Senin, 8 Maret 21

Listyo Sigit Jadi Kapolri, Komunikasi Polri dengan Tokoh Agama Semakin Membaik

Listyo Sigit Jadi Kapolri, Komunikasi Polri dengan Tokoh Agama Semakin Membaik
* Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Listyo Sigit Prabowo bersama ormas Islam. (Foto: Wibowo Sangkala/Media Indonesia)

Jakarta, obsessionnews.com – Pihak Istana Kepresidenan telah menerima surat persetujuan DPR RI terkait pemberhentian dan pengangkatan kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri). Surat yang menyetujui Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri itu diterima Istana pada Jumat (22/1/2021) dan ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Komjen Listyo Sigit akan segera dilantik menjadi Kapolri. Pelantikan tersebut dijadwalkan akan dilakukan di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu 27 Januari 2021.

Seperti diketahui, calon tunggal Kapolri Listyo Sigit yang diusulkan oleh Presiden Jokowi yang dipilih dari lima komisaris jenderal yang direkomendasikan oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) akhirnya disetujui oleh DPR RI setelah melalui fit and proper test.

Lulusan Akademi Kepolisian 1991 ini, tercatat sebagai Kapolri termuda dengan usia 51 tahun. Banyak harapan baru masyarakat yang dipikul oleh The Rising Star dari korps Tribrata ini untuk mengayomi dan melindungi masyarakat. Apa saja kelebihan dan keunggulan Listyo yang segera menyandang jenderal bintang empat itu?

Dikutip dari majalah Men’s Obsession, pada Senin (25/1) disebutkan, ketika berbincang dengan Obsession Media Group (OMG) awal September 2020 lalu di kediaman dinasnya di kawasan Panglima Polim, Jakarta, Kabareskrim Komjen Listyo Sigit hanya tersenyum saat diprediksi bakal ditunjuk Presiden menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Idham Azis yang akan pensiun pada Februari 2021 mendatang.

“Itu sih Ge-R (gede rasa, red). Kompolnas saja belum menyampaikan rekomendasi kepada Presiden. Saya sih kerja saja yang baik,” kata Sigit yang malam itu mengenakan kemeja putih lengan pendek.

Perwira tinggi muda ini memang terlihat low profile. Tak banyak berbicara, lebih senang mendengarkan lawan bicaranya. Ia berkomentar untuk hal-hal yang penting saja, yang terkait dengan tugas dan tanggung jawab, ruang lingkup pekerjaannya. Namun sebagai Kabareskrim, Sigit sangat tanggap untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Tak lebih dari dua minggu menjabat Kabareskrim, jajaran yang dipimpinnya berhasil mengungkap kasus pelaku penyiraman air keras penyidik KPK Novel Baswedan, yang sempat terkatung-katung.

Ia juga yang memimpin langsung penangkapan dan penjemputan Djoko Tjandra dari Malaysia, narapidana kelas kakap kasus cessie Bank Bali yang sudah 11 tahun menjadi buron Kepolisian, akhir Juli 2020 lalu.

Di bawah Listyo Sigit, Bareskrim Polri juga sukses menangkap pelaku kasus pembobolan mega korupsi Rp1,2 triliun lewat LC fiktif Bank BNI dengan tersangka Maria Pauline Lumowa, yang sempat kabur ke luar negeri selama 17 tahun.

Kinerjanya yang baik, membuat nama Listyo Sigit mencuat, semakin dikenal publik. Ia pun diprediksi banyak orang bakal ditunjuk oleh Jokowi untuk menjabat Kapolri. Prediksi itu bukan tanpa alasan. Listyo Sigit memang dikenal dekat dengan Jokowi.

Saat Jokowi masih menjabat Wali Kota Solo, Listyo Sigit bertugas sebagai Kapolresta Surakarta. Ia dimutasi menjadi Kasubdit II Dittipidum Bareskrim Polri, tahun 2012, sementara Jokowi terpilih menjadi Gubernur Jakarta. Masih di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sejak Mei 2013, pada saat itu Kombes Listyo Sigit mendapat promosi sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Tenggara.

Terpilihnya Jokowi sebagai Presiden RI pada Juni 2014, membuka peluang karier Listyo Sigit semakin kinclong. Ia terpilih menjadi ajudan Presiden RI. Dua tahun di Istana, pangkat Listyo Sigit naik menjadi Brigadir Jenderal. Ia pun dipromosikan menjadi Kapolda Banten, sejak 2016. Kapolri Jenderal Tito Karnavian lantas menarik Listyo Sigit ke Mabes Polri, menjabat Kadiv Propam dengan pangkat Inspektur Jenderal, 2018.

