Selasa, 29 September 20

Indonesia Belum Resesi

Indonesia Belum Resesi
* Ilustrasi Resesi.

Jakarta, Obsessionnews.comDalam ekonomi makro, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi.

Resesi ekonomi yang berlangsung lama disebut depresi ekonomi. Penurunan drastis tingkat ekonomi atau biasanya akibat depresi parah, atau akibat hiperinflasi disebut kebangkrutan ekonomi (economy collapse).

Dampak Covid-19 menyambar sektor ekonomi, beberapa negara di dunia telah menyatakan resesi seperti Amerika Serikat, Singapura, Korea Selatan, Hongkong dan Uni Eropa. Pertumbuhan ekonomi beberapa negara tersebut sudah minus dalam 2 kuartal secara berturut-turut. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Pada Rabu (5/8/2020) BPS telah menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II minus 5,32% (yoy). Hal ini memicu kekhawatiran Indonesia akan mengalami resesi seperti negara lain jika pada kuartal III pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali minus.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan Indonesia hanya mengalami kontraksi ekonomi, belum bisa disebut resesi.

“Sebenarnya kalau dilihat secara YoY kita belum resesi, kita baru mengalami kontraksi. Untuk resesi dilihat secara year on year 2 kuartal beruturut-turut,” ujarnya dalam Konfrensi Pers Virtual, Rabu (5/8).

Dia juga optimis Indonesia tidak akan resesi dengan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak minus pada kuartal ke III dan seterusnya. Dia menyebutkan, data pada kuartal ke II ini akan menjadi pemicu agar pada kuartal III dan IV kedepan tidak negative.

Jika itu terjadi maka diharapkan pertumbuhan ekonomi akan tetap berada di zona positif sekitar 0-0,5%” ungkapnya.

Meskipun saat ini Indonesia belum mengalami resesi, tetapi masih ada kemungkinan terjadi karena saat ini penanganan pandemi virus corona belum optimal sehingga masyarakat masih enggan atau takut untuk berbelanja, padahal kunci utama perekonomian terdapat pada konsumsi rumah tangga.

Saat ini perekonomian di seluruh dunia sedang mengalami penyesuaian terhadap kondisi baru. Akibatnya perlu ada penyesuaian kebijakan serta aturan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun bank sentral.

“Hal ini dapat dilakukan dengan pengelolaan aspek tenaga kerja, barang modal, dan sumber daya produktif lainnya yang sesuai dengan protokol Covid 19,” tuturnya.

Berita tentang resesi ini menjadi trending topic di mesin pencari google. Dari pantauan obsessionnews.com di Google Trends wilayah Indonesia pada Rabu (12/8) pukul 13.00 WIB, berita ini ditelusuri lebih dari 20.000 kali. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.