Jumat, 22 Oktober 21

IA ITB Perlu Bentuk Platform Gotong Royong Para Intelektual Bangsa

IA ITB Perlu Bentuk Platform Gotong Royong Para Intelektual Bangsa
* Bakal Calon Ketua Umum Ikatan Alumni (IA) ITB Periode 2021-2025 Bimo Sasongko. (Foto: Istimewa)

Jakarta, obsessionnews.com – Institut Teknologi Bandung (ITB) telah memiliki alumni yang kental dengan semangat perjuangan dan gotong royong. Serta mendorong domokratisasi disegala bidang, utamanya demokratisasi teknologi.

Bakal Calon Ketua Umum Ikatan Alumni (IA) ITB Periode 2021-2025 Bimo Sasongko mengatakan, IA ITB perlu membentuk platform gotong royong para intelektual bangsa yang sesuai dengan pembangunan manusia Indonesia khususnya membentuk SDM terbarukan.

“Karena selama ini para intelektual bangsa lebih suka kerja sendiri dan terlalu sibuk dengan ambisi masing-masing,” ujar Bimo dalam keterangan tertulisnya yang diterima obsessionnews.com, Sabtu (30/1/2021).

Akibatnya progres kemajuan bangsa tesendat dan indeks daya saing SDM bangsa belum menggembirakan. Untuk itu, perlu terobosan dalam pembangunan manusia agar bisa membuahkan produktivitas yang tinggi serta meningkatnya nilai tambah lokal.

“Saatnya kerja yang cerdas dan berkualitas, bukan kerja asal kerja karena dampak pandemi Covid-19 telah mendorong dunia melakukan tatanan baru,” tegas alumni Jurusan Teknik Informatika angkatan 1990 itu.

Menurut dia, intelektual Indonesia kerja bersama disemangati oleh nilai tradisi ke Indonesiaan yang telah membumi berabad-abad. Esensi kerja bersama adalah ‘holopis kuntul baris’ yang identik dengan prilaku gotong royong ajaran leluhur bangsa.

“Lalu diformulasikan secara ideologis oleh seorang alumnus ITB yakni Presiden RI pertama Soekarno dan dilanjutkan oleh Presiden ke-3 Bapak BJ. Habibie,” ungkap Bimo.

Makna terdalam yang terkandung lembaga pendidikan tinggi seperti ITB adalah menyiapkan sebanyak mungkin SDM Iptek yang unggul. Baik SDM yang menggeluti hi-tech atau teknologi canggih maupun teknologi tepat guna yang sangat dibutuhkan oleh usaha rakyat.

Untuk mencetak dua kategori SDM Iptek tersebut dibutuhkan program yang progresif dan luar biasa. Menyiapkan SDM tanpa mewujudkan demokratisasi teknologi tidak akan optimal.

“Generasi milenial Indonesia sebagian besar hanya menjadi obyek produk teknologi dari luar negeri. Generasi milenial semakin kecanduan konsumerisme produk teknologi tanpa berdaya menumbuhkan nilai tambahnya,” ucapnya.

Tak hanya itu, IA ITB juga memiliki peran untuk mengatasi kebutuhan ruang kreatifitas dan inovasi segenap milenial bangsa. Sehingga proses demokratisasi teknologi nantinya bisa terwujud.

“Apalagi tren menunjukkan bahwa korporasi dunia sedang menekankan inisitif dan program demokratisasi teknologi,” tambah Bimo.

Menurut dia, saatnya segenap IA ITB bisa tampil sebanyak-banyaknya menjadi skunk works pembangunan. Agar bangsa ini bisa melakukan lompatan yang dramatis.

“Seperti Leprechauns si pelompat yang luar biasa. Leprechauns telah menjadi legenda sekaligus ikon kemajuan bangsa Irlandia,” ungkap Bimo.

Irlandia Merupakan negeri yang berhasil melakukan lompatan besar sehingga dalam waktu yang singkat ( kurang dari satu generasi ) bisa mewujudkan kemajuan dan kemakmuran. Negeri yang bangga mendapat julukan sang Leprechauns itu kini memiliki pendapatan nasional per kapita yang lebih tinggi dari Jerman, Prancis, dan Inggris.

Dia menambahkan, pencetak generasi emas Indonesia tidak semudah membalikkan tangan. Harus ada usaha keras untuk melepas belenggu sistem pendidikan nasional lalu dibutuhkan inisiatif jitu yang sesuai semangat zaman.

“Karena pendidikan menjadi kunci kemajuan dan cara terbaik untuk meningkatkan martabat bangsa,” tegasnya.

Untuk itu,proses pendidikan mestinya tidak terjebak dalam rutinitas dan formalitas belaka. “Tetapi harus ada terobosan yang bersifat inovatif, kreatif dan transformatif dalam hal mencetak generasi emas menuju bangsa yang maju,” pungkas Bimo. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.