Terpilihnya Idham Azis sebagai Kapolri menggantikan Tito, membuka peluang karier Listyo Sigit melejit. Ia terpilih menjadi Kabareskrim dengan pangkat Komisaris Jenderal, sejak Desember 2019. Prestasi Sigit tak membuat cemburu teman-teman satu angkatannya. Setidaknya, saat ini terdapat empat jenderal bintang dua yang sudah menjabat posisi strategis, Kapolda. Mereka adalah Irjen Wahyu Widada Kapolda Aceh, Irjen Muhammad Iqbal Kapolda NTB, Irjen Merdisyam Kapolda Sulsel, dan Irjen Fadhil Imran Kapolda Metro Jaya.

“Sejak di Akademi Kepolisian, beliau itu (Sigit, red) selalu masuk dalam sepuluh besar terbaik di angkatan 1991,” ungkap Brigjen Krisnandi, rekan satu angkatan Sigit, yang saat ini bertugas di Badan Intelijen Negara (BIN).

Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Merdisyam, menilai Listyo Sigit tipe seorang yang serius dalam melaksanakan tugas, penuh perhitungan dalam bertindak untuk tercapainya tujuan, dan tegas dalam mengambil keputusan. Rekan satu angkatan Listyo Sigit ini menambahkan, dalam hubungan dengan masyarakat, Lityo Sigit memiliki hubungan baik dengan semua golongan dan lapisan masyarakat, termasuk dengan para ulama dan tokoh lintas agama, tanpa membeda-bedakan satu golongan dengan golongan yang lain.

“Itu terlihat waktu beliau Kapolda Banten. Beliau mudah masuk dan diterima seluruh kalangan atau golongan,” kata Merdisyam.

“Karena itu, kami sangat mendukung penuh Pak Sigit untuk mewujudkan Polri yang Promoter, profesional, modern, dan terpercaya,” tandas Merdi.

Terpilihnya Listyo Sigit sebagai Kapolri, sesungguhnya sangat memenuhi persyaratan konstitusional, baik secara objektif profesional maupun subjektif.

Secara objektif, Listyo Sigit adalah perwira jebolan Akademi Kepolisian yang melesat dari bawah, perwira menengah dengan pangkat Letnan dua sampai Komisaris Besar di era Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia menjadi perwira tinggi di era Presiden Jokowi. Pendahulu Listyo Sigit, Jenderal Tito Karnavian, juga pernah terpilih sebagai Kapolri dalam usia relatif muda, 51 tahun, sebelumnya menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Undang-undang memang memberikan hak konstitusional kepada Presiden mengusulkan nama calon Kapolri (yang dipilih dari perwira berbintang tiga) untuk disetujui oleh DPR. Presiden secara objektif dan subjektif memiliki Hak Prerogatif. Secara subjektif, Jokowi telah mengenal betul sosok, kinerja, watak, karakter, dan sifat Sigit ketika menjabat Kapolresta Solo saat Jokowi Wali Kota Solo. Wajar saja saat terpilih sebagai Presiden, Juni 2014, pimpinan Polri mengusulkan Listyo Sigit sebagai ajudan presiden, yang kemudian disambut gembira oleh Jokowi. Karena itu, munculnya Sigit sebagai calon tunggal Kapolri, sangat memenuhi persyaratan objektif profesional maupun subjektif.

“Pilihan Presiden yang terbaik untuk Polri,” tandas Kombes Juni, Kasubdit Wal dan PJR Korlantas Polri, lulusan Akpol 1988.

Tiga bulan sebelum Presiden menunjuk Listyo Sigit sebagai calon kuat Kapolri, Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI) Usamah Hisyam, mengungkapkan dirinya telah mendapat isyarat dari Presiden Jokowi bahwa Listyo Sigit yang akan ditunjuk sebagai Kapolri, dari 12 nama jenderal bintang tiga di jajaran Polri.

