Senin, 17 Februari 20

Jejak Wali Songo di Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Jejak Wali Songo di Masjid Agung Sang Cipta Rasa
* Masjid Sang Cipta Rasa menjadi salah satu peninggalan Wali Songo yang masih bisa disaksikan.

Cirebon, Obsessionnews – Cirebon sejak lama dikenal sebagai kota religi. Sebagai kota yang memiliki peranan penting dalam sejarah panjang penyebaran Islam di Jawa dan Nusantara, Cirebon memiliki banyak pondok pesantren dan situs-situs keagamaan lainnya.

Umumnya, setiap Ramadhan, sejumlah situs keagamaan di Cirebon selalu ramai dikunjungi para peziarah. Selain keraton, salah satu situs peninggalan di era penyebaran Islam di Cirebon yang sering dikunjungi para peziarah adalah Masjid Sang Cipta Rasa.

Tampak dalam Masjid Sang Cipta Rasa (istimewa).
Tampak dalam Masjid Sang Cipta Rasa (istimewa).

Sejak dipimpin oleh Mbah Kuwu Carbon atau Cakrabuana atau Walangsungsang pada 1447 M, Cirebon terus berkembang pesat sebagai pusat dakwah, pemerintahan, dan ekonomi. Puncaknya adalah ketika Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati memerintah Cirebon yang telah berubah menjadi kesultanan.

Syarif Hidayatullah yang merupakan keponakan dan menantu dari Cakrabuana menjadi tokoh sentral dalam penyebaran Islam di Jawa, terutama di Jawa bagian barat. Putra dari Nyi Rara Santang tersebut juga menyebarkan Islam hingga Banten.

Pada tahun 1498, Wali Songo yang dipimpin Sunan Gunung Jati membangun Masjid Agung Cirebon. Pembangunan masjid ini dipimpin oleh Sunan Kalijaga dan Raden Sepat, seorang arsitek dari Majapahit dan dibantu 200 orang.

Pada masa itu masjid tersebut disebut Masjid Pakungwati karena terletak bersebelahan dengan alun-alun Keraton Pakungwati atau Keraton Kasepuhan, saat ini. Kini, masjid ini disebut Sang Cipta Rasa.

Menurut cerita, Masjid Sang Cipta Rasa dibangun dalam waktu semalam. Bahkan bisa langsung digunakan untuk shalat Subuh.

Bangunan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki 9 pintu sebagai simbol Wali Songo yang turut berkontribusi dalam proses pembangunannya. Pintu utama masjid ini berada di sisi timur dan sejajar dengan mihrab. Hanya saja, pintu utama ini nyaris tak pernah dibuka kecuali pada saat sholat Jum’at, sholat hari raya, dan peringatan hari-hari besar Islam.

Dua kolam Banyu Cis Sang Cipta Rasa (istimewa).
Dua kolam Banyu Cis Sang Cipta Rasa (istimewa).

Sementara 8 pintu lainnya ditempatkan di sisi kanan dan kiri. Kedelapan pintu itu berukuran sangat kecil dibandingkan ukuran normal sebuah pintu, sehingga bisa memaksa orang dewasa untuk menunduk saat akan masuk ke dalam masjid. Kecilnya kedelapan pintu itu, sejatinya, merupakan simbol penghormatan dan kerendah-hatian seorang muslim saat memasuki masjid.

Keunikan lainnya juga banyak ditemuai di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Salah satunya adalah adanya sokoguru yang berjumlah 12 tiang. Semua tiang tersebut terbuat dari kayu jati dengan diameter sekitar 60 sentimeter dan tinggi mencapai 14 meter. Karena usia masjid yang sudah mencapai lebih dari 500 tahun, saat ini seluruh sokoguru di dalam masjid ditopang dengan rangkaian besi baja.

Tak hanya karena bernilai sejarah, Masjid Sang Cipta Rasa juga sering dikunjungi karena adanya Banyu Cis Sang Cipta Rasa. Konon, selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga bisa digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

Satu hal paling unik di Masjid Sang Cipta Rasa adalah adanya tradisi ‘adzan pitu’. Yaitu pelaksanaan kumandang adzan yang dilakukan oleh tujuh orang sekaligus secara bersamaan. Kini, adzan pitu masih tetap dilaksanakan di Masjid Sang Cipta Rasa menjelang sholat Jum’at oleh tujuh muadzin yang mengenakan pakaian serba putih.

Sang - 4
Kumandang adzan Shalat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa dilakukan oleh 7 muadzin (istimewa).

Cerita seputar adzan pitu ini rupanya menarik untuk disimak. Alkisah, pada zaman dahulu, warga Cirebon diserang oleh Aji Menjangan Wulung yang datang menebarkan petaka. Petaka itu datang jelang dilaksanakannya shalat Subuh dan membuat beberapa muazin yang hendak mengumandangkan azan tewas olehnya.

Untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, Sunan Gunung Jati memerintahkan tujuh orang muazin mengumandangkan azan secara bersamaan.

Masjid Sang Cipta Rasa ini juga diketahui pernah terhindar dari pemboman para penjajah. Konon, di masa penjajahan, berulang kali pasukan Belanda sengaja menjadikan masjid ini sebagai target pemboman. Namun, niat itu tak pernah berhasil. Bom-bom yang diarahkan ke Masjid Sang Cipta Rasa justru menghantam obyek lain.

Teranyar, pada Februari 2010 lalu, masjid ini kembali menjadi target usaha pengeboman oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Salah seorang pengurus masjid menemukan bungkusan bom rakitan di dalam masjid sehari setelah puncak perayaan maulid Nabi. Namun, atas kehendak Allah, bom rakitan tersebut tidak meledak meski pemicu bom itu kabarnya sudah dinyalakan. (Fath @imam_fath)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.