Nkayakyokarto Ingin Kayakkan Yogya

Obsessionnews.com – Bolehdibilang kayak arus deras (whitewater kayaking) adalah olahraga yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Betapa tidak? Kayaker (red.sebutan bagi pemain kayak) seorang diri hanya ditemani sebilah dayung, menungggangi kayak dengan rekatnya, meluncur mengikuti arus sungai, melewati banyaknya riam dan bebatuan. Jika lengah harus siap terbalik! Kayak pada awalnya adalah kendaraan berburu yang digunakan bangsa- bangsa asli wilayah Amerika Utara (dulu disebut bangsa Eskimo). Salah satu bangsanya Inuit yang mana kata Kayak (Qajaq) diambil dari bahasa mereka. Di wilayah mereka daging yang mereka perlukan sebagai nutrisi dasar adalah mamalia laut (anjing laut, paus, walrus, dll). Karena suhu air di sekitar Kutub Utara sedemikian dingin mereka tak mungkin berenang. Karena itu mereka menciptakan dan membudayakan kayak. Kayak yang asli terbuat dari rangka tulang paus dan kulit anjing laut. Di samping dayung dua bilah yang terbuat dari kayu biasanya seorang Inuit membawa juga bermacam tombak, dan semacam pakaian kulit yang menutup dari kepala hingga pinggang yang ujung bawahnya ditutupkan ke kokpit untuk mencegah air masuk ke dalam kayak. Pakaian ini disebut tuilik.
Belakangan para petualang Eropa mengadaptasinya menjadi kendaraan untuk penjelajahan dan rekreasi. Model adaptasi ini awalnya terbuat dari kayu. Seiring perkembangan zama, teknologi dan diversifikasi kegiatan kayak kemudian dibuatlah kayak dari fiberglass, carbon fiber, plastik, maupun rangka logam ringan. Sedangkan tuilik di ganti dengan versi sederhananya yang hanya meliputi abdomen yang disebut dengan spraydeck atau sprayskirt. Pada pertengahan tahun 90-an, olahraga pemicu adrenalin ini masuk ke Indonesia. Namun, sempat meredup beberapa tahun. Seiring perkembangannya telah membawa kegiatan ini tak sekadar olahraga, tetapi juga hobi dan life style. Komunitas kayak pun banyak bermunculan di berbagai daerah Indonesia, salah satunya komunitas asal Yogyakarta, Jawa Tengah, Nkayakyokarto.
Deky Suwandana, salah satu kayaker Nkayakyokarto mengatakan ide terbentuknya Nkayakyokarto berakar dari olah raga kayak di Yogyakarta awalnya hanya dimainkan beberapa Organisasi Pecinta Alam (OPA) saja, diantaranya Mahasiswa Pecinta Alam UGM (Mapagama) dan Pecinta Alam Psikologi (Palapsi) UGM. Lambat laun, peminatnya semakin bertambah di olah raga dayung yang menggunakan double blades ini. “Awalnya saya hanya meminta untuk diajari oleh temen-teman OPA tersebut. Selang beberapa waktu ada beberapa teman yang memiliki minat yang sama di olah raga ini. Pada saat itu kami (saya, beberapa teman Mapagama dan Palapsi) ngobrol asik sambil ngopi untuk membicarakan mau dibawa kemana kita yang memiliki minat yang sama ini? Akhirnya kami memutuskan untuk membuat wadah komunitas belajar dan bermain kayak yang bisa diikuti siapa saja bernama Nkayakyokarto” ujar pria yang kerap disapa Deky tersebut. Dipilihnya nama Nkayakyokarto, imbuh pria yang bekerja sembari berkuliah di Universitas Janabrada, Yogyakarta, ini, “Iseng mencari nama yang pas saja. Ya mungkin karena kita berada di Yogyakarta yang kental akan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat-nya, kami sepakat memakai nama Nkayakyokarto. Biar keliatan bahwa kami dari Yogyakarta. Dan kami kira nama tersebut cukup seksi jika dibandingkan dengan nama ‘Komunitas Kayak Yogya’ dan sebagainya, hahaha.” Meski baru berdiri pada 10 November 2015 lalu, Nkayakyokarto sudah memiliki 30-40 orang kayaker yang aktif berkegiatan, mulai dari mahasiswa, karyawan swasta, wirausahawan, hingga dosen.
