Kamis, 6 Agustus 20

Ortu sebagai Role Model dalam Pendidikan Anak di Masa Pandemi Covid-19

Ortu sebagai Role Model dalam Pendidikan Anak di Masa Pandemi Covid-19
* Kepala Laboratorium Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKes) Unsoed Ns.Keksi Girindra Swasti, M.Kep.

Jumlah kasus positif Cobid-19 secara global terus meningkat, situasi itu bersamaan dengan Senin (13/7/2020) tahun ajaran 2020/2021 dimulai.

Pembatasan interaksi fisik yakni dengan cara guru dan siswa bekerja dari rumah, sejauh ini dipandang sebagai metode paling efektif demi mencegah penyebaran wabah Covid-19.

Di tengah pandemi, sebagian besar sekolah melaksanakan sistem bekerja dari rumah (Work From Home / WFH) yakni meniadakan belajar tatap muka langsung, diganti dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan mengandalkan jaringan internet. Walaupun tak sedikit sekolah yang tak mampu menerapkan PJJ dengan baik akibat kurangnya akses internet dan juga adanya kesenjangan yakni ada siswa yang lancar menjalani PJJ, sementara siswa lain kesulitan menjalankannya, ungkap Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum. saat mendampingi pemaparan Dosen Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKes) Unsoed Ns.Keksi Girindra Swasti, M.Kep. (Keksi) Senin (13/07/2020).

Beberapa waktu belakangan menurut Keksi orang tua dibuat galau oleh wacana diberlakukan new normal pada ranah pendidikan. Sebagian orang tua menarik napas lega karena anaknya akan kembali bersekolah yang artinya tugas mereka mendidik anak di rumah akan berkurang.

Namun, tidak sedikit orang tua yang khawatir dengan penerapan kebijakan tersebut. Kekhawatiran itu cukup beralasan karena penambahan kasus baru masih sangat tinggi dengan kisaran 600-700 kasus per hari. Sehingga, akan sangat berisiko membiarkan anak-anak masuk sekolah yang justru dapat membuat kluster baru bagi penyebaran virus Corona.

Hal ini menginisiasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan survei pada orang tua siswa dan tenaga pendidik untuk mengukur kesiapan diterapkannya kebijakan tersebut. Pada akhir bulan Mei 2020 pemerintah secara resmi mengumumkan penundaan masuk sekolah untuk semua jenjang pendidikan.

Kementerian Pendidikan pun hingga saat ini belum dapat memberikan kepastian kapan akan mengaktifkan kegiatan sekolah kembali, jelas Keksi.

Selanjutnya Kepala Laboratorium Keperawatan Jiwa FIKes Unsoed Ns. Keksi Girindra Swasti, M.Kep. memaparkan bahwa tindakan yang dapat dilakukan adalah merancang beberapa alternatif tindakan untuk mensiasati kondisi pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir.

Sejatinya, kapan pun anak-anak akan kembali ke sekolah proses pendidikan pada anak harus terus berlangsung, yang membedakan adalah tempat mereka belajar dan dengan siapa mereka belajar. Belajar tidak dapat dipandang sebagai proses meningkatkan pemahaman kognitif dan intelektual semata, namun juga mencakup penanaman sikap dan nilai-nilai moral, papar Keksi.

Keksi menambahkan, pada kondisi pandemi saat ini, anak-anak dihadapkan pada permasalahan nyata bahwa mereka tidak dapat bersekolah dan harus belajar di rumah. Lantas apa fenomena yang muncul dengan anjuran tersebut?. Pada awalnya anak-anak menyambut gembira kegiatan belajar di rumah, karena mereka dapat bersama orang tua dan memiliki waktu bermain lebih lama.

Namun, tidak banyak anak yang patuh mengikuti anjuran untuk berada di rumah, belajar dan bermain di dalam rumah, serta mengerjakan tugas sekolah secara tertib. Sebagian besar anak merasa jenuh, terlebih dengan waktu belajar di rumah yang terus diperpanjang. Perasaan jenuh membuat anak tergoda untuk bermain ke luar rumah.

