Jumat, 28 Februari 20

HGN 2020, Kemenkes Optimalkan Gizi Milenial

HGN 2020, Kemenkes Optimalkan Gizi Milenial
* Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. (Foto: Kapoy/obsessionnews.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Peringatan Hari gizi nasional (HGN) dilaksanakan setiap 25 Januari. Hal ini dilakukan untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya gizi di dalam kehidupan, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua.

Gizi yang baik akan membuat pertumbuhan dan perkembangan menjadi optimal. Sebaliknya jika gizi tidak tercukupi, maka masalah akan muncul. Apalagi jika kekurangan gizi itu terjadi pada masa janin dan anak usia dini. Hal itu akan menghambat perkembangan otak dan menurunnya kemampuan berpikir. Ke depan, anak-anak kekurangan gizi akan sulit berprestasi dalam pendidikannya.

Untuk itu Pemerintah, yakni Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam memperingati HGN 2020 yang ke-60 ini mengusung tema ‘Gizi Optimal untuk Generasi Milenial’. Peringatan itu dilakukan untuk mengingatkan kesadaran masyarakat agar selalu memperhatikan gizi dalam kehidupan.

“Tujuan untuk meningkatkan awareness atau perhatian masyarakat akan pentingnya memperhatikan gizi pada remaja,” ujar Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menjawab pertanyaan obsessionnews.com di  Jakarta, Senin  (20/1/2020).

Sejalan dengan salah satu Visi Presiden RI Joko Widodo, yaitu Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjamin kesehatan ibu hamil dan anak usia sekolah, maka pemilihan tema HGN tahun ini sangat strategis.

“Karena remaja merupakan penentu kualitas suatu bangsa di masa yang akan datang,” kata Pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta ini.

Dia mengakui, Indonesia masih memiliki masalah beban gizi ganda pada remaja, di mana 1 dari 4 remaja puteri Indonesia mengalami Anemia atau kekurangan darah. “16% mengalami kegemukan dan obesitas serta 8,7% remaja kurus,” ungkapnya.

Menurut pria kelahiran Sitisewu, Yogyakarta 5 Agustus 1964 ini, pemenuhan gizi optimal pada usia remaja sangat penting. sebab masalah gizi kurang maupun gizi lebih pada remaja akan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, khususnya risiko terjadinya penyakit tidak menular di usia lanjut, antara lain jantung, diabetes melitus, stroke.

“Bila masalah gizi yang terjadi di masa remaja berlanjut hingga dewasa,” tuturnya.

Mantan Kepala RSPAD ini juga menambahkan, masalah gizi yang terjadi sejak masa remaja akan mempengaruhi perkembangan otak anak, produktivitas, kinerja dan daya saing di tingkat global, yang dapat berdampak terhadap kemampuan untuk mendapatkan penghidupan yang layak di kemudian hari.

Sebab pola hidup yang sehat dengan gizi seimbang menjadi salah satu upaya perbaikan gizi remaja. Hal itu dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan beragam yang diaplikasikan melalui ‘isi piringku’ sebagai panduan  sekali makan, berperilaku hidup sehat, rajin berolah raga, dan memantau berat badan secara rutin.

Terawan berharap, dengan adanya berprilaku hidup sehat dan memakan makanan yang bergizi ini, semua permasalahan tentang gizi dapat teratasi. “Diharapkan masalah gizi pada remaja dapat teratasi,” pungkasnya. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.