Selasa, 7 Desember 21

Khofifah Minta Bupati Tuban Segera Lengkapi Berkas Pengajuan Soegondo Djojopoespito Sebagai Pahlawan Nasional

Khofifah Minta Bupati Tuban Segera Lengkapi Berkas Pengajuan Soegondo Djojopoespito Sebagai Pahlawan Nasional
* Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa saat memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Alun-Alun Kabupaten Tuban, Kamis (28/10/2021). (Foto: Instagram khofifah.ip)

Tuban, obsessionnews.comMemperingati Hari Sumpah Pemuda Kabupaten Tuban, Jawa Timur (Jatim), tahun ini dilakukan berbeda, yakni diselenggarakan di Alun-Alun Kabupaten Tuban. Hal ini dilakukan guna mengenang bahwa ada sosok dari Tuban yang Berperan dan ambil andil dalam perhelayan Sumpah Pemuda.

Sosok pemuda itu adalah Soegondo Djojopoespito. Pemuda asal Tuban itu merupakan pemimpin Sidang pada Kongres  Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928.

Oleh karena itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meminta Bupati Tuban untuk segera mengajukan gelar Pahlawan Nasional untuk Soegondo Djojopoespito. Untuk itu, Khofifah meminta Bupati Tuban untuk segera melengkapi berkas persyaratan pengajuan sebagai pahlawan nasional untuk Soegondo Djojopoespito

“Jadi mohon berkas pengajuan segera  diajukan oleh Pemkab Tuban dan dilengkapi kemudian diteruskan ke provinsi untuk segera diajukan ke dewan gelar nasional,” kata Khofifah, Kamis (28/10/2021).

Khofifah mengatakan, selain sebagai tokoh aktif Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Soegondo Djojopoespito merupakan putra Jatim yang mengambil peranan penting atau memberi inspirasi terhadap peristiwa Sumpah Pemuda sampai berhasil diikrarkan.

“Atas perjuangan tersebut, sudah sepatutnya kita mengusulkan beliau menjadi pahlawan nasional,” tegasnya.

Sementara itu, dalam momen peringatan Sumpah Pemuda ini Khofifah mengajak segenap kaum muda Jatim untuk memperkuat solidaritas dan kebersamaan untuk bangkit dari pandemi Covid-19.

Dalam momen tersebut, ia meyakini  tumbuhnya solidaritas terutama dari generasi millenial merupakan modal yang sangat baik untuk bangkit dari pandemi. Sebab pandemi Covid-19 memberikan pelajaran besar tentang solidaritas.

“Tumbuh masyarakat empatik dengan berbagai inisiatif saling membantu antar sesama. Di dalam gerakan itu banyak anak muda yang turut berpartisipasi untuk saling membantu. Kita melihat kebangkitan semangat gotong royong yang sesungguhnya memang selama ini menjadi nilai-nilai bangsa Indonesia,” katanya.

Namun tantangannya ada pada sifat individualisme. Sifat ini merupakan konsekuensi logis berkembangnya TIK yang melewati batas wilayah membawa nilai-nilai baru kepada anak muda, yang tidak semua baik untuk bangsa. Individualisme melunturkan solidaritas, menghilangkan empati dan rasa kebersamaan.

“Dari sini kita mendapatkan momentum penting. Dalam berbagai momen perjalanan bangsa ini, anak muda selalu menjadi penggerak kebangkitan dan kemajuan. Maka hari ini saya meyakini ketika anak muda saling bergandengan tangan, berkolaborasi, dan berinovasi maka kita akan bertumbuh dan mampu bangkit melewati masa sulit ini,” terangnya.

Menurut Khofifah, Sumpah Pemuda adalah sebuah peristiwa besar, peristiwa yang di dalamnya segenap ego dan kepentingan lebur dalam ikatan persaudaraan.

Tidak hanya itu, runtuhnya ego dan lahirnya solidaritas juga terlihat dari ikrar ‘Menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia’, di sini terlihat kebesaran kalangan pemuda dari wilayah Jawa yang meskipun dari kalangan mayoritas namun tidak memaksakan bahasa Jawa sebagai bahasa nasional.

“Untuk seluruh  pemuda Jawa Timur, generasi milenial, zaman sudah berubah. Bersiaplah dengan ilmu, pengalaman dan kembangkan talentamu. Kuatkan niat untuk sukses, bergeraklah, kuasailah zaman digital ini, mulailah berusaha, mulailah mandiri, jangan mudah putus asa, karena di pundak kalian masa depan digantungkan,” pesannya. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.