Jumat, 22 Oktober 21

Kementerian ATR/BPN Tingkatkan Kewirausahaan Perempuan Melalui Kampung Reforma Agraria

Kementerian ATR/BPN Tingkatkan  Kewirausahaan Perempuan Melalui Kampung Reforma Agraria
* Kampung Reforma Agraria di Desa Mekarsari, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. (Foto: Hms ATR/BPN)

Banten, Obsessionnews – Kondisi perekonomian Indonesia saat ini sudah mengalami perkembangan serta perubahan, di mana kondisinya dapat memberikan kesempatan yang lebih luas serta lebih baik kepada semua pihak, termasuk di dalamnya perempuan. Pemanfaatan kemampuan perempuan dan peningkatan partisipasi mereka dalam peningkatan perekonomian dapat menjadi kebijakan yang cerdas untuk pemulihan ekonomi Indonesia.

Dikutip dari pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga dalam rilisnya pada akhir Februari 2021, perempuan sebagai kelompok yang saat ini mengisi hampir setengah dari populasi penduduk Indonesia, di mana 70 persen berada pada usia produktif, perempuan bisa menjadi ‘pahlawan’ ekonomi bagi keluarganya. Hal ini dikarenakan perempuan adalah sosok yang kreatif dan pekerja keras di dalam keluarga. Banyak hal yang bisa dilakukan perempuan, misalnya, mulai dari pekerja kantoran, abdi negara hingga menjadi pelaku usaha. Perempuan bisa mencoba meraih penghasilan dengan berjualan hasil produk olahan dari rumah.

Melihat potensi tersebut, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) fokus untuk meningkatkan kewirausahaan para perempuan melalui Kampung Reforma Agraria di Desa Mekarsari, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Bahkan untuk pemerataan perkembangan ekonomi di kawasan tersebut, rencananya akan dibentuk koperasi ke depannya. Saat ini, pembentukan koperasi masih pada tahap sosialisasi oleh Kementerian Koperasi dan UKM pada bulan Maret lalu. Hal tersebut disampaikan oleh Tenaga Ahli Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Bidang Pembinaan UKM dan Ekonomi, Parman Nataatmadja.

“Dilakukan program landreform dalam bentuk redistribusi tanah di Desa Mekarsari sebanyak 48 hektare, terdiri dari 30 hektare kepada Bumdes dengan tanaman terbanyak adalah buah kelapa dan kepada 225 Kepala Keluarga (KK) prasejahtera yang mana setiap KK mendapatkan 200 Meter dalam bentuk SHM,” tuturnya di Jakarta, Selasa (11/5/21).

Jika sebelumnya para perempuan di Desa Mekarsari hanya mengandalkan pemasukan ekonomi keluarga dari suami yang rata-rata penghasilannya Rp500.000 sampai dengan Rp1.000.000 perbulan, kali ini para perempuan di Desa Mekarsari dilatih untuk membuat usaha rumahan, dengan mendapat kredit antara 2-10 juta perorang sehingga para perempuan di Desa Mekarsari bisa memperoleh penghasilan sendiri untuk keluarganya.

“Karena Panimbang terkenal dengan bahan dasar singkong dan ikan, maka dibuatlah usaha yang sebelumnya telah dilakukan pelatihan untuk pembuatan keripik dan singkong. Ternyata ibu-ibu ini antusias dan berinovasi dengan membuat juga keripik pisang serta keripik dari ubi ungu. Kita terus melakukan monitor bersama pengusahanya sehingga bagaimana kita membuka wawasan mereka dalam berusaha yang bagus, kalau sudah sesuai pengusahanya akan mengambil,” ungkapnya.

Dengan dijadikannya Kampung Reforma Agraria Desa Mekarsari sebagai salah satu lokasi pilot project, diharapkan akan memperbesar skala kegiatan penataan akses di wilayah tersebut dengan melibatkan Kementerian, Dinas, atau pihak terkait lainnya yang dapat membantu berkembangnya pelaksanaan penataan akses di Kampung Reforma Agraria Desa Mekarsari. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.