“Kejenuhan pada anak dipicu oleh kurangnya kesiapan dan kemampuan orang tua untuk memfasilitasi anak belajar dan beraktivitas di dalam rumah. Tidak jarang orang tua menjadi marah dengan ulah anak yang membuat anak semakin tidak betah berada di dalam rumah,” kata Keksi.

Keksi menjelaskan, oleh karena itu dalam menerapkan sistem pembelajaran di rumah yang harus dipersiapkan bukan hanya pihak sekolah yang mengubah pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran secara daring/online.

Akan tetapi, mempersiapkan orang tua untuk menjadi tenaga pendidik di rumah. Perlu ditanamkan dalam pemikiran orang tua bahwa capaian belajar di rumah bukan sekedar ketuntasan mengerjakan tugas dari sekolah. Namun, lebih pada membangun karakter anak melalui pembiasaan. Gunakan kesempatan yang ada untuk menjalin kedekatan lebih dengan anak sehingga dapat membangun ikatan kasih sayang atau bonding attachment antara anak dan orang, yang pada waktu sebelumnya mungkin tersita dengan aktivitas yang cukup padat.

Berikan perhatian pada anak dengan mendampingi anak belajar, bermain bersama, atau hanya sekedar bercanda dan ngobrol hal-hal ringan. Melibatkan anak dalam melakukan pekerjaan rumah bersama juga memberikan pelajaran besar bagi anak. Melalui aktivitas tersebut anak dilatih keterampilan motorik dan rasa tanggung jawab.

Selain itu, jangan lupa memberikan pujian terhadap setiap kebaikan yang dilakukan oleh anak. Pujian yang diberikan orang tua akan akan membuat anak merasa senang karena dihargai sekaligus memotivasi anak untuk mengulangi perilakunya. Jika ini dilakukan secara konsisten maka akan menjadi sebuah kebiasaan positif. Dengan demikian anak akan melewati masa belajar di rumah sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan dalam hidupnya, dan terbangun figure orang tua sebagai sosok yang bernilai bagi anak.

Selain itu, momen belajar di rumah juga dapat dijadikan kesempatan untuk menanamkan kedisiplinan pada anak. Perlu diketahui bahwa usia anak-anak adalah usia emas tumbuh kembang. Baik dan tidaknya yang dilakukan anak akan sangat dipengaruhi oleh contoh peran atau role model orang di sekitarnya.

Orang tualah role model utama bagi anak. Orang tua memegang kendali penuh terhadap apa yang dilakukan anak. Disaat anak dituntut untuk berada dirumah, orang tualah yang membuat aturan apa yang sebaiknya dilakukan anak.

Jika orang tua mampu mencontohkan untuk tertib menjalani himbauan yang diberikan maka anakpun akan meniru yang dikerjakan orang tuanya.

Begitu pula sebaliknya,jika orang tua tidak menunjukkan sikap disiplin atau menerapkan secara tidak konsisten maka anak pun belajar untuk mencari peluang melakukan pelanggaran disiplin.

Awalnya pelanggaran kecil lama kelamaan menjadi pelanggaran yang dianggap biasa. Awalnya bermain di luar hanya sebentar namun lama kelamaan bermain tanpa batas, hingga akhirnya orang tua kehilangan kendali untuk mengontrol perilaku anak, jelas Keksi.

Keksi menyarankan, marilah kita gunakan kesempatan berharga ini untuk membangun karakter anak-anak kita melalui proses pembelajaran di rumah, sehingga anak kita kelak menjadi generasi yang tangguh karena telah mampu melewati ujian kehidupan yang sesungguhnya.

Sebagaimana diungkapkan oleh tokoh pendidikan terkemuka bahwa keberhasilan pendidikan bukan terletak dari seberapa bagus nilai yang diperoleh namun seberapa mampu ia mengatasi suatu permasalahan, kata Keksi. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.