Minggu, 7 Juni 20

Lahan Kakao Terbatas, Investor Enggan Berinvestasi

Lahan Kakao Terbatas, Investor Enggan Berinvestasi

Padang, Obsessionnews – Sumatera Barat (Sumbar) sebagai daerah sentra kakao Indonesia bagian barat, namun tidak diminati oleh investor untuk berinvestasi di sektor kakao di daerah itu. Investor tidak berminat untuk menanamkan modal mereka, karena luas lahan yang tersedia tidak mencukupi syarat minimal seluas 200 ribu hektar.

Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar harus lebih serius mengembangkan dan meningkatkan produksi kakao, agar penanam modal dengan sendirinya berdatangan ke Sumbar mendirikan pabrik pengolahan kakao.

Ia mengatakan, berdasarkan hasil kunjungannya bersama Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Jusuf Kalla ke London tanggal 13-18 Mei, ketika pertemuan dengan seluruh pengusaha kakao dunia, Indonesia menjadi Negara yang potensial untuk pengembangan kakao. Para pengusaha kakao tertarik menanamkan modalnya mendirikan pabrik pengolahan kakao. Akan tetapi terkendala akibat produksi kakao di berbagai daerah, termasuk di Sumbar belum optimal.

Muslim Kasim mengatakan, para investor baru bersedia membangun pabrik pengolahan, minimal luas lahan yang tersedia seluas 200 ribu hektar dan diurus secara baik dan benar. Sementara, areal produksinya baru mencapai 155 ribu hektar dengan hasil produksi 83 ribu ton.

Muslim Kasim mengatakan, pengembangan lahan kakao masih memungkinkan dilakukan mengingat masih tersedia 100 ribu hektar lahan kosong yang bisa dijadikan untuk perkebunan kakao.

“Kita di Sumatera Barat jangan setengah-setengah menggarap kakao. Dalam setahun ini harus dilakukan perluasan lahan kakao mencapai 200 ribu hektar, dan produksinya juga harus 200 ribu ton per tahun. Kalau itu tercapai, saya yakin dengan sendirinya investor akan datang menawarkan pendirian pabrik pengolahan,” kata Muslim Kasim kepada wartawan di rumah dinasnya Selasa (19/5).

Selain memperluas lahan baru, untuk meningkatkan produksi kakao juga diikuti dengan pogram penyuluhan bagi petani tentang bagaimana perawatan pohon kakao agar menghasilkan buah yang banyak.

“Kakao yang daunnya lebat itu buahnya sedikit, sebaliknya kalau daunnya jarang buahnya banyak dan besar. Petani harus tahu itu melalui penyuluhan tentang pemangkasan secara berkala. Mereka juga perlu dibantu dengan bibit kakao yang bersertifikasi,” sebut Muslim.

Upaya lain untuk menghasilkan biji kakao yang berkualitas, sebelum pengeringan terlebih dahulu biji kakao difermentasi. Masyarakat harus diarahkan sehingga mengerti caranya dan tidak seperi yang dilakukan selama ini, masyarakat cenderung langsung menjemur biji kakao tanpa fermentasi. Apabila cara itu dilakukan, harga jualnya lebih tinggi dan berkualitas.

Selama ini, tanpa fermentasi harga jual, berkisar Rp30.000 sampai Rp35.000 per kilogram. Sementara jika melalui fermentasi lebih dahulu, harganya diatas Rp35,000,- per kilogram.

Selain itu, petani kakao juga harus diberikan bantuan teknologi pengolahan kakao, sehingga yang selama ini mereka menjual atau mengekspor kakao dalam bentuk mentah, ke depan bisa menjual kakao setengah jadi berupa minyak kakao, bubuk kakao. (Musthofa Ritonga)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.