Selasa, 24 November 20

Kenapa China Belum Akui Kemenangan Joe Biden di Pilpres AS?

Kenapa China Belum Akui Kemenangan Joe Biden di Pilpres AS?
* Joe Biden. (Foto: BBC)

Berdasar penghitungan suara sementara pada pemilihan presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) 2020, pemenangnya adalah calon dari partai Republik, Joe Biden.

Namun, kemenanan itu hingga saat ini belum diakui oleh China. Padahal, sejumlah negara di dunia sudah memberikan ucapana selamat kepada Biden.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin, mengatakan hasil pemilu akan ditentukan berdasarkan hukum dan prosedur di AS. Oleh karena itu, Beijing akan mengikuti praktik yang berlaku secara internasional.

“Kami memperhatikan bahwa Biden telah menyatakan kemenangan dalam pemilihan. Kami memahami bahwa hasil pemilihan presiden akan ditentukan mengikuti hukum dan prosedur AS,” kata Wang kepada wartawan, seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (10/11/2020).

Seperti diketahui China memiliki hubungan yang rapuh dengan Donald Trump yang ditandai dengan meningkatnya gesekan perdagangan, teknologi dan persaingan untuk mendapatkan pengaruh di Asia dan dunia.

Para pengamat mengatakan Biden kemungkinan akan mengembalikan hubungan yang tidak terlalu kontroversial, meski kini Beijing berada dalam posisi yang kurang baik dengan AS.

Pada 2016, Presiden China, Xi Jinping, mengirim ucapan selamat kepada Trump pada 9 November atau tepat sehari setelah pemilihan.

China adalah salah satu dari sedikit negara, termasuk Rusia dan Meksiko, yang belum mengeluarkan pernyataan mengenai pemilu AS dengan Biden muncul sebagai pemenang atas Trump. Sementara itu, Trump mengaku belum menyerah dan menantang penghitungan ulang di beberapa negara bagian.

Hubungan antara China dan AS berada pada kondisi terburuk dalam beberapa dekade, karena perselisihan mulai dari teknologi dan perdagangan, hingga Hong Kong dan virus corona. Pemerintahan Trump juga telah mengeluarkan rentetan sanksi terhadap Beijing.

Sementara Biden diperkirakan akan mempertahankan sikap keras terhadap China, dia menyebut Xi sebagai “preman” dan berjanji untuk memimpin kampanye untuk “menekan, mengisolasi, dan menghukum China”. Namun dia kemungkinan akan mengambil pendekatan yang lebih terukur dan bersifat multilateral. (*/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.