Jumat, 7 Agustus 20

Muslim Uighur Ditindas, MUI Prihatin

Muslim Uighur Ditindas, MUI Prihatin
* Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga, Profesor Amany Lubis (Foto: Edwin Budiarso)

Jakarta, Obsessionnews.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengaku prihatin atas penindasan terhadap warga Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China. Kondisi mereka di sana sangat menyedihkan, sampai tidak diberikan kebebasan untuk menjalankan roda perekonomian.

“Saya juga kenal dengan beberapa orang dari asal Asia Tengah, hampir ke Tiongkok, mereka memang tidak diberi kebebasan apapun, tidak diberi kebebasan pendidikan yang layak, untuk menjalankan ekonomi karena agama mereka Islam,” Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga, Profesor Amany Lubis kepada Obsessionnews.com, Selasa (18/12/2018).

Tak hanya itu, penyiksaan, penangkapan, dan penahanan di kamp-kamp konsentrasi yang mirip saat zaman peperangan pun kerap terjadi. Akan tetapi, Amany mengaku tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamp tersebut. “Tidak tahu lagi nasibnya apakah mati begitu saja, tapi umumnya yang saya dengar mereka di kembalikan sebagai jasad kepada keluarganya,” ujar Guru Besar UIN Jakarta ini.

Maka dari itu, upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah memberikan perhatian terhadap Muslim yang berada di belahan dunia khususnya untuk Muslim Uighur. Amany mengaku pernah mendapatkan kesempatan berhaji bersama keluarga dari Uighur, dan menceritakan permasalahan yang dihadapi Muslim di Uighur.

“Sang istri adalah dokter dan yang laki-laki pegawai, maka mereka menceritakan bagaimana penderitaan mereka tidak bisa berkembang walaupun sudah memperoleh pendidikan tinggi, tetapi mereka mau membangun klinik aja susah, jadi mereka bekerja atau hidup dengan apa adanya sebagaimana berjalan, namun tidak ada dukungan dari masyarakat yang lebih luas, apalagi dari pemerintah,” ungkapnya.

Menurut Amany, pemerintah indonesia tentu bisa menyuarakan dengan cara mengambil langkah positif untuk menyatakan keberatan terhadap pemerintah China, walaupun ada hubungan baik dengan pemerintah China, untuk itulah Amany meminta agar pemerintah Indonesia memberikan bantuan dengan cara diplomasi.

“Bantuan dari Indonesia juga berupa diplomasi, kita sangat kuat mempunyai diplomasi publik, diplomasi kultural, diplomasi keagamaan, diplomasi lainnya, ini sangat penting, jadi kita tidak dituduh ikut campur urusan dalam negeri dari Tiongkok, tidak, kita adalah secara manusia yang bebas di atas bumi ini, dan mereka harus mendengar kabar dari kita, bahwa kita peduli terhadapnya,” pungkasnya. (Bal)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.