Selasa, 26 Januari 21

Injeksi Computational Thinking Didorong Dilakukan di Madrasah

Injeksi Computational Thinking Didorong Dilakukan di Madrasah
* Menteri Agama Fachrul Razi. (Foto: Humas Kemenag)

Jakarta, Obsessionnews.com – Injeksi Computational Thinking (CT) didorong dilakukan di lingkungan madrasah. Hal ini perlu dilakukan untuk mempersiapkan siswa madrasah yang berdaya saing dan mampu beradaptasi dalam dunia digital di era Revolusi Industri 4.0.

Hal ini dikemukakan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi ketika membuka Webinar tentang Injeksi Computational Thinking di Madrasah, yang digelar oleh Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Jawa Tengah, Senin (2/11/2020).

“Saat ini kita memasuki era revolusi industri 4.0, di mana ada pergeseran kebutuhan profil kompetensi dulu dengan kebutuhan kompetensi anak-anak kita sekarang dan nanti,” kata Menag.

“Anak-anak kita yang saat ini belajar di madrasah membutuhkan kompetensi abad ke-21, bukan kompetensi yang pernah kita pelajari dulu,” imbuhnya.

Computational Thinking atau Pemikiran Komputasi sendiri merupakan  pemikiran yang digaungkan oleh Seymour Papert dalam bukunya yang berjudul Mindstrom. Penguasaan Computational Thinking sangat penting di era digital saat ini, karena melalui kecakapan ini siswa diajarkan bagaimana berpikir seperti cara para ilmuwan komputer, dan menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata.

Menurut Fachrul, Revolusi Industri 4.0 membawa implikasi terhadap disrupsi jenis dan bentuk profesi di masa depan. Banyak ahli memprediksi bahwa di masa mendatang akan ada banyak profesi pekerjaan yang hilang atau tidak lagi dibutuhkan, dan akan lahir jenis dan bentuk profesi baru yang mungkin belum kita kenal.

“Banyak pekerjaan mungkin akan tergantikan oleh robot. Inilah tantangan dunia pendidikan kita saat ini,” ujar Fachrul.

Untuk menghadapi hal tersebut dia pun berpesan tiga hal. Pertama, dia berharap pendidikan harus mampu membekali siswa dengan kemampuan untuk mengatur, memerintahkan, dan menguasai robot. Bukan malah sebaliknya manusia yang diatur dan dikuasai oleh robot.

“Kedua, saatnya kita mulai mengubah mindset dan orientasi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada formalitas administratif saja, seperti ijazah, gelar, piagam, dan sebagainya,” tuturnya.

Ketiga, Fachrul mengingatkan pentingnya penguasaan kemampuan dasar tentang logika, kemampuan berbahasa dan berkomunikasi yang baik, kemampuan dasar matematika dan ilmu alam. Pesatnya kemajuan teknologi artificial intelligence dan robotik saat ini tidak mungkin dapat dikendalikan jika kita tidak mempunyai kemampuan dasar yang dibutuhkan.

“Dalam konteks inilah kebutuhan penguasaan computational thinking bagi anak didik kita merupakan sebuah keniscayaan dan tuntutan zaman yang tidak bisa terhindarkan jika kita ingin mereka tetap survive di masa mendatang,” tandasnya.

Fachrul pun mengingatkan agar para siswa siswi serta guru madrasah tidak hanya puas menjadi penonton dan penikmat teknologi saja.

“Tetapi sebaliknya kita harus juga menjadi pemain tekologi artificial intelligence dan robotik abad 21,” ujarnya.

Fachrul menegaskan, madrasah memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan pesatnya kemajuan iptek yang nyaris bebas nilai tersebut dengan landasan nilai-nilai agama.

“Inilah tantangan anak-anakku, siswa siswi madrasah agar mampu mengintegrasikan iptek dan imtaq secara seimbang dan proporsional,” tuturnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.