Minggu, 9 Agustus 20

Merinding dan Menangis! Yang Terpilih Haji Hanya 0,3 % dari Seluruh Dunia

Merinding dan Menangis! Yang Terpilih Haji Hanya 0,3 % dari Seluruh Dunia
* Jemaah melakukan tawaf pada Jumat (31/7/2020) dengan protokol kesehatan dan jaga jarak. (Foto:BBC)

Merinding dan menangis bagi yang terpilih ibadah haji tahun 2020 ini. Hanya 0,3 persen dari calon Jama’ah haji yang mendaftar dari seluruh dunia. Mereka yang terpilih menjadi tamu istimewa Allah dari sekian juta umat hanya mereka yang memenuhi syarat untuk menjadi tamu Allah SWT, Hajj di masa pandemi virus Corona (Covid-19) tahun ini.

Jumlah Jama’ah haji yang hanya 10.000 orang atau 0.33333333 % dari jumlah jama’ah pada tahun-tahun sebelumnya yang mencapai total 3 – 5 juta jama’ah dari seluruh negara.

Jama’ah haji yang bisa menunaikan Haji tahun 2020 adalah penduduk yang bermukim di Saudi Arabia.

Kondisi Arafah sepi, pemandangan yang tak biasa, menurut Dewan Pimpinan Masjidil Haram dan Nabawi. (Foto: BBC)

Jama’ah haji ini dipilih dari hasil seleksi secara online dari website kementrian haji. Dari 2 Juta pendaftar hanya 10.000 orang yang akhirnya terpilih.

 

Untuk kriteria jama’ah haji yang terpilih tidak ada yang tahu kecuali pihak pemerintah. Sempat tersebar rumor bahwa kriteria pemilihannya berdasarkan besarnya pendapatan perbulan dari calon Jama’ah. Karena diperkirakan biaya haji akan mahal. Namun hal itu terbukti “Salah”.
Karena banyak calon Jama’ah yang dengan jenis pekerjaan yang pendapatannya tidak besar, akhirnya terpilih.

Keluarga kerajaan ditambah keluarga pejabat dan keluarga orang-orang penting di Saudi ini, kalau di total mungkin lebih dari 10.000 orang.
Namun Mereka tidak menjadikan momen ini untuk meminta fasilitas agar bisa terpilih sebagai calon jama’ah Haji. Semua sama, harus melalui mekanisme yang telah di tetapkan.

Sistem pemilihan jama’ah haji tidak dapat di intervensi oleh pihak-pihak tertentu.

Biaya haji yang awalnya di perkirakan akan mahal, karena pihak travel akan menaikkan tarif karena jumlah jama’ah yang sedikit, terbukti “salah besar”.

Jama’ah Haji tahun 2020 ini semua GRATIS atas tanggungan pemerintah Saudi Arabia. Dari mulai tiket pesawat, hotel dan logistik selama pelaksanaan ibadah haji.

Kisah Dua WNI Terpilih Naik Haji
Jemaah haji 2020 dalam jumlah terbatas dengan protolol kesehatan ketat disambut Raja Salman Jumat (31/7/2020) dengan doa agar ibadah mereka diterima dan doa agar pandemi virus corona segera berakhir.

“Saya mengucapkan selamat Idul Adha untuk semua…Kita juga berdoa agar jemaah yang mengikuti haji, diterima ibadahnya dan kita berdoa pandemi di negara-negara kita berakhir,” kata Raja Salman melalui akun Twitternya.

Di antara 10.000 jemaah tahun ini, dua warga negara Indonesia yang terpilih- Ata Yahra, dan Irma Tazkiyya – menyebut pengalaman mereka sebagai ‘berkah dan panggilan Allah’.

Jemaah melakukan tawaf mengitari Kabah, di Masjidil Haram, Mekah pada Jumat (31/07), dengan jaga jarak ketat.

Sehari sebelumnya, jemaah berada di Padang Arafah untuk melakukan wukuf, lokasi yang pada tahun-tahun sebelumnya dipenuhi oleh jemaah sekitar 2,5 juta.

