Kamis, 22 Oktober 20

Ini Harapan Mbah Moen Soal Pemimpin Indonesia

Ini Harapan Mbah Moen Soal Pemimpin Indonesia
* KH Maimun Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen. (Foto: Fikar/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.com – KH Maimun Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen meninggal dunia di Mekah, Arab Saudi pada Selasa (6/8/2019). Meninggalnya Mbah Moen ini menyisahkan duka yang mendalam bagi umat Islam di Indonesia.

Pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928 ini merupakan ulama dan kiai sepuh ormas Islam terbesar di Tanah Air, yakni Nahdlatul Ulama (NU). Tak hanya itu, Mbah Moen juga dikenal sebagai politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

 

Baca juga:

Muhammadiyah Ajak Masyarakat Doakan Mbah Moen

Mahfud MD: Mbah Moen Meninggal dI Tempat yang Dicintainya

Mbah Moen Wafat Saat Menunaikan Ibadah Haji

 

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang itu meninggal di usianya yang hampir memasuki 91 tahun. Meski begitu, semasa hidupnya Mbah Moen dihormati dan disegani oleh masyarakat umum sampai ke tokoh nasional.

Sejak kecil Mbah Moen dikenal sebagai anak yang taat akan agama. Pada tahun 1945 beliau bertolak ke Kota Kediri untuk mengasah ilmunya di Pondok Lirboyo, Jawa Timur yang pada saat itu di bawah pengasuhan KH Abdul Karim, KH Mahrus Ali dan KH Marzuki. Selama lima tahun, Mbah Moen terus mengasah ilmu agama di Pondok Lirboyo.

Sampai akhirnya, Mbah Moen mendirikan pondok pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Kemudian sekitar tahun 2008, kembali mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar 2 di Gondan, Sarang, Rembang, yang kemudian oleh beliau dipasrahkan kepada putranya KH Ubab Maimun.

Dalam dunia politik, Mbah Moen pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang, Jawa Tengah selama 7 tahun. Selain itu Mbah Moen juga pernah menjadi anggota MPR RI yang mewakili daerah Jawa Tengah selama tiga periode.

Dalam karir politiknya, Mbah Moen memilih bergabung ke PPP. Di saat NU sedang ramai mendirikan PKB tahun 1998, Mbah Moen lebih memilih tetap di PPP, yakni partai dengan gambar Ka’bah.

Pada saat itu, Mbah Moen menduduki posisi sebagai Ketua Mejelis Syariah PPP. Mbah Moen pernah mengatakan PPP bukan hanya untuk agama Islam, tapi PPP hadir untuk Indonesia.

Hilmi ketika bersama Mbah Moen.

Meninggalnya Mbah Moen tak hanya mengisahkan duka yang mendalam bagi umat Islam di Indonesia. Berita duka Mbah Moen juga mengisahkan kesedihan yang mendalam bagi Koordinator Multimedia Munas Alim Ulama, yakni Muhammad Hilmi Muharromi.

Pria yang akrab disapa Hilmi ini mengaku punya kesan mendalam saat dirinya ditugaskan untuk berinteraksi dengan Mbah Moen di acara Munas Alim Ulama beberapa waktu lalu. Saat melakukan wawancara kepada Mbah Moen, pria yang mengaku pada 2004-2010 pernah menjadi santri ini merasa nyaman dan membangkitkan keinginannya untuk menjadi santri kembali.

“Sosok yang sangat membuat saya ingin menjadi santri kembali,” ujar Hilmi kepada obsessionnews.com, Selasa (6/8).

Keinginan itu timbul saat pria jebolan As-Syafiiyah Pulo Air, Sukabumi dan Alhamidiyah, Depok ini melakukan interview kepada tokoh ulama besar itu. Selama mewawancari Mbah Moen, Hilmi mengaku tidak berasa seperti wawancara.

“Mungkin lebih tepatnya terasa seperti ngaji tabarukan singkat dengan Mbah Moen,  ya lebih tepatnya ngaji karena penyampaian dan materinya sangat santun,” ungkap Hilmi.

Terlebih ketika Hilmi bertanya kepada Mbah Moen tentang sosok pemimpin Indonesia yang diharapkan,  dengan santun Mbah Moen menjawab, sosok yang “ud’u ila sabili robbika bilhikmah”.

“Sosok yang dapat mengajak umat ke kebaikan dengan kebijaksanaan dan mauidzoh hasanah,” pungkasnya. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.