Sabtu, 13 Agustus 22

Federasi Renang Internasional Larang Atlet LGBT di Kompetisi Perempuan

Federasi Renang Internasional Larang Atlet LGBT di Kompetisi Perempuan
* Perenang perempuan. (Shutterstock)

Federasi Renang internasional (FINA) mengeluarkan aturan yang melarang atlet transgender (LGBT) berkompetisi di kompetisi elite perempuan apabila mereka mengalami tanda-tanda pubertas pria.

FINA juga mengatakan akan menetapkan kategori ‘terbuka’ dalam berbagai kompetisi untuk para perenang yang identitas gendernya berbeda dengan jenis kelamin mereka pada saat dilahirkan.

Aturan baru ini, yang mendapatkan suara dukungan sebesar 71% dari 152 anggota FINA, disebut sebagai “langkah pertama untuk inklusivitas sepenuhnya” bagi para atlet transgender.

Dokumen peraturan setebal 34 lembar tersebut menyatakan bahwa atlet transgender lelaki-ke-perempuan dapat berkompetisi dalam kategori perempuan – namun “selama mereka belum mengalami pubertas laki-laki setelah Tanner Stage 2 [yang menandai dimulainya perkembangan fisik], atau sebelum usia 12 tahun, atau salah satu di antaranya”.

Keputusan ini dibuat dalam kongres luar biasa yang digelar saat Kejuaraan Dunia di Budapest.

Ini berarti, perenang transgender Amerika Lia Thomas, yang sebelumnya menyatakan keinginannya untuk berkompetisi di Olimpiade, tidak akan bisa bertarung di kategori perempuan.

Sebelumnya, anggota-anggota FINA telah mendengarkan laporan dari gugus tugas transgender yang terdiri dari sejumlah orang ternama dari dunia kesehatan, hukum, dan olah raga.

“Pendekatan FINA dalam mengeluarkan putusan ini sangat komprehensif, berdasarkan sains dan inklusif, juga yang terpenting, pendekatan FINA menekankan pada keadilan dalam berkompetisi,” ujar Brent Nowicki, direktur eksekutif lembaga tersebut.

Presiden FINA Husain Al-Musallam mengatakan organisasi ini berusaha “melindungi hak-hak para atlet untuk berkompetisi” namun juga untuk “melindungi keadilan kompetitif”.

“FINA akan terus menyambut semua atlet,” kata dia. “Dibuatnya kategori terbuka berarti semua orang memiliki kesempatan untuk berkompetisi dalam level elite. Ini belum pernah dilakukan sebelumnya, dan FINA akan menjadi yang pertama. Saya ingin atlet merasa dilibatkan dan dapat menyumbangkan ide-ide mereka dalam proses ini.”

Mantan perenang Inggris, Sharron Davies, yang menentang partisipasi transgender dalam kompetisi renang elite perempuan, berkata kepada BBC Sport bahwa dia “sangat bangga kepada FINA”.

“Empat tahun yang lalu, bersama 60 penerima medali Olimpiade lain, saya menulis surat kepada IOC dan berkata, ‘Tolong lihat dulu sisi sains’ dan tidak ada badan pengatur yang melakukannya, hingga sekarang,” ujar dia.

“Ini yang dilakukan FINA. Mereka melihat sains, mereka melibatkan orang-orang yang benar, mereka bicara kepada para atlet, juga para pelatih.”

“Renang adalah olah raga yang sangat inklusif, kami akan menyambut semua orang untuk berenang dan terlibat. Tapi fondasi dari olah raga adalah keadilan, dan harus adil untuk semua jenis kelamin.”

Saat ditanya apakah aturan FINA ini membuat para atlet trans “dalam keadaan terombang-ambing” sembari mereka menunggu kompetisi kategori terbuka digelar, Davies justru memuji FINA karena memulai percakapan soal inklusivitas bagi atlet trans yang seharusnya “telah terjadi lima tahun yang lalu”.

“Olah raga secara definisi adalah eksklusif – kita tidak akan membiarkan anak laki-laki 15 tahun berlomba melawan anak usia di bawah 12 tahun, kita tidak mengadu petinju kelas berat dengan kelas bantam, alasan utama mengapa kita punya banyak kelas berbeda pada Paralimpiade adalah supaya kita bisa menciptakan kesempatan yang adil untuk semua orang,” katanya.

“Jadi itulah tujuan utama kita memiliki klasifikasi dalam olah raga, dan satu-satunya yang akan merugi adalah para perempuan – mereka akan kehilangan hak mereka akan pertandingan yang adil.”

Meski begitu, ‘Athelete Ally’ – kelompok advokasi LGBT yang mengumpulkan surat dukungan untuk Thomas pada Februari lalu, menyebut aturan baru ini “diskriminatif, berbahaya, tidak berdasar sains, dan tidak segaris dengan prinsip-prinsip IOC 2021”.

“Kriteria kelayakan pada kategori perempuan diatur dalam kebijakan yang mengatur tubuh semua perempuan, dan tidak akan dapat ditegakkan tanpa secara serius melanggar privasi dan hak asasi setiap atlet yang ingin berkompetisi di kategori perempuan,” kata Anne Lieberman, direktur kebijakan dan program kelompok tersebut. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.