Minggu, 19 September 21

Marak Kekerasan Anak, Diusulkan Pusat Rehabilitasi Khusus

Marak Kekerasan Anak, Diusulkan Pusat Rehabilitasi Khusus
* ilustrasi. (ist)

Semarang, Obsessionnews – Komisi Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak (KPK2BGA) mengusulkan pendirian pusat rehabilitasi khusus anak korban kekerasan seksual kepada pemerintah provinsi Jawa Tengah. Usulan ini muncul sebagai respon atas kejahatan seksual anak usia dini.

Ketua KPK2BGA Jawa Tengah Soka Handinah Katjasungkana mengatakan, di era ini, kasus kekerasan seksual sudah masuk tahap mengkhawatirkan. Pasalnya, jumlah kasus kejahatan seksual anak selama semester I 2015 meningkat tajam sebanyak 565 kasus.

“Itu baru temuan kasus sepanjang Januari-Juni saja. Di luar itu kami masih terus mendata korban-korban kekerasan yang enggan melaporkan kasusnya,” ungkap Soka, kepada wartawan di kantornya Jalan Pamularsih Semarang, Senin (30/11/2015).

Temuan kasus didominasi aksi pemerkosaan, pencabulan, persetubuhan hingga perdagangan anak untuk disetorkan ke jasa protistusi. Terdapat pula kasus sodomi terhadap anak laki-laki.

“Mirisnya lagi aksi pelecehan seksual juga dilakukan pelaku yang masih tergolong anak-anak. Makanya kami sangat prihatin dan mendorong adanya sistem rehabilitasi terpadu bagi anak korban kekerasan seksual di Jawa Tengah,” kata dia.

Pihaknya mengkhawatirkan muncul pelaku kejahatan gaya baru di masa mendatang jika seluruh kasus kekerasan seksual tidak segera ditangani. Sebab, anak laki-laki yang jadi korban kejahatan seksual berubah menjadi pelaku di kala dewasa. Demikan dengan korban perempuan yang mengalami adiktif seksual akan menjadi PSK kala beranjak dewasa.

“Karena itulah, urgensitas untuk membuatkan panti rehab bagi korban sangat mendesak. Kalau tidak diatasi, sama saja membiarkan anak kita menjadi korban kekerasan seksual,” ujarnya prihatin.

Panti rehabilitasi terpadu, lanjutnya, akan melibatkan tim psikolog guna membangun sistem mencegah anak mengalami trauma lebih dalam. Nantinya, panti rehabilitasi ini tidak hanya menangani masalah psikis melainkan juga pengaruh sosial masyarakat mengingat banyak korban yang selama ini disudutkan.

“Saat ini sudah ada pihak-pihak yang bekerjasama dengan kami dan tinggal menunggu action dari Gubernur Ganjar,” terang dia.

Lokasi ideal rehabilitasi diusulkan dibuat di gedung Bakorwil yang tersebar di enam Karesidenan. “Jadi anak-anak di ujung provinsi bisa direhab di dekat tempat tinggalnya,” imbuhnya seraya mengakhiri wawancara. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.