Minggu, 25 Oktober 20

Kisah Biarawati Dijadikan Budak Seks Pastor

Kisah Biarawati Dijadikan Budak Seks Pastor
* Paus Fransiskus. (BBC)

Ternyata, ada biarawati dijadikan budak seks oleh pastor Katolik. Paus Fransiskus mengakui adanya kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan pastor-pastor terhadap sejumlah biarawati. Bahkan dalam satu kasus, beberapa biarawati dijadikan budak seks.

Pernyataan Paus Fransiskus mengemuka dalam kunjungannya ke Timur Tengah. Diperkirakan ini merupakan pertama kalinya pemimpin Gereja Katolik Roma tersebut mengakui pelecehan seksual yang dilakukan pastor terhadap biarawati.

Menurutnya, pihak gereja mengetahui kasus-kasus ini dan tengah “berupaya mengatasinya”. “Ini adalah jalur yang kami sedang tempuh,” ungkapnya seperti dilansir BBC News Indonesia, Rabu (6/2/2019).

“Paus Benediktus punya keberanian untuk membubarkan ordo kesusteran yang pada tahap tertentu—karena perbudakan perempuan terjadi di situ—tergolong perbudakan, bahkan hingga perbudakan seks yang dilakukan pastor atau pendirinya,” kata Paus Fransiskus merujuk pendahulunya.

Pria kelahiran Argentina itu mengatakan masalah tersebut masih terjadi, tapi utamanya di “jemaat tertentu, khususnya yang baru-baru dan lebih banyak di wilayah tertentu ketimbang wilayah lainnya”.

Bulan lalu, organisasi kesusteran dunia yang bernaung di bawah Gereja Katolik mengecam “budaya bungkam dan kerahasiaan” yang mencegah mereka berbicara lantang.

Kemudian, beberapa hari lalu, majalah perempuan Vatikan, Women Church World, mengecam pelecehan itu yang dalam sejumlah kasus membuat biarawati-biarawati terpaksa mengaborsi janin hasil hubungan dengan pastor. Padahal tindakan aborsi dilarang Gereja Katolik.

Kecam Pelecehan Seks Oleh Pastor
Paus Fransiskus mengecam “kekejaman” pelecehan seksual anak dan langkah yang dilakukan para pemuka agama dalam menutupi berbagai kasus, sebagaimana dituliskan kepada umat Katolik yang berjumlah 1,2 miliar orang.

Surat kepada “Hamba Tuhan” itu berisi seruan untuk mengakhiri “budaya kematian” dalam Gereja, merujuk pada gagalnya upaya menangani pelecehan. Minggu lalu, laporan juri di Pennsylvania mengungkap terjadinya pelecehan seks selama 70 tahun.

Penyelidikan itu menemukan lebih dari 1.000 anak dilecehkan oleh 300 pastur di negara bagian Amerika Serikat itu.

Penyelidikan itu menemukan bukti sistematis adanya langkah gereja dalam menutup-nutupi sejumlah kasus dugaan pelecehan seksual terhadap anak, yang sebagian besar sudah terlalu lama untuk bisa diproses hukum.

Setelah laporan itu diungkapkan, Vatikan mengatakan Paus membela korban para pastur “predator.”

Ratusan Pastor Lecehkan Ribuan Anak
Mahkamah Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, merilis laporan panel juri berisi rincian dugaan pelecehan seksual di Gereja Katolik yang menuduh lebih dari 300 pastor.

Laporan investigasi panel juri selama 18 bulan menemukan lebih dari 1.000 anak telah dilecehkan oleh pastor-pastor dari enam paroki di negara bagian itu selama 70 tahun terakhir. “Kami meyakini bahwa angka sebenarnya—mencakup anak-anak yang catatannya hilang atau takut tampil ke muka—berjumlah ribuan,” sebut laporan itu.

Rangkaian peristiwa itu, menurut laporan tersebut, ditutup-tutupi oleh pihak gereja secara sistematis sehingga tidak muncul ke permukaan. “Mereka semua (korban-korban) dikesampingkan oleh para pemimpin gereja yang memilih melindungi pelaku pelecehan dan institusi mereka.”

Karena diduga ada upaya menutup-nutupi oleh pejabat senior Gereja Katolik, sebagian besar kasus pelecehan ini sudah terlalu uzur untuk ditindaklanjuti. Meski demikian, aparat mengingatkan bahwa amat mungkin ada dakwaan yang dilayangkan selagi investigasi berlanjut.

Laporan penyelidikan itu sendiri menyebut nama ratusan pastor yang diduga terlibat, namun beberapa nama disensor karena dikhawatirkan akan melanggar hak konstitusional mereka.

Dipaksa Berenang Telanjang
Pemerintah Cile kini sedang menyelidiki lebih dari 30 anggota Gereja Katolik Roma atas tuduhan keterlibatan dalam melakukan pelecehan seksual atau upaya menutup-nutupinya.

Penyelidikan terhadap uskup, pastor dan pengurus gereja ini berlangsung menyusul kemunculan laporan dari lebih 260 orang yang mengaku korban, 67% di antara mereka masih anak-anak.

Kepala Gereja Katolik di Cile, Kardinal Ricardo Ezzati, terseret ke tengah pusaran skandal dengan tuduhan menutup-nutupi kasus dugaan pelecehan seksual. Awal tahun ini, sebanyak 34 uskup dari Cile dipanggil ke Roma bersamaan dengan pernyataan Paus Fransiskus yang mengecam “budaya pelecehan dan menutup-nutupi”.

Wartawan BBC berbincang dengan dua mantan pelajar seminari yang mengklaim mengalami pelecehan. Diungkapkan, Mauricio Pulgar merupakan anggota kaum muda Katolik atau mudika pada 1993. Di masa itu, dia diundang menghadiri acara perenungan di sebuah kota kecil di Cile bagian tengah di bawah pengawasan Pastor M.

Suatu malam, sang romo menyuruh mereka berenang telanjang di kolam renang. “Saya dan seorang teman menolak, namun Romo M memaksa kami. Dia berkata jika kami tidak melakukannya berarti kami punya masalah seksual,” ujarnya kepada BBC.

“Pastor M masuk ke kolam dan menyentuh kami. Menurutnya, itu bagus untuk membangun kepercayaan dan percaya diri.”

Dua bulan kemudian, Mauricio mulai menekuni studi untuk menjadi pendeta. Di seminari, dia mengaku juga mengalami pelecehan. “Mereka memeluk saya dari belakang … Jika saya menolak, mereka marah. Saya dirisak jika saya tidak mengizinkan mereka mencium saya.” (BBC/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.