Selasa, 24 September 19

Hikam: Jadi Oposisi Pasca Pilpres, Pengaruh FPI di Kancah Politik Indonesia Akan Semakin Terasa

Hikam: Jadi Oposisi Pasca Pilpres, Pengaruh FPI di Kancah Politik Indonesia Akan Semakin Terasa
* pengamat politik dari President University Muhammad AS Hikam. (Foto: FB AS Hikam)

Jakarta, Obsessionnews.com – Front Pembela Islam (FPI) akan mengambil langkah jihad panjang secara konstitusional apabila Mahkamah Konstitusi (MK) memenangkan pasangan calon (paslon) O1 Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Sikap FPI tersebut diungkapkan
Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) Ahmad Sobri Lubis dalam orasinya mengawal sidang putusan Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK),  Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat (27/6/2019).

“01 yang menang, kita tetap akan berjuang. Siapkan diri kita untuk jihad panjang, jihad konstitusional jangka panjang,” kata Sobri.

Ia juga menegaskan FPI akan tetap berjuang terus meski gugatan paslon 02 Prabowo-Sandiaga mencari kebenaran dan keadilan tak boleh berhenti meskipun rezim berganti.

Seperti diketahui MK dalam putusannya menolak seluruh permohonan gugatan yang diajukan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (PS-SU) melalui tim hukumnya.

Putusan ini sekaligus menguatkan keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Menanggapi sikap FPI,
pengamat politik dari President University Muhammad AS Hikam menyatakan tekad FPI melancarkan apa yang disebut dengan jihad konstitusional adalah gestur politik bahwa ormas Islam ini telah berkeputusan untuk menjadi pemuka barisan oposisi terhadap Presiden Jokowi (PJ) dari kalangan masyarakat sipil Indonesia.

“Hemat saya keputusan FPI ini penting bagi perkembangan politik pasca-Pilpres 2019 ini karena beberapa hal. Pertama, dari 9 parpol peserta Pemilu 2019 hanya satu parpol, PKS, yang belum diwacanakan punya kemungkinan masuk ke dalam koalisi petahana. Gerindra, yang merupakan pengusung utama pasangan PS-SU pun sudah dikabarkan sedang dalam tahapan tawar-menawar dengan pihak Istana,” kata Hikam seperti dikutip obsessionnews.com dari blog hikamreader.com

Kedua, jika itu benar-benar terjadi, PKS memerlukan dukungan kekuatan basis untuk menopang posisinya di parlemen, dan FPI akan potensial mengisi keperluan tersebut, bersama dengan komponen-komponan Islam politik lain, seperti GNPF, FUI, eks HTI, dan lain-lain.

Ketiga, dalam konstelasi demikian kehadiran dan pengaruh politik FPI di kancah politik Indonesia akan semakin terasa dan lebih signifikan ketimbang selama ini. Sinergi antara kekuatan politik elektoral dengan politik massa bisa terbangun tanpa mengalami kendala ideologis seperti saat berkolaborasi dengan Gerindra.

Keempat, seandainya Gerindra ternyata urung menjadi bagian dari koalisi petahana, karena satu dan lain hal, dan berbalik bergabung dengan PKS, posisi FPI dalam kubu oposisi tetap menentukan. Gerindra tetap memerlukan sekutu basis massa untuk manuver politiknya pada 5 tahun ke depan.

Kelima, implikasinya FPI punya kesempatan terbuka untuk memperluas dan memperdalam lingkup pengaruh politiknya yang belum pernah mampu dilakukan selama dua dasawarsa terakhir ini. Terpulang kepada pimpinan FPI, khususnya Imam Besar FPI yang masih di Makkah, bagaimana ormas ini akan berkiprah sebagai oposisi pada 5 tahun pemerintahan PJ kedua.

“Dinamika politik lima tahun mendatang akan cenderung lebih tinggi. Bahkan bisa saja volatile, terutama apabila Gerindra tidak jadi bergabung dengan pemerintah. Partai ini juga akan lebih berkesempatan meraih simpati publik melalui jalur oposisi di parlemen ketimbang menjadi pendukung pemerintah. Dengan capaian sebagai nomor dua dalam Pileg 2019, bukan tidak mungkin bisa didongkrak lagi pada 2024!” tandas Hikam.

Bagi kehidupan demokrasi yang sehat, lanjutnya, keberadaan kekuatan oposisi yang kuat sangat penting. Kendati FPI memiliki ideologi politik Islam Salafis, tetapi masih belum bisa dikategorikan sebagai kelompok radikal seperti eks HTI, apalagi dibanding dengan JAT, JAD, NII, JI, ISIS, Al-Qaeda, dan lain-lain.

Jika FPI memperkuat barisan oposisi dari ranah masyarakat sipil, maka kekuatan pengontrol terhadap pemerintahan PJ dan parpol-parpol pendukungnya menjadi besar dan lebih seimbang,” pungkasnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.