Selasa, 30 November 21

Mengapa Hollywood Hindari Adegan Seks dalam Film?

Mengapa Hollywood Hindari Adegan Seks dalam Film?
* Adegan film Hollywood. (Getty/BBC)

Masyarakat menjadi lebih terbuka secara seksual, namun adegan seks di film bioskop justru semakin sedikit. Apakah film benar-benar memasuki zaman puritan baru?

Adegan saat Fred MacMurray terobsesi dengan gelang kaki Barbara Stanwyck di Double Indemnity.

Pertengkaran rumah tangga Viggo Mortensen dan Maria Bello melebur dalam seks yang penuh nafsu dan agresif di tangga dalam A History of Violence.

Juga kemesraan Kim Basinger dan Mickey Rourke di lantai dapur dalam film 9½ Weeks.

Ini hanya tiga contoh hasrat membara di layar lebar, dari sekian banyak adegan sepanjang sejarah sinema.

Dari tatapan bertukar pandang seksi atau cumbuan panas, di dalam seprai atau dengan ketelanjangan frontal penuh, seksualitas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman sinematik, karena seks adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita.

Menolak seks dan seksualitas di bioskop sama dengan menyangkal kemanusiaan kita yang utuh. Tapi apakah kini pembuat film semakin menghindari erotisme?

Musim panas ini, menjelang pemutaran perdana filmnya yang berjudul Benedetta di Festival Film Cannes, pembuat film veteran Paul Verhoeven diwawancara oleh Variety.

Ditanya mengapa film-film seperti film thriller erotis tahun 1992 buatannnya, Basic Instinct, tidak lagi dibuat di Hollywood, Paul berkata:

“Ada pergeseran umum ke arah puritanisme. Saya pikir ada kesalahpahaman tentang seksualitas di Amerika Serikat.

“Seksualitas adalah elemen paling penting dari alam. Saya selalu heran ketika orang-orang terkejut dengan seks di film.”

Bagi beberapa kritikus film yang beberapa waktu belakangan meratapi apa yang mereka anggap sebagai puritanisme baru Hollywood, ucapan Verhoeven terasa seperti pembenaran.

Bagaimanapun, Verhoeven membantu membentuk film thriller erotis 90-an, dan dia adalah pembuat film yang tertarik pada seksualitas sejak awal.

Dia mulai membuat film di negara asalnya, Belanda, pada akhir 1970-an.

Dia pindah ke arus utama Hollywood dengan tetap mempertahankan seleranya yang mendobrak batas, dari adegan interogasi Basic Instinct yang terkenal hingga kevulgaran Showgirls (1995), hingga drama terbarunya tentang persetujuan seksual, Elle (2017).

Verhoeven jelas juga tidak kehilangan sentuhan transgresifnya: di Festival Film New York tahun ini, satu kelompok Katolik datang untuk memprotes bagaimana dia menggambarkan biarawati lesbian abad ke-17 di Benedetta.

Bisa dibilang, Verhoeben tahu bagaimana menggambarkan seks di film. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.