Sabtu, 7 Desember 19

Enam Ciri Gerakan Murni Mahasiswa di Depan Gedung DPR

Enam Ciri Gerakan Murni Mahasiswa di Depan Gedung DPR
* Aksi mahasiswa di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2019). (Foto: Edwin B/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.comTidak sedikit masyarakat beranggapan jika aksi mahasiswa yang terjadi di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat,  dua hari belakangan ini diduga ditunggangi oleh kelompok tertentu.

Salah satu tuntutan mahasiswa adalah agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencabut revisi Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Caranya adalah melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu).

Anggapan tersebut berbeda dengan pendiri politik dari Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti, yang menyebutkan, ada enam indikasi bahwa gerakan mahasiswa yang terjadi di depan gedung DPR merupakan gerakan murni dari mahasiswa.

“Gerakan itu bersifat murni dan jauh dari pengaruh ditunggangi,” ungkap Ray melalui pesan singkatnya, Rabu (25/9/2019).

Baca juga: FOTO Demo di Depan Gedung DPR Berakhir Ricuh

Dia menjelaskan, keenam ciri-ciri gerakan tersebut adalah pertama, jika satu gerakan mahasiswa terjadi meluas, dengan cakupan daerah yang melibatkan hampir seluruh pulau, bahkan provinsi. “Kedua, melibatkan jumlah massa puluhan atau bahkan ratusan ribu,” beber pria kelahiran Mandailing Natal, Sumatera Utara, 20 Agustus 1969 ini.

Selanjutnya yang ketiga, dilakukan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, keempat, tanpa kepemimpinan yang menonjol, di mana hampir semua basis massa tidak berada dalam satu garis komando, kemudian yang kelima, memiliki isu utama yang dituju tapi saat yang sama memiliki beberapa variasi isu yang berbeda.

“Dan yang keenam, dengan militansi yang terjaga dan Spartan, umumnya ditandai dengan tidak bergeming, sekalipun ditindak dengan cara yang berlebihan,” jelasnya.

Menurut Ray, dari keenam ciri seperti disebutkan di atas terlihat dalam gerakan mahasiswa yang sekarang. Oleh karena itu, dirinya berkeyakinan bahwa gerakan mahasiswa September 2019 ini adalah murni gerakan mahasiswa untuk menuntut dihentikannya segala upaya yang mengkorupsi agenda reformasi dan demokrasi.

“Itulah isu utama dari aksi mahasiswa ini,” ungkap salah seorang pendiri Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) itu.

Baca juga: FOTO Mahasiswa Blokade Jalan Tol

Dia menambahkan, yang dalam turunannya adalah menghendaki ditundanya berbagai RUU yang dianggap akan memberangus kebebasan warga negara, makin dalamnya intervensi negara terhadap wilayah privat, makin istimewanya hak-hak koruptor dan menuntut profesionalisme polisi paska institusi ini dijadikan sebagai institusi terpisah dari TNI.

Oleh karena itu, sebaiknya semua elit menjawab tuntutan mereka. Lebih dari sekedar memastikan menunda rencana pembahasan RUU tersebut, tapi juga memastikan tidak adanya upaya mengistimewakan hak-hak koruptor melalui serangkaian pelemahan KPK dan meringankan tuntutan kepada mereka.

“Saat yang sama elit juga memberi kepastian tidak akan ada tindakan kekerasan yang akan dialami oleh para aktivis, di mana pun ia berada,” ucapnya. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.