“Mayoritas mahasiswa, ada juga dosen ekspatriat dari Australia bernama Tim. Ia mengajar di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Ada pula yang berpengalaman main kayak hingga ke luar negeri,” kata pria hitam manis itu. Deky mengaku, Nkayakyokarto belum memiliki sistem keanggotaan yang formal, “Kita lebih ke siapa yang mau latihan dan main bareng, ya monggo gabung,” tuturnya. Tak seperti kayak yang digunakan di danau atau laut, untuk kegiatan di sungai maka kayak yang digunakan tidak dibuat dari fiber melainkan dari plastik. Hal ini dikarenakan whitewater kayaking memerlukan bahan yang kuat dan fleksibel untuk menghadapi benturan dengan batu ataupun objek lainnya. Kayak jenis khusus ini dipakai untuk beberapa variasi kayak arus deras seperti riverruning (arung sungai), creeking (lintasjeram), slalom, dan plyboat (freestyle di jeram). Tak seperti arung jeram, seseorang sebelumnya harus betul-betul mempelajari beberapa teknik dasar sebelum terjun langsung ke sungai. Hal ini dikarenakan dengan besarnya tantangan yang ditawarkan, ada resiko cukup tinggi dari kegiatan kayak arus deras. 50% kegiatan kayaking dipastikan melibatkan kayak dalam posisi terbalik. Inilah sebabnya teknik seperti rolling (memutar badan ketika dalam posisi terbalik) dan wet exit (melepaskan spraydeck lalu keluar dari air) harus benar-benar dikuasai sebelum turun ke sungai. Tentunya hal itu terkait konsentrasi dan pengendalian emosi (tidak panik) dalam kondisi tidak nyaman.
Nkayakyokarto menggelar latihan rutin setiap Rabu dan Jumat sore. Lokasinya lebih sering di Lembah UGM lantaran mudah dijangkau. “Tapi kadang kita latihan di luar juga, misalnya Kali Kuning, Selokan Mataram, dan Sungai-Sungai seperti Sungai Elo, Sungai Progo, dan Sungai Serayu. Tujuannya kita ingin merasakan suasana baru dan juga mencari yang ada arusnya,” jelas Deky. Bagi Deky banyak pengalaman menarik yang dialaminya bersama Nkayakyokarto meski berbeda latar belakang, “Sebagian besar dari kami berasal dari OPA yang berbeda dan memiliki culture yang berbeda juga. Sudah jelas untuk menyatukan itu juga agak rumit. Tapi karna kesenangan yang sama ya tidak menjadi halangan buat kami. Semaksimal mungkin kami manfaatkan momentum yang ada di depan kami untuk belajar, bermain dan saling membangun kebersamaan diantara kami,” tandas Deky. Menutup pembicaraan Deky mengungkapkan obsesi Nkayakyokarto, “Karena olah raga kayak masih belom familiar di Yogya lantaran masih terbatasnya fasilitas, obsesi besar kami adalah bisa mengkayakkan Yogya, hehehe. Kalau untuk menjelajahi sungai, kami memiliki obsesi bia mengarungi sungai-sungai dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. Kami menyebutnya di obrolan kami, mengarungi nadi ibu pertiwi,” pungkas Deky. (Naskah: Giattri/WO)
Belakangan para petualang Eropa mengadaptasinya menjadi kendaraan untuk penjelajahan dan rekreasi. Model adaptasi ini awalnya terbuat dari kayu. Seiring perkembangan zama, teknologi dan diversifikasi kegiatan kayak kemudian dibuatlah kayak dari fiberglass, carbon fiber, plastik, maupun rangka logam ringan. Sedangkan tuilik di ganti dengan versi sederhananya yang hanya meliputi abdomen yang disebut dengan spraydeck atau sprayskirt. Pada pertengahan tahun 90-an, olahraga pemicu adrenalin ini masuk ke Indonesia. Namun, sempat meredup beberapa tahun. Seiring perkembangannya telah membawa kegiatan ini tak sekadar olahraga, tetapi juga hobi dan life style. Komunitas kayak pun banyak bermunculan di berbagai daerah Indonesia, salah satunya komunitas asal Yogyakarta, Jawa Tengah, Nkayakyokarto.
