan mangrove seluas 600.000 Ha yang tidak mungkin dilaksanakan seluruhnya menggunakan APBN, peran BUMN juga menjadi penting untuk mendukung kesuksesan target program ini,” ujar Kus.

Sementara itu, Nina mengungkapkan, Kabupaten Indramayu memiliki panjang garis pantai kurang lebih 147 kilometer yang merupakan salah satu daerah Pantai Utara Jawa Barat yang sangat strategis dan berkembang. Kawasan pantai di Kabupaten Indramayu ini selain memiliki daya tarik wisata, juga menjadi sumber biota laut yang melimpah serta mempunyai lahan hutan mangrove yang cukup luas.

“Melihat potensi ini, tentunya kawasan mangrove harus benar-benar dijaga dan dikembangkan,” ujar Nina.

Menurut dia, mangrove bukan hanya untuk mengendalikan dan melestarikan ekosistem pantai, melainkan bisa diolah menjadi produk olahan yang bisa dikonsumsi dan menjadi produk UMKM.

Nina berharap ke depannya kegiatan rehabilitasi kawasan mangrove dapat terus dilakukan dan bahkan melibatkan lebih banyak unsur lagi.

“Karena semakin banyak yang berperan, semakin maksimal pula hasil yang didapat,” ujar Nina.

Kawasan Mangrove merupakan salah satu kawasan ekosistem di wilayah pesisir yang memiliki banyak manfaat dan nilai ekonomi yang tinggi. Mangrove juga dapat menjaga kawasan pesisir dari bencana alam seperti tsunami dan mencegah abrasi.

Berdasarkan Peta Mangrove Nasional tahun 2021, kondisi ekosistem mangrove di Indonesia seluas 3,36 Juta Ha, dengan total mangrove lebat seluas 3,1 Juta Ha, mangrove sedang seluas 188.363 Ha, dan mangrove jarang seluas 54.474 Ha.

Untuk itu Pelindo mendukung penuh program Pemerintah yang diinisiasi Kemenko Marves dan KKP untuk merehabilitasi lahan kritis mangrove di Kabupaten Indramayu melalui program TJSL untuk mencapai target nasional terkait rehabilitasi kawasan mangrove di Indonesia.

“Dengan menggandeng penggiat lingkungan yaitu masyarakat yang tergabung dalam kelompok pembudidaya maupun kelompok tani,” ujar Ali.

Rehabilitasi kawasan mangrove di Kabupaten Indramayu dilakukan melalui program Padat Karya Penanaman Mangrove (PKPM) sesuai dengan instruksi Presiden dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Padat Karya Penanaman Mangrove oleh Pelindo ini dilaksanakan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) Bakau Rimba Jaya di Desa Lamarantarung, Kecamatan Cantigi dengan lahan seluas 75 Ha.

“Melalui pendekatan ekowisata, kegiatan rehabilitasi kawasan mangrove ini juga memberdayakan para istri nelayan melalui peningkatan kapasitas masyarakat dengan memberikan sarana pengolahan produk turunan mangrove menjadi produk bernilai ekonomis,” jelas Yusuf

Program ini adalah bentuk tanggung jawab Perusahan terhadap lingkungan dalam upaya mendukung ketercapaian tujuan pembangunan berkelanjutan sebagai salah satu upaya memitigasi dampak perubahan iklim serta turut mensukseskan program Pemerintah untuk rehabilitasi kawasan mangrove dengan memberdayakan masyarakat. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.