Sabtu, 4 Desember 21

Laela Yustika, Anak Petani yang Diterima Kuliah di UGM

Laela Yustika, Anak Petani yang Diterima Kuliah di UGM
* Laela Yustika.

Yogyakarta, Obsessionnews.com – Keterbatasan ekonomi tidak menjadi hambatan bagi seseorang yang berprestasi dan ingin mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Pemerintah menyediakan program beasiswa Bidikmisi (Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi).

Inilah kisah Laela Yustika, salah seorang penerima Bidikmisi. Gadis berjilbab yang akrab disapa Laela  bersyukur selepas lulus SMA 1 Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Basrat, bisa kuliah. Rasa bersyukurnya semakin bertambah ketika  diterima menjadi mahasiswa baru di Departemen Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebuah impian dan cita-cita yang ia inginkan sejak kecil.

Laela menuturkan, diterima kuliah di UGM masih terasa sebagai mimpi. Terkadang ia pun menangis seolah-olah tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ingatannya selalu tertuju pada mendiang sang ayah, Muhammad Syukur, sosok pribadi yang selalu mendorongnya untuk giat belajar dan belajar.

“Lega saya, sudah bisa penuhi janji. Sebelum ayah meninggal saya pernah berjanji untuk terus kuliah, dan kalau bisa di UGM,” ujar  Laela terisak saat ditemui di rumahnya, di Dusun Gerami, Desa Gelora, Kecamatan Lombok Timur, seperti dikutip dari keterangan tertulis Humas UGM, Kamis (3/8/2017).

Ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan di awal Laela duduk di bangku SMA 1 Selong. Kepergian sang ayah untuk selamanya itu  sungguh menjadi pukulan berat bagi Laela. Tidak hanya secara ekonomi, namun ia sempat kehilangan semangat karena ayahnya adalah orang terdekat yang mau mengerti akan keinginannya.

Seperti saat ia memutuskan melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Selong setamat dari SMP Negeri 1 Sikur, Laela sempat mendapat tentangan dari saudara dan kerabat-kerabatnya. Hanya sang ayah yang secara diam-diam memberi dukungan.

“Memang jauh dari rumah, tapi saya ingin di SMA itu karena bagus. Mungkin karena saya perempuan, kenapa harus sekolah jauh-jauh,” ujar  Laela.

Karena jarak yang jauh, ia kemudian kos di dekat SMA Negeri 1 Selong, Lombok Timur. Di tempat kos ia memanfaatkan waktu untuk belajar. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya memilih sekolah yang jauh dari rumah tidak salah.

Bermodal semangat itulah, nilai rapornya ketika duduk di bangku SMA dari kelas X hingga XII selalu di atas rata-rata. Dengan modal nilai seperti itu ia akhirnya lolos Seleksi Nasional Mahasiswa Pergurusn Tinggi Negeri (SNMPTN) dan diterima di UGM dengan beasiswa Bidikmisi.

“Saya di kos ya hanya belajar dan belajar. Sampai-sampai terkadang saya tidak mempedulikan jam tidur,”  katanya.

Meski banyak belajar, Laela mengaku sesungguhnya tidak memiliki ritme belajar tetap. Kebiasaannya, sepulang sekolah kemudian istirahat 30 menit dan dilanjutkan dengan belajar.

Di waktu sore ia memanfaatkan waktu Maghrib sampai Isya untuk sembahyang dan mengaji di kamar kosnya.  Setelah itu, ia makan dan belajar lagi sampai tiba rasa kantuk. Di tengah malam, Laela terbiasa bangun untu Sholat Tahajud.

“Seperti mimpi, kalau saya rasakan bisa lolos SNMPTN dan bisa kuliah, ya karena 80 persen berdoa dan 20 persen nilai rapor,” tandasnya sambil tersenyum.

Meski sudah diterima di Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM, Laela Yustika, dara kelahiran Sepolong, Lombok, 2 Agustus 1999 ini tidak secara jelas menyebut cita-citanya. Ia hanya pernah membayangkan suatu ketika bisa duduk di sebuah laboratorium, memegang tabung reaksi dan melihat percampuran antar senyawa kimia.

“Kebetulan saya itu suka Fisika dan Kimia. Nah, untuk yang dua ini walaupun harus jungkir balik saya rela mempelajari dan gara-gara Teknik Kimia ini juga, saya pun rela jungkir balik untuk belajar bahasa Inggris, meski awalnya tidak begitu suka,” ucapnya.

Seminggu sekali, Laela pulang ke rumah di Dusun Gerami, Desa Gelora, Kecamatan Lombok Timur untuk melepas rindu dengan ibunya, Sukartini, dan adiknya, Ahmad Amri. Bersama ibu dan adik, hidup Laela banyak berubah sepeninggal sang ayah.

Laela sering menunda untuk membeli berbagai keperluan. Apalagi ibnya Sukartini hanya bekerja sebagai petani cabe. Itu pun hanya mengelola tanah milik sang kakek yang tidak seberapa luas.

Maka, tidak mengherankan jika setiap kali kembali ke kos Laela hanya diberi uang Rp 100 ribu untuk hidup. Akhirnya ia sering menjalani puasa Senin dan Kamis.

” Setelah bapak meninggal, mau minta apa-apa harus mikir dulu. Untung kalau di Selong harga-harga masih murah,” kata Laela.

Dia mengaku beruntung  menyukai buku-buku bacaan tentang motivasi. Dari buku-buku semacam itu, ia banyak belajar dari banyak pengalaman keberhasilan seseorang. Seperti buku-buku karya Merry Riana.

“Dari bacaan-bacaan, ada dari mereka lebih rendah dari saya, lebih buruk kondisinya, tapi kemauan mengubah dirinya itu yang membuat saya semangat. Mereka saja bisa maka saya juga harus bisa. Mereka lebih sulit dalam hidupnya saja bisa, saya juga harus bisa. Saya pun ingin sukses seperti mereka,” tegasnya. (arh)

 

Baca Juga:

Hebat! Anak Buruh Toko Ini Diterima di Fakultas Peternakan UGM

Berkat Bidikmisi Arkan Syafera Diterima di UGM

Mengagumkan! Anak Pemulung Kuliah di FK UGM

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.