Minggu, 20 Oktober 19

Menjadi Logam ataukah Buih?

Menjadi Logam ataukah Buih?
* Cahyadi Takariawan. (Foto: Pribadi/Facebook)

Oleh: Cahyadi TakariawanPenulis Buku Seri “Wonderful Family”

 

Dalam kehidupan sehari-hari, ada beragam aktivitas yang dilakukan manusia. Di antara aktivitas tersebut, ada yang membawa kemanfaatan positif bagi kehidupan, namun ada pula yang tidak membawa kemanfaatan, bahkan cenderung membawa kerusakan.

Dalam segala tinjauan, aktivitas yang bermanfaat akan mendapatkan posisi terhormat di tengah masyarakat, sebaliknya segala yang membawa kerusakan akan tercela.

Fitrah manusia mengajak senantiasa melakukan kebaikan, maka setiap titik kebaikan akan senantiasa menghasilkan kemanfaatan dalam cakupan yang sangat luas. Tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali hadirnya berbagai kebaikan lainnya.

Sebaliknya, kejahatan akan melahirkan kesengsaraan dan penderitaan, juga dalam makna yang sangat luas. Kejahatan senantiasa berpotensi menebarkan berbagai sisi kerusakan dalam kehidupan.

Kebaikan tidak akan muncul, kecuali dari prinsip kebenaran (al haq). Sedangkan segala kejahatan adalah manifestasi dari kebatilan (al bathil). Kadang-kadang dalam kehidupan kita menemukan gegap gempita aroma kebatilan dengan segala bentuknya, dan kebenaran yang kesepian.

Seakan-akan yang batil justru memiliki tempat di tengah masyarakat, ketimbang hal-hal yang merupakan manifestasi kebenaran. Fenomena permukaan bisa jadi mendukung pernyataan tersebut, akan tetapi jika kita tengok hakikat yang terdalam, kita menemukan sesuatu yang bertolak belakang.

Ketertipuan manusia atas sesuatu yang lahiriyah atau material, mendorong mereka untuk mengapresiasi semua yang bersesuaian dengan kesenangan syahwat. Padahal apabila pandangan manusia terbatas kepada sesuatu yang bersifat materi, akan membutakan mereka dari hakikat kebenaran.

Karakter khas dari materi adalah tidak mengenal batas akhir kepuasan. Dengan cara apapun, kesenangan lahiriah tidak akan pernah bisa terpuaskan.

Sebaliknya, apabila manusia membuka mata hatinya, akan tampak jelas bahwa kebenaran akan membawa mereka menuju kepada kebahagiaan hakiki. Sesuatu yang tidak akan didapatkan manusia, kecuali dalam cakupan kebenaran.

Allah memberikan perumpamaan yang sangat tuntas mengenai hakikat kebenaran dan kebatilan, sebagai logam dan buih.

“Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di bumi” (Ar Ra’du : 17).

Pernahkah anda perhartikan buih? Dengan sangat mudah anda akan bisa memahami bahwa buih itu benda yang tidak memiliki “nilai” eksistensi. Buih akan segera lenyap, tanpa bekas. Ia tidak bisa dibentuk menjadi sesuatu yang memberikan kamslahatan bagi kehidupan manusia. Berbeda dengan logam, ia bisa dibentuk menjadi beraneka ragam kebutuhan hidup.

Pada sisi yang lain, bisa kita maknai bahwa kebenaran memiliki sifat yang tetap dan kokoh, sebagaimana logam, sedangkan kebatilan memiliki sifat sementara dan rapuh, sebagaimana buih. Antara logam dan buih, sudah barang tentu tidak bisa diperbandingkan kemanfaatannya.

Dengan sangat mudah kita akan memilih besi, apabila diberikan tawaran untuk memilih kemanfaatan dua benda tersebut. Jika tampak fenomena manusia berkeliling di sekitar buih, menandakan mereka tertipu oleh pesona buih.

Apakah yang akan kita lakukan jika kita memiliki lautan buih, dan apa pula yang bisa kita lakukan jika memiliki persediaan logam sebanyak itu ? Tentu banyak sekali perbedaannya. Segala kebatilan, sebanyak apapun, tidak akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Sedangkan kebaikan, sekecil apapun, akan selalu menghasilkan karya dan kemanfaatan bagi manusia.

Sekarang lihatlah dalam kegiatan dalam kehidupan keseharian anda. Adakah aktivitas logam yang banyak anda kerjakan, ataukah aktivitas buih ? Apakah kegiatan hidup anda banyak membawa kemanfaatan bagi kehidupan manusia ataukah justru menjadi sampah bagi peradaban ?

Jika aktivitas logam yang banyak anda lakukan, maka akan cenderung mendapat posisi terhormat, bukan saja di hdapan manusia, namun yang lebih penting adalah di hadapan Allah.

Namun jika banyak aktivitas buih yang anda lakukan, bersiaplah untuk tersingkir dan punah dari kehidupan, karena anda tak lebih dari buih yang akan segera lenyap.

Wallahu a’lam.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.