Deky Suwandana, salah satu kayaker Nkayakyokarto mengatakan ide terbentuknya Nkayakyokarto berakar dari olah raga kayak di Yogyakarta awalnya hanya dimainkan beberapa Organisasi Pecinta Alam (OPA) saja, diantaranya Mahasiswa Pecinta Alam UGM (Mapagama) dan Pecinta Alam Psikologi (Palapsi) UGM. Lambat laun, peminatnya semakin bertambah di olah raga dayung yang menggunakan double blades ini. “Awalnya saya hanya meminta untuk diajari oleh temen-teman OPA tersebut. Selang beberapa waktu ada beberapa teman yang memiliki minat yang sama di olah raga ini. Pada saat itu kami (saya, beberapa teman Mapagama dan Palapsi) ngobrol asik sambil ngopi untuk membicarakan mau dibawa kemana kita yang memiliki minat yang sama ini? Akhirnya kami memutuskan untuk membuat wadah komunitas belajar dan bermain kayak yang bisa diikuti siapa saja bernama Nkayakyokarto” ujar pria yang kerap disapa Deky tersebut. Dipilihnya nama Nkayakyokarto, imbuh pria yang bekerja sembari berkuliah di Universitas Janabrada, Yogyakarta, ini, “Iseng mencari nama yang pas saja. Ya mungkin karena kita berada di Yogyakarta yang kental akan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat-nya, kami sepakat memakai nama Nkayakyokarto. Biar keliatan bahwa kami dari Yogyakarta. Dan kami kira nama tersebut cukup seksi jika dibandingkan dengan nama ‘Komunitas Kayak Yogya’ dan sebagainya, hahaha.” Meski baru berdiri pada 10 November 2015 lalu, Nkayakyokarto sudah memiliki 30-40 orang kayaker yang aktif berkegiatan, mulai dari mahasiswa, karyawan swasta, wirausahawan, hingga dosen.
“Mayoritas mahasiswa, ada juga dosen ekspatriat dari Australia bernama Tim. Ia mengajar di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Ada pula yang berpengalaman main kayak hingga ke luar negeri,” kata pria hitam manis itu. Deky mengaku, Nkayakyokarto belum memiliki sistem keanggotaan yang formal, “Kita lebih ke siapa yang mau latihan dan main bareng, ya monggo gabung,” tuturnya. Tak seperti kayak yang digunakan di danau atau laut, untuk kegiatan di sungai maka kayak yang digunakan tidak dibuat dari fiber melainkan dari plastik. Hal ini dikarenakan whitewater kayaking memerlukan bahan yang kuat dan fleksibel untuk menghadapi benturan dengan batu ataupun objek lainnya. Kayak jenis khusus ini dipakai untuk beberapa variasi kayak arus deras seperti riverruning (arung sungai), creeking (lintasjeram), slalom, dan plyboat (freestyle di jeram). Tak seperti arung jeram, seseorang sebelumnya harus betul-betul mempelajari beberapa teknik dasar sebelum terjun langsung ke sungai. Hal ini dikarenakan dengan besarnya tantangan yang ditawarkan, ada resiko cukup tinggi dari kegiatan kayak arus deras. 50% kegiatan kayaking dipastikan melibatkan kayak dalam posisi terbalik. Inilah sebabnya teknik seperti rolling (memutar badan ketika dalam posisi terbalik) dan wet exit (melepaskan spraydeck lalu keluar dari air) harus benar-benar dikuasai sebelum turun ke sungai. Tentunya hal itu terkait konsentrasi dan pengendalian emosi (tidak panik) dalam kondisi tidak nyaman.
Nkayakyokarto menggelar latihan rutin setiap Rabu dan Jumat sore. Lokasinya lebih sering di Lembah UGM lantaran mudah dijangkau. “Tapi kadang kita latihan di luar juga, misalnya Kali Kuning, Selokan Mataram, dan Sungai-Sungai seperti Sungai Elo, Sungai Progo, dan Sungai Serayu. Tujuannya kita ingin merasakan suasana baru dan juga mencari yang ada arusnya,” jelas Deky. Bagi Deky banyak pengalaman menarik yang dialaminya bersama Nkayakyokarto meski berbeda latar belakang, “Sebagian besar dari kami berasal dari OPA yang berbeda dan memiliki culture yang berbeda juga. Sudah jelas untuk menyatukan itu juga agak rumit. Tapi karna kesenangan yang sama ya tidak menjadi halangan buat kami. Semaksimal mungkin kami manfaatkan momentum yang ada di depan kami untuk belajar, bermain dan saling membangun kebersamaan diantara kami,” tandas Deky. Menutup pembicaraan Deky mengungkapkan obsesi Nkayakyokarto, “Karena olah raga kayak masih belom familiar di Yogya lantaran masih terbatasnya fasilitas, obsesi besar kami adalah bisa mengkayakkan Yogya, hehehe. Kalau untuk menjelajahi sungai, kami memiliki obsesi bia mengarungi sungai-sungai dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. Kami menyebutnya di obrolan kami, mengarungi nadi ibu pertiwi,” pungkas Deky. (Naskah: Giattri/WO) 



























