Sabtu, 11 Juli 20

Manajemen Pangan Rasulullah SAW, Model Manajemen untuk Mengontrol Spekulan dan Mafia Pangan

Manajemen Pangan Rasulullah SAW, Model Manajemen untuk Mengontrol Spekulan dan Mafia Pangan
* Prof. Dr. U. Maman Kh., S.S., M. Si. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Prof. Dr. U. Maman Kh., S.S., M. Si, Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian, Program Magister Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Rasulullah SAW sebagai kepala negara tidak hanya mengalokasikan lahan sebagai pusat produksi pangan, dan bertanggung jawab menghasilkan pangan pokok yang mencukupi kebutuhan penduduk, melainkan beliau mengontrol rantai pasok dan distribusi pangan tersebut agar sampai kepada penduduk yang membutuhkannya. Dengan memanfaatkan lahan milik negara (tanah fai) di kawasan Khaibar dan bekerja sama dengan Yahudi dengan skim al-musaqoh, Nabi Muhammad SAW memperoleh kurma, kacang-kacangan, gandum, dan sereal sebagai bagian dari kerjasama bagi hasil dengan Yahudi. Hanya saja, belum terdapat sumber yang menyebutkan jumlah tonase produk pangan yang dihasilkan dari Khaibar.

Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam sebagai salah satu sumber legal bagi tindakan Muhammad SAW yang mengandung proses pembentukan hukum (tasyri) menyebutkan bahwa Rasulullah SAW membagikan produk pangan dari Khaibar kepada penduduk yang membutuhkannya. Cerita yang sampai pada kita melalui sirah Nabawiyyah tersebut (Al-Muafiri, 2003) menyebutkan bahwa Rasulullah membagikan produk Khaibar kepada kaum muslimin yang berpartisipasi dalam Perjanjian Khudaibiyyah, bagi mereka yang ikut serta dalam Perang Khaibar, dan bagi kaum muslimin yang membutuhkan. Diceritakan, keluarga Usamah bin Zaid memperoleh 200 wasaqs; Aqil bin Abu Thalib memperoleh 140 wasaqs; putera-putera Jakfar mendapat bagian 50 wasaqs; Rabiah bin Al-Harits memperoleh 100 wasaqs; As-Shalt bin Markhamah dan dua puteranya mendapatkan 100 wasaqs; Qais bin Markhamah memperoleh 30 wasaqs; Abu Al-Qasim bin Markhamah mendapat 40 wasaqs; dan individu-individu lain memperoleh bagiannya masing-masing.

Pengawasan Nabi Muhammad terhadap distribusi dan alokasi pangan tidak hanya sampai pada tindakan di atas. Dalam keadaan sakit – yang membawanya meninggal dunia – Nabi Muhammad SAW berwasiat agar kelompok Rahawiyyīn, Al-Dāriyyīn, Al-Shubaiyyīn, dan Al-Ashariyyīn, masing-masing dari mereka agar memperoleh 100 wasaqs dari gandum Khaibar. Umar bin Khaththab mengakui dan memperhatikan wasiat ini, dan sebagai kepala negara Umar melaksanakannya (Al-Muafiri, 2003). Perlu diketahui bahwa “wasaq” merupakan ukuran berat yang populer bagi masyarakat Arab tradisional, terutama sangat popular dalam pembahasan fiqh, di mana setiap satu “wasaq” sama dengan 130,56 kg.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.