Sabtu, 6 Juni 20

Gedung Pelatihan Petani Kakao Didirikan di Sumbar

Gedung Pelatihan Petani Kakao Didirikan di Sumbar

Tanahdatar, Obsessionnews – Gedung Cocoa Learning Center sebagai pusat pusat pelatihan kakao didirikan di Limo Kaum, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat (Sumbar) sebagai tempat untuk melatih para petani kakao bagaimana cara tanam yang baik, pemangkasan yang betul, dengan hasil yang maksimal. Gedung tersebut diresmikan oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Kamis (21/5).

Irwan Prayitno mengatakan, untuk mempercepat proses pengembangan komoditas tanaman perkebunan diperlukan keterlibatan semua pihak, yang dapat menjembatani pemerintah daerah dengan petani, pengusaha maupun non governmental organization (NGO) yang berasal dari luar negeri.

Sejak tahun 2012, pemerintah provinsi telah melakukan kerja sama dengan Swisscontact di tiga kabupaten/kota. Dan lebih dari 7.000 petani selama lima tahun terakhir telah mengikuti sekolah lapang kakao, termasuk juga yang dilakukan oleh Swisscontact.

“Dengan kepercayaan yang besar terhadap Sumatera Barat, Swisscontact juga membangun “cocoa learning center” ini dilengkapi dengan sarana dan prasana, bahkan menjadi pusat pembelajaran petani kakao di wilayah Sumatera, bagaimana cara tanam yang baik, pemangkasan yang betul, dengan hasil yang maksimal,” kata Irwan Prayitno.

Irwan Prayitno mengatakan, Gedung Cocoa Learning Center dibangun di Limo Kaum, karena pemerintah daerah setempat serius mengembangkan kakao di daerah itu. Keseriusan pemerintah menjadi salah satu alasan utama pihak investor untuk membangun gedung itu.

Irwan Prayitno meminta kepada petani coklat di daerah itu supaya manfaatkan CLC sebagai tempat diskusi, penelitian serta bertukar ilum.

Lebih lanjut Irwan Prayitno mengatakan, komoditi perkebunan seperti kepala sawit, karet, kopi dan kakao merupakan salah satu komoditi penting di Sumbar. Komoditi ini memberi konstribusi yang tidak sedikit terhadap peningkatan pendapatan petani, maupun penyerapan tenaga kerja serta sumber devisa bagi daerah.

Setidaknya Rp3 juta batang kelapa sawit, karet, kelapa, kakao, kopi, pala dan cengkeh, pemerintah provinsi setiap tahun menyediakan bantuan bibit kepada masyarakat. Bibit itu diberikan secara gratis.

Ia mengatakan, sejak program pengembangan kakao berjalan memberikan dampak yang cukup besar bagi kelangsungan petani kakao di Sumbar. Pada tahun 2010 luas tanaman kakao di sumbar kurang dari 100 ribu hektar dan pada tahun 2014 luas tanaman kakao mencapai 154 ribu hektar.

Dalam kesempatan yang sama, Country Director Swisscontact Indonesia, Manfred Borer mengatakan, sentra kakao tersebar di Indonesia terdapat di Sumatera dan Sulawesi. Ia mengaku senang dan tertarik melakukan kegiatan di Sumbar dalam rangka meningkatkan hasil perkebunan masyarakat khususnya kakao.

“Kita sangat senang dengan Indonesia karena petani kakao banyak di Indonesia khususnya di Sumatera Barat,” ujar Manfred Borer.

Sementara itu, Vice President Global Cocoa Sustainability Barry Callebaut menyampaikan, pihaknya punya pabrik besar di Indonesia yang terdapat di Bandung. Pabrik itu mampu menyerap tenaga kerja yang sangat banyak.

“Kakao Indonesia sangat berarti bagi kami, kedepan kegiatan seperti ini dapat kita tingkatkan lagi, sehingga target kakao di Indonesia selalu meningkat,” katanya. (Musthafa Ritonga)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.