Minggu, 24 Oktober 21

KSAL Tunggu Hasil Tim Investasi Kebakaran RSAL Mintoharjo

KSAL Tunggu Hasil Tim Investasi Kebakaran RSAL Mintoharjo

Jakarta, Obsessionnews Kepala Staf TNI AL (KASAL) Laksamana TNI Ade‎ Supandi menegaskan, pihaknya tengah menunggu hasil kerja dari tim investasi gabungan untuk mengusut penyebab kebakaran di RSAL Mintoharjo, yang menewaskan 4 orang.

“Kejadian kebakaran ini memang terus kita cari penyebabnya. Saya tidak akan berandai-andai dan menyerahkan sepenuhnya kepada tim dari Puspomal dan Mabes Polri untuk mendeteksi dan mengetahui penyebab kebakaran apakah karena kelalaian atau hal lainnya,” ujar Ade di halaman Dermaga Markas Kolinlamil ‎Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (15/3/2016)

Baca juga:

RS Mintoharjo Kebakaran, Ketum PGRI dan Jenderal Polisi Meninggal

KSAL: Peningkatan Budaya Maritim Bertolak Pada SDM
Ade‎ Supandi menegaskan tidak akan menutup-nutupi hasil investigasi Puslabfor Mabes Polri, Puspomal, dan pihak-pihak lainnya terkait penyebab ledakan mesin terapi Hiperbaric di RS TNI AL Mintoharjo pada Senin (14/3) kemarin.

Ia menegaskan akan membuka seluas-luasnya dan menyampaikan kepada publik dengan transparan hasil investigasi penyebab meledak dan terbakarnya mesin Hiperbaric tersebut apakah dikarenakan karena kelalaian manusia (human error) ataupun tidak berfungsinya alat (malfunciton).

‎”Pertama saya ingin menyampaikan sebagai pribadi dan pimpinan TNI AL juga ikut berduka dan berbelasungkawa, atas wafatnya empat pasien yang meninggal dalam chamber yang terbakar. Saya tegaskan kami akan terbuka pada media terkait kasus meledaknya alat terapi tersebut,” tutur  Ade.

Ade juga mengklarifikassi bahwa yang terbakar bukanlah gedung RS TNI AL Mintoharjo, melainkan mesin terapi chamber yang ada di salah satu ruangan RS tersebut. Kejadian itu tidak diduga oleh seluruh staff RS tersebut.

“TNI AL sudah menggunakan metode hiperbarik dari tahun 1960 dan digunakan untuk mengobati efek dekompresi sebagai akibat dari penyelaman di dalam laut. Qwal tahun lalu kita pakai untuk 9 penyelam yang melakukan operasi penyelamatan di dalam kecelakaan‎ Air Asia. Saya sendiri baru dua bulan lalu di hiperbarik,” ungkap Ade.

Namun, seiring dengan perkembangan jaman, terapi Hiperbarik saat ini tidak hanya dimanfaatkan untuk efek dekompresan bagi para penyelam. Terapi yang meningkatkan kadar oksigen dalam darah tersebut juga trendnya digunakan untuk mengobati berbagai penyakit lain yang kerap didera tubuh manusia.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, Gedung Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT) RSAL Mintohardjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat meledak dan menewaskan empat orang.
Kebakaran terjadi karena adanya korsleting di tabung chamber Pulau Miangas.

Terapi di RUBT dilakukan dengan tekanan 2,4 atmosfer. Namun kemudian tekanan tersebut dinaikkan maupun diturunkan secara bertahap supaya terjadi keseimbangan. Tidak lama kemudian, percikan api muncul dan langsung membesar.

Dalam kejadian tersebut, empat orang tewas, yaitu mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol (Purn) R Abubakar Nataprawira dan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo, Edi Suwardi Suryadiningrat dan Dimas Qadar Radityo yang keduanya belakangan diketahui merupakan besan dan adik dari menantu Irjen Pol (Purn) R Abubakar Nataprawira. (rez)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.