Selasa, 1 Desember 20

Industri AMDK Terganggu Iklan Produsen Yang Langgar Aturan

Industri AMDK Terganggu Iklan Produsen Yang Langgar Aturan
* Ilustrasi air minum dalam kemasan yang banyak beredar di pasaran (foto : Ist)

Jakarta, Obsessionnews.com – Iklan produk air minum dalam kemasan (AMDK) baru-baru ini membuat gempar industri AMDK. Pasalnya salah satu produsen dalam iklan itu mengandung konten yang menyudutkan produsen AMDK lain. Dalam iklan dikatakan bahwa galon berbahan Polyethylene Terephthalate (PET) tidak mengandung bahan BPA yang berbahaya.

Seperti diketahui, Le Mineral baru-baru ini mengeluarkan produk galon sekali pakai berbahan PET. Sementara industri AMDK lainnya seperti AQUA, Club, Prim A, Prius, Vit, dan Oasis, sudah puluhan tahun memproduksi produk galon guna ulang berbahan BPA.

Menanggapi iklan itu Sekjen Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), Herry Margono mengatakan iklan galon sekali pakai itu bukan hanya memberikan informasi yang salah kepada masyarakat tapi juga bagaimana membangun public mind.  Herry juga mengakui bahwa dalam pembahasannya dengan tim ahli Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), mereka mengatakan bahwa iklan galon sekali pakai itu melanggar etika periklanan produk pangan.

“Saya di Badan POM juga masuk dalam tim ahli, dan waktu itu kita bahas itu (soal iklan galon sekali pakai), dan itu dinyatakan melanggar karena dinilai  sudah mendiskreditkan produk lain. Itu keputusan Badan Pengawas Badan BPOM. Tapi setelah diputuskan melanggar, mau diapain saya nggak ngerti. Tapi dari tim ahli waktu itu kita putuskan itu melanggar,” ucapnya.

Anthonius Malau, Koordinator Pengendalian Konten Internet Kemenkominfo, mengatakan Kemenkominfo siap bertindak sebagai algojo atau eksekutor terhadap permintaan Badan POM untuk melakukan pemblokiran terhadap konten-konten yang dinilai telah melanggar Peraturan Perundang-undangan, mulai dari Undang-Undang, PP (Peraturan Pemerintah), Peraturan Menteri atau bahkan Perka (Peraturan Badan POM). Namun terkait iklan galon sekali pakai yang dinilai telah melanggar etika periklanan, dia mengakui masih belum mendapat laporan dari BPOM hingga saat ini.

“Kami tunggu dulu laporan dari BPOM-nya. Nanti kalau dia berbasis website, tentu kami lebih mudah untuk melakukan sinkronisasi dengan penyedia internet dan diupayakan langsung dalam waktu 3×24 jam itu bisa diblokir. Kalau ada di media sosial nanti kami mintakan take down,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Kemasan Indonesia (Aspadin), Rachmat Hidayat, mengaku sangat menyayangkan iklan galon sekali pakai itu. Menurutnya, pelaku industri AMDK yang sadar dan paham, tidak akan berani main-main dalam periklanannya. Sebab sudah jelas ada aturan yang baku dan ketat terutama tentang etika periklanan.

“Kita ada Undang-Undang Pangan UU No. 18 tahun 2012 bahwa setiap orang dilarang memuat pernyataan atau keterangan yang tidak benar atau menyesatkan dalam iklan pangan yang dia perdagangkan. Kalau dia berani melanggar apa ancaman hukumannya? Ada dipasal 145 bahwa dia akan kena ancaman penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp6 miliar,” ucapnya.

Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan dan Halal Badan Standardisasi Nasional (BSN), Wahyu Purbowasito, menegaskan bahwa klaim yang disampaikan galon sekali pakai yang mengatakan galon berbahan PC mengeluarkan bahan yang berbahaya buat kesehatan itu harus disertai scientific base dan tidak bisa sepihak. Memang tidak menutup kemungkinan bahwa banyak pelaku usaha yang asal klaim, namun jika merujuk pada aturan semua klaim tersebut harus didasarkan pada kenyataan yang ada.

“Scientific base itu ada rule-nya sendiri, ada bukti apa itu dikatakan berbahaya atau tidak,” ungkapnya.

Wakil Ketua Badan Perlindungan Konsimen Nasional (BPKN), Rolas Sitinjak mengutarakan banyak iklan-iklan yang sangat menyesatkan di lapangan sekarang ini. Karenanya dia mengajak pelaku-pelaku usaha untuk melakukan edukasi melalui iklan.

“Sudah ada beberapa kali organisasi teman-teman periklanan diskusi bersama kami menyatakan bahwasanya di dalam periklanan ini masih ambigu, masih belum jelas regulasi-regulasinya,” tukasnya. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.