Sabtu, 4 April 20

Melacak Nasab Politik dan Ideologi Nadiem Makarim

Melacak Nasab Politik dan Ideologi Nadiem Makarim
* Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. (Foto: Kemendikbud)

Oleh: Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute

 

Mengulas Nadiem Makarim mau nggak mau harus flash back kiprah Nono Anwar Makarim, praktisi hukum dan kolumnis majalah Tempo dan beberapa media tersohor pada zamannya. Dialah ayah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita saat ini.

Nono yang asli Pekalongan, Jawa Tengah, ini merupakan aktivis mahasiswa di era 1966. Seangkatan dengan Arief Budiman, Fikri Jufri, Salim Said, Rahman Toleng, Goenawan Mohamad, Marsilam Simanjuntak, dan Sarwono Kusumaatmaja.

Menariknya sebagai para aktivis satu geng, mereka ini tidak tergabung dalam organisasi mahasiswa ekstra kampus seperti HMI, PMII, GMNI atau GMKI dan PMKRI. Mengklaim dirinya sebagai kelompok independen, mereka ini tergabung dalam Serikat Organisasi Mahasiswa Lokal atau Somal.

Somal sejatinya hanya bungkus atau cangkang saja. Dalemannya adalah gado-gado dari orang orang liberal, sosialis kanan atau sosialis demokrat yang gaya hidupnya kebarat-baratan, atau bisa juga orang-orang Islam namun pola pikir dan gaya hidupnya sekuler.

Di tataran keorganisasian yang berbasis Somal di Jakarta mereka biasanya bergabung dengan Imada (Ikatan Mahasiswa Djakarta). Kerap diplesetkan jadi Ikatan Mahasiswa Dansa Dansi.

Di Bandung Rahman Toleng, Sarwono Kusumaatmaja, Arifin Panigoro, tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Bandung (IMB).

Baik Imada maupun IMB praktis dalam kiprahnya nggak berbeda dengan organ-organ mahasiswa ekstra kampus seperti HMI atau GMNI. Secara periodik bikin latihan dasar kepemimpinan dalam satu rangkaian dengan rekrutmen anggota baru dan penggemblengan ideologi.

Artinya, meski para eksponen Somal mengklaim independen, sejatinya mereka pada dasarnya ideologis dan politis. Malah lebih eksklusif dibanding HMI, PMII dan GMNI.

Pola perekrutan anggota, modus yang dipakai ini unik, mengikuti pola yang diterapkan Sutan Sjahrir, ketika menyusun kelompok pendukungnya yang kemudian tergabung dalam Partai Sosialis Indonesia atau PSI. Haluan ideologisnya adalah sosialis demokrat yang meruncing ke kanan. Yaitu sosialis kanan atau yang sekarang disebut neolib.

Uniknya di mana? Perkawanan dan nasab lebih dulu dari mahzab dan ideologinya. Gaya hidup mendahului ideologinya.

Dari rahim inilah pada era 1960-an lahir anak anak muda yang saya sebut tadi. Antara lain Nono Anwar Makarim.

Banyak dari kelompok ini kemudian jadi orang beken di bidang masing-masing. Arief Budiman, Nono Makarim, dan kelak Sjahrir (bukan Sjahrir ketua PSI) kelak jadi pakar lulusan Harvard. Salim Said setelah lama jadi wartawan kemudian menjadi doktor ilmu politik dan militer. Goenawan Mohamad jadi big bos majalah Tempo bersama Fikri Jufri.

Mereka ini karena produk dari sebuah kelompok dan organ gado-gado yang mengutamakan perkoncoan dan gaya hidup ketimbang ideologi atau nasab, kemudian menjelma jadi urban sub culture. Sebuah kelompok yang merupakan sub budaya perkotaan dan metropolis. Gaya hidup snob dan hedon. Kebarat-baratan. Dan sekuler. Dari sinilah lahirnya Nadiem Makarim.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.