Rabu, 16 Oktober 19

Kementan Tolak Rencana Impor Jagung

Kementan Tolak Rencana Impor Jagung
* Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Foto: Dokumen Kementan)

Jakarta, Obsessionnews.com -Kementerian Pertanian (Kementan) tetap pada prinsip awal, pihaknya menolak
rencana impor jagung yang dilontarkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Kementan menganggap impor jagung tidak relevan dengan kondisi pertanian Tanah Air, di mana hasil panen jagung berlimpah.

“Kitap tetap pada rencana awal, menolak impor jagung karena tidak dibutuhkan,” ujar Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Bambang Sugiharto saat dihubungi, Kamis (23/8/2019).

Posisi kita jelas, tolak rencana impor itu pasti. Karena enggak relevan dengan kondisi riil,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (22/8).

Awalnya, rencana impor tersebut bakal dilakukan guna merespons tingginya harga jagung pakan ternak nasional dan antisipasi penurunan produksi akibat kekeringan. Namun menurut Bambang ketidakstabilan sisi produksi tidak masuk akal.

Sebab menurut dia, jagung merupakan komoditas pertanian yang paling sulit terimbas gagal panen. Dia menyebut hingga saat ini belum pernah ada kasus gagal panen jagung akibat kekeringan. Sedangkan terkait harga, dia mengklaim harga jagung lokal saat ini masih relatif terjangkau.

“Kemarin saya baru saja pergi ke produsen pakan, harga (jagung) kata mereka masih sekitar Rp 4.000 per kg,” ujarnya.

Bambang menambahkan, faktor kemarau dan kekeringan tidak berpengaruh banyak terhadap produktivitas jagung. Menurutnya, jagung merupakan salah satu komoditas pertanian yang tak terlalu membutuhkan pasokan air berlebih layaknya padi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Jagung Nasional (DSN) Maxdeyul Sola mengakui harga jagung saat ini memang mengalami kenaikan. Hanya saja menurut dia, kenaikan harga tersebut masih dalam ambang wajar sebab ada pengaruh kemarau.

Sehingga, biaya produksi jagung petani bertambah untuk dialihkan pada pemenuhan pengaliran air dari berbagai aspek. Contohnya, untuk biaya mesin pompa serta biaya pengaliran yang lainnya.

“(Ada kenaikan), tapi enggak banyak. Kalau dibanding tahun lalu, harga masih oke yang sekarang. Mei 2018 harga sudah melambung, ini sudah Agustus 2019 harga naik tapi masih normal (kenaikannya),” ujarnya.

Misalnya ia menyebut, harga beli jagung ke petani Sumbawa baru-baru ini berkisar Rp 3.500-Rp 3.700 per kg. Sedangkan harga beli di pabrik menyentuh Rp 4.500 per kg atau berada di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 3.150 per kg.

“Memang selalu di atas HPP harganya, ini juga kami minta ke Kemendag HPP-nya direvisi. Jangan segitu,” ujarnya.

Di sisi lain dia menambahkan, jika pemerintah ingin menekan biaya produksi jagung petani maka hal utama yang perlu diperhatikan adalah pembangunan infrastruktur fisik. Menurutnya sejumlah infrastruktur fisik seperti ketersediaan air, gudang, hingga sarana logistik juga dapat menekan biaya produksi lebih jauh. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.