Rabu, 20 November 19

Jalan Terang Kasus Novel Baswedan, dan Peran Oknum Polisi di Belakangnya

Jalan Terang Kasus Novel Baswedan, dan Peran Oknum Polisi di Belakangnya
* Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan. (Foto: Merdeka.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Penyidik dari Polda Metro Jaya bersama Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian memeriksa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan atas kasus penyerangan yang menimpanya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, pemeriksaan ini untuk melanjutkan pemeriksaan yang pernah juga dilakukan saat Novel dirawat di Singapura. Tujuannya untuk menggali informasi terkait peristiwa penyiraman beberapa waktu silam. Sehingga dapat segera menemukan titik terang.

“Materi yang dipertanyakan berkaitan dengan apakah yang bersangkutan ada ancaman, apakah ada saksi lain dan sebagainya,” ungkap Argo, Kamis (20/6/2019).

Salah satu kuasa hukum Novel Baswedan, Arif Maulana menyebut dalam pemeriksaan itu kliennya sempat ditanya soal keterlibatan oknum Polri dalam kasus penyiraman air keras tersebut. Novel pun disebut memberikan nama oknum Polri tersebut ke penyidik. Arif menyampaikan itu berdampingan dengan Novel.

“Ya tadi keterlibatan terkait anggota kepolisian ada pertanyaan yang diajukan oleh salah satu anggota tim kepada Mas Novel, ada pertanyaan. Beliau menyebutkan nama salah satu anggota kepolisian,” tutur Arif Maulana di KPK, Jakarta.

Arif enggan menyebutkan nama oknum Polri tersebut. Namun, ia mengatakan oknum Polri itu berkaitan dengan pengagalan operasi tangkap tangan (OTT) KPK soal kasus reklamasi. “Dia berkaitan dengan kasus penggagalan OTT KPK di kasus reklamasi,” sebut Arif.

Saat dikonfirmasi soal hal itu, Novel enggan menjelaskan lebih rinci soal oknum Polri tersebut. Novel hanya ingin tim gabungan bentukan Kapolri itu berfokus menangkap pelaku teror terhadap dirinya dan pegawai KPK. Bukan malah mencampur adukan dengan perkara yang lain sehingga tidak kunjung terungkap.

“Saya minta pemeriksaan fokus kepada yang mana, kalau nanti dicampuraduk bukannya malah bisa mengungkap malah punya lagi gambaran seolah-olah nggak bisa dibuktikan,” kata Novel.

“Saya juga penyidik saya juga punya pemahaman yang kuat dalam pembuktian, yang mana pembuktian perkara harus jelas, tidak 10 perkara digabung menjadi 1 terus kemudian ruwet jadi tidak ketemu,” sambungnya.

Untuk, Novel meminta polisi ketimbang terus bertanya soal siapa oknum Polri tersebut, lebih baik segera menangkap pelaku penyiraman terhadapnya itu. Menurut Novel, cara itu akan lebih efektif dalam mengungkap kasus tersebut.

“Jadi siapapun pihak yang ingin saya menceritakan soal motif, menceritakan latar belakang siapa oknum dibelakangan, yang saya katakan lebih baik tangkap dulu pelaku lapangannya bukankah buktinya harusnya ada,” jelas Novel.

Pemeriksaan ini seolah membuka harapan bagi Novel Baswedan akan jalan terang pengungkapan kasusnya yang sudah lama tersamar-samar. Nantinya, seluruh temuan TGPF akan disampaikan pada Juli 2019 mendatang.

“Jadi itu sedang bekerja sampai diberi waktu kan enam bulan sejak Januari, sampai nanti Juli kira-kira,” tutur Anggota TGPF, Hendardi.

Menurut Hendardi, pengungkapan temuan itu akan disampaikan terlebih dulu kepada Kapolri Tito. Selanjutnya, publik baru akan menerima keseluruhan hasil kerja TGPF kasus penyerangan Novel selama setengah tahun itu.

“Hasil konkret saya nggak tahu ukuran konkretnya. Tapi yang jelas, kami melakukan melanjutkan investigasi atas kasus ini. Mungkin soal hasilnya nanti dong,” tuturnya.

Pemeriksaan kali ini merupakan bagian pendalaman lanjutan setelah keterangan awal Novel Baswedan yang disampaikan di Singapura. TGPF sendiri terdiri dari unsur kepolisian, tim pakar, hingga unsur dari KPK.

“Akan dilaporkan ke Kapolri. Kan tim yang bentuk Kapolri. Nanti kapolri perintahnya bagaimana, apakah kami mengumumkan, atau beliau sendiri yang mengumumkan. Itu terserah yang memberikan mandat,” Hendardi menandaskan.

Novel Baswedan diserang oleh dua orang pengendara motor pada 11 April 2017 seusai salat subuh di Masjid Al-Ihsan, Kelapa Gading, Jakarta Utara yang tak jauh dari rumahnya. Pelaku menyiramkan air keras ke kedua mata Novel sehingga mengakibatkan mata kirinya tidak dapat melihat.

Mata kirinya mengalami kerusakan yang lebih parah dibanding mata kanannya. Menjelang 800 hari peristiwa tersebut, polisi belum bisa mengungkap siapa pelaku dan otak dibalik penyiraman air keras Novel Baswedan. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.