Selasa, 20 Agustus 19

“Membingkai Bayang-bayang”, Catatan Inspiratif Sang Rektor

“Membingkai Bayang-bayang”, Catatan Inspiratif Sang Rektor
* Buku “Sutarto Hadi, Membingkai Bayang-Bayang”. (Foto: Sutanto)

Membaca dan menyimak perjalanan karier Prof. Sutarto Hadi dari seorang dosen hingga menjadi rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dalam buku bertajuk “Sutarto Hadi, Membingkai Bayang-Bayang” sungguh sangat menarik.

Buku yang diterbitkan PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia ini merupakan gabungan dari tulisan-tulisan lamanya yang ditambahkan dengan beberapa pengalaman baru dari perjalannya ketika kembali menjadi rektor ULM hingga memperjuangkan ULM mencapai akreditasi A.

Pesan yang ingin disampaikan Sutarto adalah agar para pembacanya dapat belajar lebih lagi bahwa dalam mengejar suatu hal selalu butuh proses dan tidak bisa semudah membalik telapak tangan. Memang, lanjutnya, pasti akan semakin sulit, tapi kelak pada akhirnya akan memetik hasil yang manis.

Membaca buku ini dengan ketebalan 368 halaman, ini dari awal hingga akhir memang sarat dengan nilai-nilai inspiratif dan pencerahan karena di dalamnya ada asa dan cita, pemikiran dan gagasan, yang menggugah semangat bagi siapapun yang membacanya. Hal itu bisa disimak dari bab per bab isi buku yang kata pengantarnya diberikan oleh Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir, S.E., A.K., Ph.D. ini.

Dalam bab-1 ia menulis, antara lain tentang eksistensinya sebagai profesor matematika pertama di ULM yang dua kali dipercaya menjadi rektor setelah pernah gagal menjadi ketua jurusan. Lengkap tentang intrik-intrik politik di kampus dan bagaimana musibah yang menimpanya saat menjelang pemilihan rektor.

Di bab-2 ia mengulas tentang posisinya sebagai juru warta dan perjalanannya menimba ilmu di Belanda dan bagaimana kenangannya dengan Hakim Agung Abdurrahman.

Pada bab-3, ia bercerita tentang bagaimana merajut empati dan merebut hati dan mengenai banyak sisi tentang ilmu matematika. Ada gambaran yang ia berikan tentang matematik itu sendiri. Di mana menurut Sutarto, matematika merupakan suatu ilmu yang banyak dianggap sulit bagi sebagian besar orang baik dari level pendidikan sekolah dasar hingga universitas. Hal inilah yang membuatnya mencoba untuk mempelajari tentang matematika realistis yang mampu membawa matematika menjadi mata pelajaran yang menyenangkan.

“Salah satu kuncinya adalah dengan cara mengurangi sifat abstraksi dari matematika itu sendiri,” katanya.

Ia ingin agar sesuatu yang abstrak di dalam matematika bisa dibayangkan dan kemudian menjadi sesuatu yang konkrit di dalam pikiran.

“Misalnya demokrasi, orang tidak bisa melihat dan tidak bisa merabanya, tapi bisa membayangkan apa yang dimaksud dengan demokrasi. Benda adalah suatu yang konkrit, sebab bisa dilihat dan diraba. Nah matematika juga harus seperti itu, diubah sifat yang abstrak itu jadi sesuatu yang konkrit,” terangnya.

Kemudian di bab-4, Sutarto memberikan tajuk “Kepedulian Membawa Berkah Menjelajah 1001 Daerah”. Baru kemudian di bab-5 ia menulis mengenai impiannya membawa ULM menjadi kampus yang terbilang dan terpandang. Kemudian, di bab terakhir, yakni bab-6, ia memberikan judul “Menata Hati: Olah Rasa dan Olah Pikir”.

“Membingkai Bayang-Bayang”, seperti diakui Sutarto sendiri, memang akan sangat tergantung dari sudut pandang orang yang menilainya. Namun yang pasti itu adalah sebuah proses perjuangan hingga berhasil. Dan, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan, melainkan perlu keteguhan dan sifat tangguh serta tidak mudah putus asa sebagai landasan utama.

Karenanya, dalam bukunya yang kelima ini Sutarto juga mencurahkan pemikirannya agar para pembaca bisa membingkai bayang-bayang di dalam pikiran mereka yang masih abstrak tersebut menjadi sesuatu yang konkrit.

“Bayang-bayang itu kan bisa berupa cita-cita, keinginan, dan tujuan hidup. Kita serahkan pada pembaca untuk menafsirkan,” ucapnya.

Namun, seperti kata Menteri Riset dan Dikti Mohamad Nasir yang sudah lama mengenal Sutarto Hadi bahwa ilmu dan pembelajaran serta wisdom Sutarto Hadi selama puluhan tahun berkarir di dunia akademisi layak ditularkan ke generasi milenial sekarang. (Sahrudi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.