Kamis, 28 Mei 20

Majalah AS: Nabi Muhammad yang Pertama Kenalkan Lockdown

Majalah AS: Nabi Muhammad yang Pertama Kenalkan Lockdown
* Dr. Craig Considine
Sebuah laporan media majalah Amerika Serikat (AS) “Newsweek” memicu reaksi besar di jagat maya khususnya medsos, di mana penulisnya, Dr. Craig Considine mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah “yang pertama” menyarankan karantina kesehatan (lockdown) dan kebersihan diri dalam kasus pandemi.

Setiap kali ada bencana, krisis, atau epidemi di dunia, mereka ingat Islam dan utusan Islam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallama, sementara di waktu-waktu yang lain mereka tidak mengingatnya. Sebaliknya, mereka banyak melakukan kejahatan terhadap kaum Muslim. Padahal Al-Qur’an dan Rasulullah (as-Sunnah) kaya akan nasihat-nasihat yang baik sebagai pelajaran.

Sungguh yang paling utama bagi para cendekiawan itu adalah mengatakan kebenaran ilahi, dan jika mereka tidak tahu akan hal itu, maka seharusnya mereka bertanya, tetapi apa yang terjadi bahwa mereka hanya mengingat kebenaran ilahi ketika terjadi bencana, malapetaka, dan krisis. Hari ini setelah kemunculan epidemi Corona, mereka ingat dengan utusan Islam, dan cara bagaimana beliau menangani epidemi, dan proses karantina (lockdown) yang pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama, dan kebersihan dalam Islam

Ketika delegasi Kristen datang kepada Amirul Mukminin Harun al-Rasyid, maka beliau memerintahkan delegasi itu untuk mandi agar bau yang tidak enak hilang dari mereka. Tentu Khalifah tidak mungkin berkata demikian pada mereka, kecuali pada saat itu pemandian uap sudah begitu dikenal di negara Khilafah. Sedang pemandian Turki masih ada hingga zaman kita ini. Ketika krisis ekonomi terjadi pada tahun 2008, banyak yang mengatakan di antara para cendekiawan, penguasa dan menteri bahwa solusinya ada dalam sistem ekonomi Islam, bahkan beberapa dari mereka menuntut penerapan sistem ekonomi Islam, begitu juga tentang penyelesaian masalah politik di dunia. Salah satu dari mereka mengatakan, jika Muhammad masih hidup niscaya ia akan menyelesaikan masalah dunia sambil menyeruput secangkir teh. Sementara dalam aspek militer, maka kejeniusan Khalid bin Walid diajarkan di universitas Barat.

Juga yang terbaik dan utama bagi para cendekiawan itu adalah mengatakan kebenaran kepada manusia bahwa ideologi Islam adalah ideologi yang benar, yang mengatasi semua masalah kemanusiaan, baik kesehatan, epidemiologi, ekonomi atau lainnya … Sungguh ketakutan dan kepanikan telah menimpa para cendekiawan dan politisi, di mana dikatakan oleh mereka bahwa umat Islam tidak tertular penyakit ini, atau mereka tidak rentan dengan epidemi ini.

Mengapa Newsweek dan Dr. Craig Considine tidak memperhatikan ideologi yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallama, tetapi hanya peduli pada bagaimana beliau mengatasi pandemi dan epidemi, dengan mengatakan bahwa Muhammad adalah orang pertama yang melakukan karantina kesehatan (lockdown)?! Mengapa mereka tidak berbicara tentang kegagalan ideologi kapitalisme dalam menangani masalah-masalah modern, dan sebaliknya bahwa ideologi Islam adalah satu-satunya yang mampu menyelesaikan semua masalah?!

Para tokoh politik di dunia sangat takut dan khawatir dengan epidemi yang mematikan ini, sebab orang tua sangat rentan terhadap epidemi, bahkan kemungkinan sembuhnya sangat sedikit. Sementara para tokoh politik ini sebagian besar adalah orang tua di dunia. Sehingga beberapa dari mereka mulai membuat karantina mandiri. Mereka mengelola urusan negara dari ruang tertutup.

Newsweek Kutip Perintah Nabi Muhammad untuk Hadapi Cirus Corona
Majalah Amerika Newsweek mengutip Nabi Muhammad (SAW) untuk menjawab pertanyaan terkait dengan dua aspek dalam menangani pandemi coronavirus (Covid-19) – doa dan karantina.

Dalam sebuah opini yang ditulis oleh cendekiawan dan Profesor Craig Considine tentang apakah hanya doa yang dapat mengalahkan virus corona, ia mengatakan Nabi Muhammad (saw) memiliki nasihat yang bagus untuk mencegah dan memerangi epidemi.

Sementara ahli imunologi dan ahli menyarankan kebersihan dan karantina yang baik untuk memperlambat penyebaran coronavirus, Considine mengatakan Nabi Muhammad (saw) telah menyarankan hal yang sama selama pandemi lebih dari 1.300 tahun yang lalu.
Nabi berkata: “Jika Anda mendengar wabah penyakit di suatu negeri, jangan memasukinya; tetapi jika wabah itu menyebar di suatu tempat saat Anda berada di dalamnya, jangan tinggalkan tempat itu.”

Dia juga mengatakan: “Mereka yang memiliki penyakit menular harus dijauhkan dari mereka yang sehat.”

Artikel itu juga mengutip hadis berikut, atau ucapan Nabi Muhammad: “Kebersihan adalah sebagian dari iman.”

“Cuci tanganmu setelah kamu bangun; kamu tidak tahu ke mana tanganmu bergerak saat kamu tidur.”

“Berkat makanan terletak pada mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.”

Dan bagaimana jika seseorang jatuh sakit?

Laporan itu mengutip ajaran Nabi ini: “Memanfaatkan perawatan medis untuk Tuhan tidak membuat penyakit tanpa menunjuk obat untuknya, dengan pengecualian satu penyakit — usia tua.”

Mengenai keseimbangan iman dengan alasan, artikel itu mengatakan, “Dalam beberapa minggu terakhir, beberapa orang telah melangkah lebih jauh dengan menyarankan bahwa doa akan lebih baik dalam menjauhkan Anda dari virus corona daripada mematuhi aturan dasar jarak sosial dan karantina. Bagaimana Nabi Muhammad ( PBUH) menanggapi gagasan doa sebagai kepala — atau hanya — bentuk obat? ”

“Pertimbangkan kisah berikut, yang berhubungan dengan kami oleh sarjana Persia abad ke-9 Al-Tirmidzi: Suatu hari, Nabi Muhammad (SAW) melihat seorang lelaki Badui meninggalkan untanya tanpa mengikatnya. Dia bertanya kepada Badui, ‘Mengapa kamu tidak mengikatnya? turun unta Anda? ” Orang Badui itu menjawab, “Aku menaruh kepercayaan pada Tuhan.” Nabi kemudian berkata, ‘Ikatkan unta Anda terlebih dahulu, lalu percayakan kepercayaan Anda pada Tuhan.’ ”

“Nabi Muhammad (SAW) mendorong orang untuk mencari bimbingan dalam agama mereka, tetapi ia berharap mereka mengambil tindakan pencegahan dasar untuk stabilitas, keamanan dan kesejahteraan semua orang,” tambahnya. (*/Newsweek/Qatar-tribune)

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.