Kamis, 7 Juli 22

Hermawan Kartajaya Ingin Terus Kembangkan Marketing

Hermawan Kartajaya Ingin Terus Kembangkan Marketing
* Hermawan Kartajaya. (Foto Twitter ‏@the_marketeers)

BUMN Marketeers Club merupakan agenda rutin yang dikelola oleh MarkPlus Inc, diikuti oleh hampir seluruh BUMN dan tiap-tiap BUMN secara bergiliran menjadi tuan rumah penyelenggara.

“Namanya BUMN Markeeters Club karena majalah kita namanya Marketeers.  Hampir 5 Tahun, kita menggelar kegiatan ini tiap bulan, hanya dari jam 07.00 – 09.00 WIB. Klub ini tidak ada iurannya, aku datang gratis untuk memfasilitasi supaya  kalau ada suatu yang baru dari BUMN bisa di-share ke BUMN lain sehingga terjadi sinergi,” ungkap CEO and Founder MarkPlus Hermawan Kartajaya saat ditemui Obsession Media Group usai acara BUMN Marketeers Club ke-48: Making Digital Airports Do More di Terminal  Keberangkatan T3 Ultimate, Bandara Soekarno Hatta, Senin (27/2/2017).

Menyikapi era digital, Hermawan menandaskan marketing itu harus digital, tidak hanya bisa mengandalkan online saja. Ada tiga paradoks yang harus di-manage di era digital ini.

“Pertama online tidak bisa dilepaskan dari offline. Kedua, style is very important . Kalau tidak ada style-nya orang tidak mau, tetapi harus ada substansi. Ketiga,  machine to machine (M2M), harus digalakkan tapi harus ditunjang dengan human to human (H2H),” papar pakar pemasaran itu.

Ia mencontohkan digital airport Angkasa Pura II, harus dikawal orang-orang yang mengerti digital, sehingga pelayanan yang diberikan machine to machine tadi bisa dilanjutkan oleh human to human.

“Karena bagaimanapun juga mesin ini belum humanis. Kita harus bisa menggunakan technology for good. Kalau tidak orang-orang atau dunia bisa terbelah,” tuturnya.

Hermawan juga mengatakan telah merilis buku Marketing 4.0: Moving From Traditional to Digital. Isinya mengenai saat ini customers journey itu lewat 5 A (Awareness, Apealing, Ask, Act, dan Advocacy)

“Pertama orang menciptakan awareness. Kedua apealing, kalau sudah awareness tapi tidak menarik orang, tidak seksi, itu tidak ada gunanya. Ketiga Ask, zaman dulu orang dikasih message, tidak boleh tanya, sekarang biarkan dia bertanya supaya kita menjawab. Keempat Act, dia mencoba agar membeli. Kelima advocacy, jadi kalau sebuah brand banyak advokasinya misal retweet, reload, like, subscribe maka brand itu menjadi brand kuat,” beber Hermawan.

Itulah isi buku marketing 4.0 yang sekarang dalam waktu 2 bulan sudah  12 bahasa diterbitkan oleh John Wiley, Amerika, Newyork , sambung Hermawan, sudah dirilis di Indonesia, sambung Hermawan, tapi belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

“Karena lisensinya ada di Newyork, jadi nanti penerbit lokal harus berebut untuk mendapatkan lisensinya,” tandasnya.

Menutup pembicaraan, Hermawan menuturkan obsesinya, ia ingin terus-menerus mengembangkan marketing.

“Saya sudah umur 70 tahun, Markplus sudah 27 tahun, DNA saya kan marketing, kita tidak boleh cuma belajar dari Barat, tapi kita harus mengekspor konsep-konsep marketing dari Asia khususnya Indonesia. Saya buktikan selama19 tahun menulis buku derngan Philip Kotler, terbukti 7 buku di terbitkan oleh luar negeri semua. Itu membuktikan konsep-konsep kita diakui. Saya pinjam nama Philip supaya konsep saya bisa tersebar di dunia. Supaya syiarnya terjadi,” pungkasnya. (Giattri Facbrilliant Putri)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.