Alkisah, pada 26 September 2020 Presiden hadir memenuhi undangan Usamah untuk membuka Muktamar IV PARMUSI secara virtual. Saat itu, Presiden yang berada di Istana Bogor, menonton film Gerakan Dakwah Desa Madani Parmusi, yang membangun empat sektor, yakni peningkatan iman dan taqwa (agama), pengembangan ekonomi rakyat, pemberdayaan sosial, dan peningkatan pendidikan.

Saat memberikan sambutan, Presiden mengatakan tertarik dengan Gerakan Dakwah Desa Madani, dan berjanji Pemerintah siap mendukung program tersebut, karenanya segera mengundang Usamah ke Istana untuk bertemu. Sehari setelah Muktamar IV ditutup oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, pada 29 September 2020 Usamah yang terpilih kembali sebagai Ketua Umum Parmusi menemui Presiden di Istana Bogor.

Pada pertemuan itu, Presiden yang didampingi Mensesneg Pratikno, meminta Usamah melanjutkan program Gerakan Dakwah Desa Madani dengan membuat pilot project, yang disepakati di tiga provinsi, Kalbar, Riau, dan NTT.

Pemerintah akan mendukung sektor pengembangan ekonominya, dengan membantu apa saja yang dibutuhkan, seperti lahan tanah, bibit, pupuk, peralatan pertanian, bahkan modal kerja melalui pembiayaan lunak dari Permodalan Nasional Madani (PNM).

Usamah lantas mengajukan opsi lain. Parmusi butuh dukungan kerja sama antara segenap jajaran Kepolisian dari pusat sampai ke desa agar terjadi kolaborasi antara para dai dengan segenap aparat Kepolisian dalam menumbuhkan kamtibmas di desa-desa.

Presiden, kata Usamah lantas tertegun sejenak. “Itu gagasan yang baik sekali,” ujar Presiden.

Usamah yang juga Ketua Umum Majelis Munajat Indonesia Berkah (MMIB), salah satu Majelis Doa yang didirikan bersama KH Ma’ruf Amin menjelang Pilpres 2019 lalu untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf melalui gerakan munajat para ulama, kiyai, mubaligh, ustadz, dan guru ngaji lantas menceritakan singkat kepada Presiden.

Saat Kapolri masih dijabat Jenderal TNI Tito Karnavian, perhatian dan komunikasi Polri dengan para dai Parmusi sampai di tingkat desa berjalan baik. Ini penting bagi Parmusi agar tidak terjadi kriminalisasi terhadap para ustadz, sehingga sebaliknya saling komunikasi untuk menjaga terciptanya kamtibmas di desa-desa.

Bahkan pada September 2018, Tito hadir bersama saat itu Kadiv Propam Polri, Irjen Listyo Sigit Prabowo, memberikan arahan dalam Jambore Nasional 5.000 dai Parmusi Seluruh Indonesia di Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat.

Karena itu, Usamah menyarankan kepada Presiden, siapapun Kapolri yang dipercayakan ke depan, harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan pimpinan Ormas Islam, karena sekitar 60 persen ummat islam Indonesia berada di bawah komando ormas-ormas islam.

“Bagaimana dengan Sigit Kabareskrim?” tanya Presiden.

“Dari pengamatan saya, akhlaknya cukup baik, mau menjalin komunikasi, loyal pada Presiden, dan Bareskrim di bawah beliau cukup tegas, tidak tebang pilih,” jawab Usamah.

Presiden spontan menengok Pratikno seraya berujar, “Betul kan Pak, saya kira memang Sigit yang baik.”

Celetukan spontanitas Presiden tersebut membuat Usamah sangat yakin dari lima nama yang direkomendasikan Kompolnas kepada Presiden, Listyo Sigit yang akan ditetapkan sebagai calon tunggal, sekalipun Listyo Sigit yang berusia termuda, dan dari Angkatan Akademi Kepolisian termuda, 1991.

Banyak harapan yang memang disampaikan berbagai tokoh masyarakat terhadap Listyo Sigit. Intinya, semua berharap, dalam memimpin Korps Bhayangkara, Listyo Sigit dapat lebih arif dan bijaksana dalam kepemimpinannya. Sikapnya yang tenang dan tidak gede rumongso, kata Usamah, adalah modal besar bagi Listyo Sigit untuk mawas dalam memimpin Kepolisian.

“Di bawah kepemimpinan Pak Sigit, saya justru berpikir sebaliknya, komunikasi Kapolri dengan tokoh-tokoh agama justru akan semakin baik,” tutup orang nomor satu di Parmusi ini.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.