Senin, 8 Maret 21

Kemenparekraf Siap Beri Pendampingan Bagi Pelaku UMKM di Desa Wisata NTB

Kemenparekraf Siap Beri Pendampingan Bagi Pelaku UMKM di Desa Wisata NTB
* Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno. (Foto: Kemenparekraf)

Jakarta, Obsessionnews.com Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyiapkan berbagai program pendampingan bagi pelaku ekonomi kreatif (ekraf) agar dapat menghasilkan produk ekraf berdaya saing tinggi. Tidak hanya untuk pasar tanah air, tapi juga internasional.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno melakukan kunjungan kerja ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, Jumat (15/1/2021). Dalam kesempatan itu, Menparekraf berkunjung ke ke Desa Wisata Sukarara dan Desa Sade, di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Menparekraf melihat potensi besar yang dimiliki desa wisata tersebut. Mulai dari budaya, kehidupan masyarakat, juga deretan produk ekonomi kreatif seperti kuliner serta tenun Songket yang begitu indah.

“Saya tadi sudah mendengar keluhan-keluhan dari para pelaku ekraf di sini, pertama kendala di pemasaran, kedua permodalan, ketiga adalah peningkatan SDM (sumber daya manusia) di sini. Kita akan merancang program sehingga bisa berkolaborasi dengan pemerintah daerah NTB untuk menciptakan peluang dan lapangan pekerjaan seluas-luasnya,” kata Sandiaga dalam keterangan tertulisnya yang diterima obsessionnews.com, Sabtu (16/1/2021).

Dalam hal ini, pria yang akrab disapa Sandi ini akan melibatkan desainer-desainer terbaik tanah air agar produk kriya yang ada di Desa Sukarara dan Desa Sade bisa menembus pasar tidak hanya nasional melainkan pasar global.

Desa Sukarara dan Desa Sade merupakan daerah penghasil kain songket yang terkenal di Lombok. Bahkan, ketenaran kain tenun Desa Sukarara sudah berhasil menembus pasar internasional. Untuk menjadikan satu kain tenun sepanjang satu meter tidak dibuat dalam waktu singkat. Bisa menghabiskan waktu satu hingga tiga bulan dalam menenunnya.

“Produk-produk yang sudah memiliki kualitas internasional dari segi desain perlu pendekatan kekinian. Saya juga akan menjalin kerja sama dengan beberapa teman di luar negeri untuk menarik desainer terbaik. Apabila Desa Sukarara dan Sade siap, kita akan membuat program sinergi untuk memacu peningkatan kualitas produk,” ujarnya.

Sandi juga mencoba merasakan langsung proses tenun yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat Desa Sukarara dan Desa Sade.

“Saya juga mencoba menenun tadi dan ternyata susah banget, dan saya sangat menghargai produk tenun lokal ini. Saya sampaikan ke teman-teman jangan ditawar kalau beli tenun songket di sini, bangga buatan Indonesia, bangga berwisata ke Indonesia,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf Hari Sungkari menjelaskan bahwa Kemenparekraf memiliki program pendampingan dan pelatihan goes digital. Yakni para pelaku ekonomi kreatif akan diberikan pelatihan tentang bagaimana memasarkan produk UMKM secara digital, mulai dari teknik foto hingga pengemasan produknya. Sehingga seluruh subsektor ekonomi kreatif terlibat.

“Saya berharap tenun disini tidak hanya tergantung wisatawan yang datang saja, melainkan seluruh Indonesia bahkan internasional bisa membeli hasil karya tenun Desa Sukarara dan Desa Sade tanpa harus datang kesini,” kata Hari.

Dia mengungkapkan, ada rasa bangga tersendiri ketika produk kreatif lokal Indonesia mampu menembus pasar internasional dan go digital. “Selain itu, kita juga punya program agar tenun ini bisa ready to wear, seperti tas atau sepatu. Karena melalui fesyen ini tenun bisa dikenal hingga seluruh dunia,” katanya.

Sementara itu, Gubernur NTB Zulkieflimansyah menjelaskan, kendala pelaku ekraf di tengah pandemi saat ini adalah terkait pemasaran. Pemprov NTB sendiri sebelumnya telah meluncurkan program NTB Shop dalam membantu para pelaku ekonomi kreatif di NTB dalam memasarkan produk.

“Jadi Pemda mengambil semua produk-produk UMKM dan kita distribusikan melalui Bumdes atau melalui atau melalui platform kita. Jadi kita bisa belanja. Sehingga apabila sudah terbentuk pasarnya dan adanya feedback peningkatan kualitas, bisa didistribusikan ke luar NTB,” ujarnya.

Terkait dengan penyelenggaraan event, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani menuturkan bahwa Kemenparekraf memiliki program jangka pendek yang tahun lalu pernah diselenggarakan di Bali yaitu “We Love Bali”. Program ini bertujuan untuk menggerakan wisatawan lokal untuk berkunjung di destinasi yang ada di daerah tersebut.

Rencananya tahun ini program tersebut juga akan diadakan di NTB yang diberi tajuk ‘We Love Lombok Sumbawa’.

“Kita akan bekerja sama dengan menggandeng indsutri lokal, guide lokal, rumah makan lokal. Selain itu, kami juga akan mengajak key opinion leader untuk bersama-sama mempromosikan program tersebut,”jelas Rizki. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.