Rabu, 12 Agustus 20

Masyarakat Diminta Edukasi Anggota Keluarga Supaya Melek Digital

Masyarakat Diminta Edukasi Anggota Keluarga Supaya Melek Digital
* Ilustrasi era digital. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.com Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran belum juga kelar. Banyak pihak menyarankan supaya inisiatif dilakukan di tingkat masyarakat.

Masyarakat bahkan sebaiknya melihat keadaan ini sebagai kesempatan untuk mengedukasi anggota keluarga supaya melek digital.

“KPI terus mengupayakan agar regulasi penyiaran ini segera dibentuk,” kata Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Agung Suprio dalam keterangan tertulisnya yang diterima obsessionnews.com, Sabtu (11/7/2020).

Menurutnya, bentuk-bentuk penyiaran makin marak dilakukan melalui sosial media. Sementara, aturan yang ada belum bisa dijadikan pengawal dalam menjaga agar konten-konten tersebut tidak mengganggu kepentingan publik.

Agung menyarankan agar UU tersebut mengatur hal-hal yang makro saja. Ketentuan lebih detil dan teknis dapat dibuat dalam bentuk peraturan pemerintah. Salah satu ide itu ia usulkan agar proses penyusunan RUU Penyiaran bisa lebih cepat rampung.

Harapan yang sama pun disampaikan Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Yadi Hendriana. Menurut dia, semakin cepat landasan hukum itu terbit, akan semakin baik juga bagi kerja-kerja jurnalistik.

Sebab revolusi teknologi digital memang tak mungkin dibendung dan tentu berimbas juga industri pers, termasuk pertelevisian.

“Apalagi, media sosial sangat lekat dengan jurnalistik dan menyediakan ruang yang besar untuk penyiaran,” ujar Yadi.

Kendati begitu, dia sepakat bahwa publik tidak harus bersandar pada regulasi dan semata-mata pasif menuggu aturan dari pemerintah. Kemajuan teknologi membawa banyak manfaat. Publik sebenarnya mendapat keuntungan karena informasi mendorong transparansi, misalnya.

“Yang penting, pembuat content memeriksa kembali apa impact atau dampaknya bila sebuah informasi diposting ke media sosial,” katanya.

Ini menjadi filter utama untuk memastikan apakah informasi tersebut layak disebarkan atau tidak. “Bila dampaknya negatif, lebih jangan disebarkan,” lanjut Yadi.

Sementara itu, praktisi kehumasan sekaligus dosen dari Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR Rizka Septiana mengatakan, memang belum diajarkan bagaimana menggunakan media sosial dengan baik, dengan kondisi pandemi covid-19 ini.

“Kita dituntut untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Banyak yang bergurau covid-19 ini bisa disebut sebagai bapak transformasi internet loh, tapi benar juga ya,” ujar Rizka.

Karena itu, potensi munculnya dampak negatif memang besar mengingat media sosial dapat menjangkau audiens yang jauh lebih luas dan bila informasi keliru tersebar bisa bergulung-gulung bak bola liar (viral).

“Hal ini menjadi pekerjaan rumah kita semua. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, kita harus turut berkontribusi aktif,” ucapnya.

Di tengah proses penyusunan aturan mengenai penyiaran melalui sosial media, menurutnya, masyarakat dapat melihat situasi tersebut dengan kacamata yang lebih positif.

Keluarga menjadi salah pintu masuk yang sangat bermanfaat. “Mulailah dari keluarga dan diri sendiri,” ujar Rizka menyarankan tiap orang mengedukasi keluarganya.

Menurut dia, langkah ini lebih produktif dan berguna dalam menyikapi kemajuan teknologi serta luasnya desakan untuk melakukan literasi digital.(Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.