Minggu, 3 Maret 24

Kisah Tersembunyi di Balik Pernikahan Sukarno dengan Hariyatie

Kisah Tersembunyi di Balik Pernikahan Sukarno dengan Hariyatie
* Hariyatie Soekarno The Hidden Story.

Oleh Lukman Hakiem, Penulis Biografi Tokoh Politik

I

Siang terik, 1963.

Memanfaatkan waktu istirahat sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA) di istana, sejumlah kiai lintas ormas yang menjadi jemaah tetap shalat dzuhur di Masjid Baiturrahim lingkungan Istana, melaksanakan shalat berjamaah. Mereka ialah Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H.A. Wahab Hasbullah, Ketua Umum PBNU Dr. K.H. Idham Chalid, K.H. Rusli Abdul Wahid (Perti), dan Prof. K.H. Farid Ma’aruf (Muhammadiyah).

Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri dan Mbah Wahab hari itu datang ke masjid agak terlambat, sehingga kedua tokoh itu tidak cepat meninggalkan masjid seusai shalat berjamaah.

II

Mbah Wahab Tidak Sudi Menginjak Istana lagi

Dengan wajah keruh, Mbah Wahab duduk di trap masjid. Dari bibirnya terucap kalimat dalam bahasa Jawa yang terjemahannya sebagai berikut: “Segila-gilanya, dia tetap anakku.”

Sepatu yang sudah diambil, dibanting sambil terdengar gerutuan,”Kalau bukan karena tugas perjuangan, tidak sudi saya menginjak tempat (istana) ini.”

Melihat wajah keruh Mbah Wahab,
Kiai Saifuddin tidak sanggup memandang wajah pemimpin tertinggi NU itu.

“Mengapa, Kiai?” Saifuddin memberanikan diri bertanya sambil pura-pura mengikat tali sepatu.

“Saudara kan sudah membaca di koran bahwa Wahib telah divonis perkaranya oleh pengadilan. Sekarang dia digugat pelanggaran lain oleh jaksa.”

Saifuddin dapat memahami apa yang sedang dirisaukan Rois ‘Aam. K.H. Wahib Wahab adalah putra sulung Mbah Wahab. Sebagai seorang ayah, wajar saja kalau Kiai Wahab menginginkan putra sulungnya menjadi curahan segala harapan. Namun tiba-tiba kenyataan berbicara lain. K.H. Wahib Wahab meletakkan jabatan selaku Menteri Agama tanpa sepengetahuan Mbah Wahab. Lalu menyusul perkaranya yang telah diputus oleh pengadilan negeri dan masih akan digugat dengan kasus lain.

Sebagai warga NU, batin Saifuddin ikut merasa terpukul. Saifuddin merasa wajib berjuang melepaskan derita lahir dan batin yang sedang mendera K.H. Wahab Hasbullah.

Berhari-hari Menteri Agama Saifuddin Zuhri berpikir, mencari cara membebaskan derita Mbah Wahab, tokoh yang sepanjang hayatnya telah beramal bakti, bekerja keras membesarkan NU hingga Nu menjadi kekuatan nasional dan potensi Islam yang diperhitungkan, sampai akhirnya Saifuddin merasa tidak ada cara lain kecuali mesti menghadap Presiden Sukarno.

“Kelihatannya seperti sedang ada yang membebani pikiran Saudara,” ujar Presiden Sukarno ramah begitu melihat kedatangan Saifuddin. “Ada apa?” tanya Presiden, menyelidik.

“Ada yang ingin saya bicarakan dengan Presiden mengenai perkara Wahib Wahab,” jawab Saifuddin.

“Kan sudah diputus oleh pengadilan supaya Wahib Wahab membayar denda. Katakan kepadanya, agar dia membayar denda itu, daripada masuk penjara.”

“Tetapi, sekarang dia digugat lagi dengan tuduhan yang baru,” kata Saifuddin.

“Yang itu saya belum menerima laporannya.

“Saya dengar,” kata Saifuddin,”Wahib Wahab memang sedang digugat dengan perkara lain. Saya mohon agar kiranya Presiden berkenan memberi abolisi kepada Wahib Wahab, supaya gugatan baru tidak dilanjutkan.”

