Sabtu, 28 November 20

Kemenparekraf Kenalkan Dusun Ende Lewat Famtrip

Kemenparekraf Kenalkan Dusun Ende Lewat Famtrip
* Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengajak rombongan familiarization trip (famtrip) asal Dubai untuk berkunjung ke Dusun Ende. (Foto: Dok Kemenparekraf)

Jakarta, Obsessionnews.com – Jika Anda berlibur ke wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), tak afdol rasanya kalau belum berkunjung ke Dusun Ende di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Mengobati rasa penasaran, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengajak rombongan familiarization trip (famtrip) asal Dubai untuk berkunjung ke Dusun Ende. Famtrip ini berlangsung pada 1-8 Desember 2019.

Dari Kota Mataram, perjalanan sejauh lebih kurang 40 km, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Begitu sampai di lokasi, rombongan disambut ramah oleh masyarakat Suku Sasak yang mendiami Dusun Ende.

Hal pertama yang menarik perhatian peserta famtrip adalah rumah penduduk di Dusun Ende yang masih sangat sederhana. Siapa sangka, rumah tersebut dibangun hanya menggunakan tanah liat yang dicampur kotoran kerbau. Atapnya terbuat dari ilalang, dan didesain miring sehingga para tamu yang berkunjung harus menundukkan kepala. Hal itu dimaknai sebagai penghormatan kepada pemilik rumah.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Ende menjalani aktivitas dengan memegang teguh tradisi yang masih mengakar dari para leluhur. Salah satunya yaitu prosesi kawin lari. Dalam tradisi ini, pihak pria membawa lari wanita yang akan dinikahinya.

Hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua si wanita. Biasanya, waktu pelarian berlangsung 3 hari. Selanjutnya, orang tua wanita akan menebus untuk membicarakan kelanjutan hubungan ke jenjang pernikahan.

Dari keterangan tertulis Kemenparekraf yang diterima obsessionnews.com pada Sabtu (7/12/2019) salah satu peserta famtrip dari Social Media Influencer Sapna Aidasani mengaku takjub dengan rumah Suku Sasak tersebut. Meski bentuknya sederhana, namun cara pembangunannya memberi daya tarik tersendiri untuk disimak.

“Saya tidak pernah terpikir ada rumah yang dibangun dari tanah liat dan kotoran kerbau. Meski sepintas membuat saya agak bergidik, tetapi ini sangat unik. Aromanya juga tidak membuat kita mual. Kita ‘enjoy’ di sini,” ujarnya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenparekraf Nia Niscaya menegaskan, potensi pasar Timur Tengah masih terbuka lebar dan perlu untuk dimaksimalkan. Terutama untuk destinasi wisata yang saat ini dikunjungi, yaitu Bali dan Lombok.

“Kami berharap Bali dan Lombok akan semakin dikenal oleh wisatawan Timur Tengah,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, lanjut Nia, para peserta famtrip bisa membantu mempromosikannya lewat publikasi media di negaranya. Baik cetak maupun online, dan juga media elektronik.

“Kami optimistis kunjungan wisman Timur Tengah akan meningkat,” pungkasnya. (Poy)

Related posts

1 Comment

  1. tantowi

    slamat pagi. salam hangat dari penduduk sasak ende.
    mohon maaf sebelumnya. sedikit koreksi mengenai lokasi sasak ende berada di Desa Sengkol bukan Desa Rembitan.
    matur tampiasih

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.