Dengan kondisi terbatasnya jemaah, Dewan Masjidil Haram dan Nabawi menyebutnya sebagai “historis dan tidak pernah terjadi sebelumnya, tanpa jemaah, mungkin selama berabad-abad, pada musim haji.”

“Pemandangan bersejarah di Arafah hari ini (Kamis, 30 Juli) dengan jalan-jalan kosong dan hanya beberapa ribu jemaah berada di Masjid Namirah,” kata Haramain Sharifain, Dewan Pimpinan Pusat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, lembaga setingkat kementerian di Arab Saudi melalui akun Twitter, Kamis (30/7).

Ata Yahra melakukan tawaf sambil berlinang. (Foto: AFP/BBC)

Salah seorang WNI yang terpilih berhaji, Ata Yahra mengatakan, “Saya terpilih mengikuti haji khusus karena berkah Allah sebelum meninggalkan Saudi”. WNI yang tinggal di Saudi ini akan selesai bertugas di negara kerajaan ini.

“Allah menyayangi saya, menyanyangi keluarga saya,” kata Ata berlinang sambil menyeka airmatanya saat melakukan tawaf pada Rabu (29/7).

 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Arab Saudi melarang jemaah haji internasional di tengah pandemi Covid-19, dengan jumlah yang ikut tahun ini dibatasi hanya 10.000 orang, sementara tahun lalu sekitar 2,5 juta.

Dari 10.000 calon jemaah, 70% di antaranya adalah warga dari 160 negara yang bermukim di Saudi dan mereka perlu mendaftarkan diri secara online, disaring oleh Kementerian Umrah dan Haji Arab Saudi.

Sementara 30% lainnya adalah warga Saudi sendiri dan diutamakan adalah tenaga kesehatan dan keamanan yang bekerja menangani pandemi Covid-19.

Kasus positif virus corona di Arab Saudi tercatat sebesar lebih dari 270.000 dengan pasien meninggal hampir 3.000, salah satu negara dengan kasus tertinggi di Timur Tengah.

Pengalaman WNI: Protokol kesehatan ketat sejak awal

WNI lain yang terpilih mengikuti ibadah haji tahun ini adalah Irma Tazkiyya.

Seperti jemaah lainnya, ia mengikuti masa karantina empat hari di hotel di Mekah, yang ditetapkan oleh Kementerian Umrah dan Haji Arab Saudi, bersama dengan warga dari 160 negara yang terpilih melalui sistem pendaftaran daring.

Irma Tazkiyya di Padang Arafah Kamis (30/7/2020). (Foto: Afnan Firdaus/BBC)

“Saya sangat bersyukur banget, bisa diterima di haji tahun ini. Masya Allah, segala fasilitas, service selama karantina, bagus banget. Kita ditempatkan satu kamar satu orang, makanan selalu diantar, kalau butuh sesuatu tinggal telepon,” kata Irma melalui suaminya Afnan Firdaus Selasa (28/7).

“Ada tenaga medis di bawah yang stand-by bantu kita untuk masalah kesehatan. Tinggal telepon, tenaga medis akan datang. Masya Allah tabarakallah. Selama karantina di hotel, Alhamdulilah semua sangat memuaskan,” tambahnya.

Irma Tazkiyya, salah seorang WNI yang terpilih, untuk mengikuti ibadah haji tahun ini. (Foto: Afnan Firdaus/BBC)

Ia menambahkan mereka dibagi per 20 orang yang terdiri dari beberapa negara.

Arab Saudi mengumumkan mereka yang terpilih untuk mengikuti ibadah haji yang sangat terbatas ini pada 22 Juli lalu, tanpa ada penjelasan mengapa dipilih ataupun ditolak.

Menurut keterangan dari KBRI ada lagi seorang WNI yang terpilih untuk beribadah haji, seorang guru sekolah Indonesia di Riyadh.