Bung Karno merenung. Jari jemarinya diketuk-ketukkan di atas meja. Setelah itu Presiden Sukarno menatap wajah Saifuddin seraya berkata: “Kaldu begitu, baik. Tulis saja permohonan abolisi buat Saudara Kiai Wahib Wahab. Bikin saja surat permohonannya sekarang.”

“Baiklah, besok akan saya haturkan surat itu, insya Allah,” kata Saifuddin.

“Tidak usah besok. Sekarang saja Saudara bikin di sini,” ujar Presiden bernada perintah.

“Hei ajudan,” seru presiden. Seorang ajudan segera datang. “Ambilkan kertas tulis dan sampulnya. Pilihkan yang tidak ada kop presiden,” perintah Presiden kepada ajudan.

Saifuddin terkejut. Demikian sangat kontan sambutan Presiden terhadap permohonan abolisi yang diajukan secara lisan oleh Saifuddin. Begitu sekonyong-konyong tanggapannya.

Setelah menerima kertas dari ajudan Presiden, Saifuddin segera menulis permintaannya. Atas nama pribadi, Saifuddin memohon kepada Presiden Sukarno agar berkenan memberi abolisi kepada K.H. Wahib Wahab atas kemungkinan tuntutan perkara baru oleh kejaksaan.

Setelah dibaca ulang, surat permohonan yang ditulis tangan itu langsung diserahkan kepada Presiden Sukarno.

Saifuddin merasa telah berbuat sesuatu untuk meringankan beban derita Rois ‘Aam NU.

III

Presiden Sukarno: Tolong nikahkan saya 

Merasa kepentingannya sudah selesai. Saifuddin mohon diri.

“Nah, sekarang kepentingan saya. Maukah Saudara menolong saya?” tanya Presiden dengan nada serius.

Merasa sudah ditolong, Saifuddin tidak punya jawaban lain: “Tentu akan saya lakukan kalau saya bisa.”

“Tolong nikahkan saya,” ujar Presiden Sukarno.

Saifuddin terkejut. Telinganya serasa ditiup angin, mendengar permintaan yang tidak terduga itu.

“Nikahkan?” Saifuddin mencoba meyakinkan.

“Ya. Nikahkan saya dengan Hariyatie. Saya harus nikah dengannya. Saya tidak mau berbuat serong,” kata Presiden.

Saifuddin betul-betul terkejut. Beberapa saat dia terdiam.

“Maukah?” desak Bung Karno sambil menatap tajam Saifuddin Zuhri.

“Kapan?” tanya Saifuddin.

“Nanti Saudara akan diberitahu,” kata presiden. Kalui ini dengan nada lebih tenang.

Surat nikah Sukarno-Hariyatie dengan wali hakim K.H. Saifuddin Zuhri.

IV

Pergumulan Batin Saifuddin Zuhri

Dalam perjalanan pulang, di benak Saifuddin terjadi pergulatan. apakah dirinya tidak terlanjur? Salahkah langkahnya menghadap dan meminta tolong kepada Presiden Sukarno?

Akhirnya Saifuddin menyimpulkan bahwa langkahnya sudah benar. Dia merasa berada dalam situasi dilematis yang tidak bisa dihindari. DIa telah ditolong oleh Presiden dalam persoalan berat yang menimpa Rois ‘Aam.

V

Boleh jadi Sukarno menahan Sakri lantaran Sang Presiden curiga Haryatie diam-diam jatuh hati kepada anggota Paspampres Sakri yang acap mengantar jemput Haryatie.
Kelak sesudah Haryatie bercerai dengan Sukarno, dia menerima lamaran Sakri
Haryatie dan Sakri hidup berumah tangga selama 11 tahun dan dikaruniai 4 anak. Bandingkan dengan rumah tangga Hsryatie-Sukzrnovysng bertahan hanya 3 tahun dan tidak dikaruniai anak.[]

(Sumber: K.H. Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, 2013: 676-679.

Hariyatie Soekarno The Hidden Story’,: 2001, 19 dst.)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.