Minggu, 3 Maret 24

Haji Agus Salim dan Rokok Keretek

Haji Agus Salim dan Rokok Keretek
* Haji Agus Salim (Foto: Seratus Tahun Haji Agus Salim: 1984)

Oleh: Lukman Hakiem, Peminat Sejarah

DALAM sejarah perjuangan Republik Indonesia, mustahil melupakan peran dan eksistensi Haji Agus Salim (1884-1954) yang merupakan seorang ulama, diplomat dan pembela bangsa.

H.B. Jassin mengaku heran, seorang tokoh agama seperti Salim menyenangi buku-buku Nietzsche, seorang filsuf Jerman akhir abad XIX yang dianggap ateis itu.

 

Selain dari sisi-sisinya yang “serius” seperti agamawan, budayawan, dan diplomat, Agus Salim adalah tokoh yang amat berwarna. Cerita-cerita ringan tentang dirinya tidak ada habisnya ditulis orang dari zaman ke zaman.

Salah satu cerita ringan tentang Agus Salim yang sangat terkenal ialah tentang kesukaannya merokok keretek.

Berikut ini beberapa anekdot:

  1. Dalam urusan keretek ini, pernah kuliah tertunda sepuluh menit, gegara Salim kesulitan dan terlambat menemukan keretek.
  2. Di Istana Buckingham, Inggris

Anekdot berikut ini terjadi pada saat penobatan Elizabeth II sebagai Ratu Inggris.

Salim yang menghadiri resepsi megah itu, menyaksikan suami Elizabeth II, Pangeran Philip, agak kikuk menghadapi para tamu terhormat. Untuk mencairkan suasana, Salim menghampiri Pangeran Philip, dengan sebatang keretek terselip di bibirnya.

Sesudah dekat dengan sang Pangeran, Salim meniup-niupkan rokok keretek  di sekitar  hidung Pangeran Philip, lalu dengan ramah Salim bertanya:”Apakah yang mulia mengenal bau ini?”

Pangeran menggelengkan kepala. “Tidak,” katanya.

Sambil tersenyum Salim berkata:”Inilah sebabnya 300-409 tahun yang lalu, bangsa Tuan mengarungi lautan, mendatangi negeri saya.”

  1. Menjinakkan Ngo Din Diem

Saat Agus Salim di kedatangan tamu penting, calon Perdana Menteri Vietnam Ngo Dinh Diem yang sedang berkeliling Amerika Serikat untuk mencari dukungan bagi Vietnam Selatan yang akan dibentuk.

Kahin yang tahu bahwa Diem jago bicara dan tidak ada yang pernah bisa menginterupsinya,  terpikir untuk mempertemukan Salim dengan Diem.

Demikianlah, pada suatu siang, Kahin berhasil mempertemukan Diem dengan Salim dalam sebuah acara makan siang. Kahin yang duduk di antara Diem dan Salim terperangah. Dalam percakapan selama dua jam, Salim menggunakan bahasa Prancis dengan sangat fasih. Selama Salim berbicara, tidak satu kata pun keluar dari mulut Diem.

Delapan tahun kemudian, Kahin bertemu Diem di Vietnam Selatan. Dalam percakapan selama empat jam, praktis hanya Diem yang berbicara.

Kahin pun teringat kepada Salim, satu-satunya orang yang bisa menjinakkan Diem dalam bahasa yang paling dikuasai oleh Diem. ()

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.