Rabu, 21 Oktober 20

Maman Abdurrahman Terapkan Filosofi Hidrokarbon dalam Berpolitik

Maman Abdurrahman Terapkan Filosofi Hidrokarbon dalam Berpolitik
* Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI, Maman Abdurrahman. (Foto: Sutanto/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.com – Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI, Maman Abdurrahman mengaku di panggung politik nasional memegang teguh filosofi hidrokarbon.

“Saya memegang teguh filosofi
hidrokarbon,” ujarnya dikutip dari majalah Men’s Obsession, Sabtu (26/9/2020).

Di usianya yang baru menginjak 40 tahun ini, kiprah Maman di panggung politik nasional tak bisa dipandang sebelah mata. Politisi muda Partai Golkar ini dipercaya menjadi wakil rakyat bahkan telah menduduki sejumlah jabatan strategis di partai yang dinakhodai Airlangga Hartarto tersebut.

Menariknya lagi, kehadiran Maman di kancah politik mampu mendobrak stigma Partai Golkar sebagai partai yang antriannya panjang dan tidak ramah kepada anak muda.

Dalam perjalanannya di partai berlambang pohon beringin ini, Maman pun mencoba mengarungi badai besar. Meski tak sedikit yang kecewa akan keputusannya, tapi ia tetap pada pendiriannya karena bagi pria berpostur tinggi ini partai Golkar bisa memberikan ruang demokratisasi dan kesempatan kepada siapapun.

“Pada setiap periodesasi, Ketua
Umum Golkar berganti-ganti, artinya
partai ini dinamis. Kalau soal antrian
panjang tergantung kapasitas kadernya,”
tegas Maman.

Dia mengungkapkan, kalau dirinya masuk Partai Golkar karena rekomendasi si A, si B, si C, itu biasa saja. “Tetapi, saya ingin melakukan hal yang berbeda dari orang, kebanyakan,” ucapnya.

Tak hanya itu, Maman pun membuat gebrakan dengan mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI).

“AMPI adalah Kawah Candradimuka-nya Golkar. Rata-rata elit politik adalah jebolan sana. Ini aneh dan agak membuat heboh karena saya bukan kader Golkar, belum pernah jadi pengurus AMPI, dan saya tidak kenal dengan orang-orang Golkar. Salah satu lawan kuat saya adalah Dave Laksono, putra Agung Laksono,” ujarnya.

Takdir belum berpihak kepadanya, Maman pun harus menelan pil pahit kegagalan. Namun, ia tidak kecewa. Melainkan ia mengambil pelajaran bahwa di dalam berpolitik itu tidak hanya bermodalkan visi dan misi, tetapi harus punya strata.

“Partai ini mengajarkan kita untuk berproses terlebih dahulu,” ujarnya.

Dalam hidupnya, Maman juga mengemban filosofi hidrokarbon. Dia menjelaskan, minyak dan gas bumi dapat menjadi sesuatu yang berharga karena telah melewati fase kehidupan yang sangat keras.

Di dalam bumi semua mengenal tiga indikator, yakni pressure (tekanan) yang besar, temperature (suhu) yang sangat tinggi, dan time.

“Begitupun dalam kehidupan sehari-hari, kalau kita mendapat tekanan yang begitu besar, energi yang sangat tinggi, dan mengalami waktu yang lama, kita tidak perlu berkecil hati karena pada hakikatnya Allah SWT sedang mempersiapkan kita menjadi sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini,” ungkap Maman.

Pasca itu, Maman akhirnya bergabung di organisasi AMPI DPP Partai Golkar. Dari situlah awal karir politik di Golkar sebagai salah satu pengurus DPP yang saat itu dipimpin Dave Laksono.

“Prinsip saya, selama kita punya kemauan dan keinginan dan didasari dari niat baik pasti akan ada jalan. Yang terpenting adalah setiap kemauan dan keinginan itu jangan pernah mati dan terus berkarya,” ujarnya.

Mungkin karena prinsip itu, kata Maman, DPP Partai Golkar memercayainya sebagai satu di antara figur anak muda dari Kalimantan, khususnya Kalbar di beberapa struktur dan akhirnya menjadi Wasekjend DPP Golkar. Semua urusan pemilu di daerah Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat memang menjadi tanggung jawabnya.

“Partai Golkar adalah partai yang berbasiskan karya, memang harus diakui bukan hal mudah untuk bisa mendapatkan posisi seperti ini di DPP Golkar yang persaingannya luar biasa ketat,” timpalnya.

Pada tahun 2014, Maman maju sebagai calon legislatif dan gagal. Dia mengaku, hal itu kegagalan yang kesekian kali dalam hidupnya. Namun, dia tidak mengutuk atas kegagalan itu.

“Yang ingin saya sampaikan adalah kamu tidak akan merasa berhasil kalau belum merasakan kegagalan,” paparnya.

Dia menjelaskan, tidak akan tahu terang kalau belum pergi ke tempat gelap, dan tidak akan tahu rasanya manis kalau belum pernah merasakan pahit.

“Artinya, gagal itu dibutuhkan untuk sebuah syarat merasakan berhasil,” ungkap pria yang pernah menjadi Tenaga Ahli Kementerian Sosial RI ini.

Hingga suatu ketika, di Dapil-nya ada anggota yang terlibat kasus, ia pun ditunjuk menjadi anggota DPR melalui
proses pergantian antar waktu (PAW)
pada awal tahun 2018.

“Saya meminta rekomendasi partai
untuk ditempatkan di Komisi VII yang
membidangi energi, pertambangan, dan
sumber daya mineral. Ini sesuai dengan
keahlian saya,” ungkapnya.

Pada 2019 lalu, Maman kembali
maju dari Dapil Kalbar I. Ia berhasil
menjadi satu di antara delapan anggota
DPR DPR RI terpilih dari Dapil Kalbar I,
dengan mengantongi 108.520 suara, ia
mengungguli caleg-caleg lain di Partai
Golkar Kalbar.

Ia pun dipercaya menjadi Kapoksi
VII Fraksi Golkar. Tak hanya itu, ia juga
diberi amanah menjadi Ketua Badan
Pemenangan Pemilu (Bappilu) Pusat
Partai Golkar dan terpilih menjadi Ketua
DPD Golkar Kalbar.

“Saya berhasil mematahkan stigma
Golkar tidak ramah dengan anak muda.
Kalau kita memang memiliki kapabilitas,
keseriusan, terus mau mengintrospeksi
diri, dan tidak pernah menyalahkan
orang lain di balik kegagalan kita,
Insyaallah semua keberhasilan itu akan
datang,” tegas Maman. (Gia/Men’s Obsession/Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.