Senin, 6 Juli 20

Lini Peternakan Saat Covid-19

Lini Peternakan Saat Covid-19
* Suasana Seminar Teknologi dan Agribisnis Peternakan (STAP) 7 Fak.Peternakan Unsoed. (Foto: Unsoed)

Purwokerto, Obsessionnews.com – Demi mencegah penyebaran wabah Covid-19 saat pelaksanaan Seminar Teknologi dan Agribisnis Peternakan (STAP) 7 yang di gelar Fakultas Peternakan (Fapet) Unsoed berbeda seperti pada tahun-tahun sebelumnya yakni pada tahun 2020 ini untuk menghindari pertemuan yang melibatkan banyak orang, meniadakan seminar tatap muka langsung, diganti dengan Seminar Nasional Jarak Jauh dengan mengandalkan jaringan internet, ungkap Humas Dies ke-54 Fapet.Unsoed Purwokerto Ir.Alief Einstein,M.Hum.

Webinar Teknologi dan Agribisnis Peternakan (STAP) 7 Fak.Peternakan Unsoed.

Memasuki bulan ke-4 virus corona (Covid-19) melanda, alumni Fapet Unsoed Ajeng Wirachmi berharap sektor peternakan tanah air harus terus bangkit. Meskipun, semua komoditi peternakan merasakan imbasnya.
Selanjutnya Einstein menambahkan melihat hal tersebut, Fapet Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kemudian membahasnya dalam sebuah seminar nasional STAP7 dengan tema ‘Prospek Peternakan di Era Normal Baru Pasca Pandemi Covid-19’ (27/6) dan diikuti lebih dari 200 peserta dari beragam instansi di seluruh Indonesia. Acara dilakukan secara dalam jaringan atau online melalui aplikasi Zoom.

Seperti pada sapi potong, contohnya yang mengalami penurunan kebutuhan daging pada Maret tahun ini. Hal tersebut diungkapkan Prof.Dr.Ir. Budi Santoso,MP. yang merupakan Dosen Nutrisi Ruminansia Universitas Papua. “Tutupnya tempat wisata dan pembatasan kegiatan sosial membuat daya beli masyarakat menurun,” kata dia. sebanyak 130 kawasan sapi potong di Indonesia yang tersebar di 160 kabupaten tengah diupayakan untuk terus berkembang saat pandemi ini, bahkan diharapkan kembali menunjukkan eksistensinya saat pandemi usai. Integrasi sapi dan sawit yang telah lama digaungkan dapat menjadi salah satu strategi demi menolong sektor sapi potong. Kemudian, pola ranch juga dapat digunakan yang tentunya harus  melibatkan peterak rakyat.

Peneliti Balitbangtan Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Dr.Ir.Bees Tiesnamurti menyampaikan bahwa kemungkinan yang terjadi adalah pandemi dapat berlangsung selama lebih dari 2 tahun. “Pemerintah pusat dan pemerintah daerah hendaknya menggerakkan para pihak guna menghasilkan pangan hewani asal ternak dengan lebih memanfaatkan sumber daya genetik ternak yang tersedia di berbagai daerah,” saran Bees.

Tantangan Menghadang
Sementara itu, Pemimpin Redaksi majalah Infovet, Ir. Bambang Suharno menyebut jika dampak yang dihadapi peternakan di masa pandemi ini adalah penurunan pasar. Senada dengan Budi, Bambang juga mengatakan bahwa hal ini terjadi akibat daya beli masyarakat yang anjlok. Kabar baiknya, penjualan daging beku meningkat. Hal ini tentunya harus dibiasakan, mengingat produk dalam bentuk beku belum begitu familiar di masyarakat.

“Saran yang dapat saya berikan adalah, sebaiknya infrastruktur untuk rantai dingin diperbaiki. Ini demi mengurangi penjualan ayam dalam bentuk hidup dan juga mengurangi fluktuasi harga. Pengembangan ekonomi digital, pengaturan pasokan-permintaan dengan ketegasan sanksi juga harus diterapkan,” tambah dia.

Tantangan yang menurut Bambang yang saat ini menghadang adalah fluktuasi harga ayam pedaging atau broiler yang kian tajam. Peternak broiler mandiri pun terasa semakin sedikit. Tentunya, berbanding terbalik dengan populasi ayam yang terus meningkat. Pertumbuhan konsumsi lambat akibat adanya isu negatif yang beredar, seperti penyuntikan ayam dengan hormon dan telur penyebab kolesterol.

Dekan Fakultas Peternakan Unsoed Prof.Dr.Ismoyowati,MP.

Ditambahkan Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Prof.Dr.Ismoyowati,MP. bahwa memang benar telur mengandung kolesterol. Namun, kolesterol yang ada merupakan kolesterol baik dari asam lemak tak jenuh. Wanita yang juga merupakan Dosen Perunggasan di Fakultas Peternakan Unsoed ini pun menjabarkan jika telur menjadi salah satu bahan pangan yang paling dicari untuk meningkatkan stamina dan kekebalan tubuh selama pandemi.

“Dari beberapa media, saya ketahui kalau pasien Covid-19 dianjurkan untuk memakan telur. Karena, kaya akan vitamin seperti A, E, B12, dan selenium yang notabene baik untuk imunitas,” papar dia. Di akhir penjelasannya, Ismoyowati meganjurkan untuk tetap mengkonsumsi telur 1 – 2 butir demi kebaikan tubuh. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.