Kamis, 2 Desember 21

Majalah Charlie Hebdo Bikin Marah Kota Amatrice

Majalah Charlie Hebdo Bikin Marah Kota Amatrice

Amatrice, Obsessionnews.com– Pasca gempa yang melanda kota Italia di bulan lalu membuat majalah Charlie Hebdo mengambil langkah hukum dalam sebuah kartun. Melalui kartunnya, majalah ini di gugat.

Charlir Hebdo menggambarkan para korban sebagai hidangan pasta. Hingga akhirnya Masyarakat Amatrice, tempat tinggal sebagian besar dari 295 korban tewas saat gempa melanda ini melaporkan majalah mingguan satir Prancis ini masuk dalam perkara penghinaan.

Gambar dalam majalah tersebut berjudul Lasagna, tampak tumpukan puing-puing dengan kaki-kaki berdarah bermunculan dari sela-selanya. Kartun kontroversial Charlie Hebdo, yang berjudul ‘Gempa Gaya Italia’menunjukkan seorang pria berlumur darah yang digambarkan sebagai saus tomat penne, sementara seorang perempuan yang terluka digambarkan sebagai penne gratinee, dan jasad-jasad yang ditumpuk antara lapisan puing digambarkan sebagai lasagna.

Sebagai tanggapan, Charlie Hebdo merilis kartun kedua, dengan keterangan “Rakyat Italia … bukan Charlie Hebdo yang membangun rumah-rumahmu, melainkan Mafia!”

amatrice1

Mario Cicchetti, pengacara Amatrice, mengatakan kartun itu “mengerikan, tidak berperasaan dan tidak bisa dimengerti” dan menunjukkan “penghinaan bagi korban bencana alam”. Jika laporan itu diterima pengadilan, dan majalah Prancis dihukum, mereka bisa dipaksa untuk membayar ganti rugi dalam gugatan perdata terkait.

“Berapa pun ganti rugi yang diputuskan pengadilan, akan sepenuhnya diserahkan kepada korban gempa,” kata Cicchetti.

Hingga saat ini majalah tersebut enggan memberi komentar. Tidak hanya persoalan terkait gambar ‘Lasagna’, majalah ini juga sebelumnya pernah menjadi kontroversi seperti pada serangan Januari 2015 terkait dengan pemuatan kartun Nabi Muhammad ditanggapi dengan menerbitkan kartun lain.

Selain itu beberapa waktu lalu mereka memicu kemarahan global saat menerbitkan sejumlah kartun yang dianggap menghina Alan Kurdi, bocah pengungsi Suriah yang tewas di tepi pantai. (Aprilia Rahapit/BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.