Berkah dan panggilan Allah SWT
Bagi Irma – yang baru pertama kali ini melakukan ibadah haji – saat diumumkan terpilih sempat “berlinang” karena sama sekali tidak mengira.

“Ini semua “berkah dan panggilan Allah SWT” pada saat pandemi virus corona,” kata Irma melalui suaminya Afnan.

“Istri saya terus terang matanya berlinang menceritakan bahwa dirinya terpilih jadi calon haji tahun ini, sambil berharap saya mengizinkan untuk ikut dan membayar biaya yang dikenakan, yang sebenarnya dari awal sudah saya infokan kalau biayanya terlampau tinggi, saya tidak siap mengingat kondisi keuangan yang lagi timpang,” kata Afnan kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

“Yang bikin lebih terharu lagi buat saya khususnya karena ternyata haji kali ini gratis, padahal dari awal sempat tersiar info bahwa kisaran biaya antara 7.000 riyal sampai 13.000 riyal (Rp27 juta sampai Rp50 juta), tergantung pada fasilitas yang dipilih,” tambah Afnan yang bekerja di Konsulat Jendral Indonesia di Jeddah.

Dan ternyata tidak dipungut biaya apapun, bahkan tes swab pun tidak dipungut biaya.”

“Bisa terpilih atau tidak semua murni keberuntungan karena dari awal sudah diinfokan kalau haji tahun ini benar-benar terbatas dan diutamakan kepada tenaga medis dan tenaga keamanan di Saudi yang telah berjuang melawan Covid-19.”

“Jadi sebenarnya istri saya iseng-iseng saja untuk daftar, begitu juga kebanyakan orang karena menyadari presentasi terpilih begitu kecil,” tutupnya.

Afnan sendiri mengatakan tidak ikut mendaftar.

Protokol kesehatan bagi para jemaah terpilih ini adalah karantina empat hari di hotel, sebelum wukuf di Arafah, salah satu ritual ibadah, pada hari Kamis (30/07) dan tujuh hari karantina mandiri, setelah selesai haji.

Persiapan di Arafah sendiri, menurut akun Haramain Sharifain, yang melaporkan persiapan ibadah, “sudah selesai”.

Tak ada penjelasan diterima atau ditolak
Pendaftaran untuk ikut haji dari warga 160 negara yang tinggal di Arab Saudi dilakukan sampai batas waktu tanggal 10 Juli lalu dengan syarat utama, dalam kondisi sehat.

Namun Kementerian Umrah dan Haji tidak menjelaskan berapa banyak yang mendaftar serta tidak ada keterangan mengapa diterima ataupun ditolak.

Eko Hartono, Konsul Jendral Indonesia di Jeddah mengatakan dia dan sejumlah staf KJRI juga ikut mendaftar, namun tidak ada yang lolos.

“Kita pendaftar diberitahu diterima atau tidaknya. Namun di formulir tersebut hanya ditulis, mohon maaf, Anda tidak termasuk yang diizinkan untuk haji tahun ini. Tidak ada penjelasan kena ditolak. Ya kami tidak bisa apa-apa. Cari-cari informasi ke sana ke mari, juga tidak diperoleh jawaban,” kata Eko.

“Kita ikut daftar juga, termasuk pak dubes. Tidak ada yang lolos. Begitu juga dari perwkilan asing lainnya, bahkan staf teknis haji pun tidak lolos,” tambahnya.

Di tengah seleksi ini, Kementerian Dalam Negeri Saudi juga mengumumkan bahwa siapapun yang berada di seputar tempat ibadah, seperti di Mina, Muzdalifah dan Arafah, tanpa izin pada periode haji, akan dikenakan denda sebesar 10.000 riyal (Rp38 juta).

Besaran denda akan naik dua kali lipat bila kembali melakukan pelanggaran.

Kementerian Dalam Negeri Saudi juga menyatakan personel keamanan akan ditempatkan di jalan-jalan di sepanjang tempat ibadah untuk memastikan siapapun yang melanggar peraturan akan dicegat dan didenda. (*/BBC/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.