Senin, 22 Juli 19

Eks Ketum HMI Singgung Konsultan Yahudi di Kubu Prabowo

Eks Ketum HMI Singgung Konsultan Yahudi di Kubu Prabowo
* Ilustrasi isu berita bohong alias hoax. (Foto: Tempo.co)

Jakarta, Obsessionnews.com – Mantan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) periode 2003-2005 Hasanuddin angkat bicara terkait isu hoax atau berita bohong yang seolah tak berkesudahan menjelang masa pencoblosan pemilu, 17 April 2019. 

“Kita bisa mengatakan bahwa hoax itu dosa jariyah, jadi bukan hanya ada amal jariyah, tetapi ada juga dosa jariyah. Dosa yang meskipun orangnya sudah meninggal, dia masih mendapat investasi dosanya itu,” kata Hasanuddin di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/4/2019).

Hasanuddin curiga isu hoax yang diduga dibuat oleh kubu calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno untuk menyerang pasangan calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) – KH Ma’ruf Amin itu mungkin tidak terlepas karena adanya konsultan asal Yahudi dibelakangnya. 

“Ini yang terjadi sebenarnya adalah penerapan konspirasi teori dalam proxy war. Jadi kubu Prabowo entah siapa konsultannya di situ, mungkin orang Yahudi, karena teori konspirasi produk Yahudi, sering digunakan intelijen Israel,” ujar Hasanuddin.

Dia menyebutkan, pola konspirasi yang disebut bisa ditelaah dengan mudah. Salah satunya yakni, kata Hasanuddin yakni memposisikan capres 02 Prabowo Subianto seolah tokoh Islam. Hal itu dimulai dengan memanfaatkan isu khilafah, dan pembubaran ex HTI sebagai komoditas politik. 

“Jadi memicu amarah ex HTI itu, kemudian membangun persepsi bahwa pemerintahan Jokowi itu anti Islam. Seolah-olah muncul pahlawan yang namanya Prabowo ini, bahwa seolah-olah tokoh Islam besar, menolong mereka itu. Apa targetnya isu ini? Targetnya mengambil parpol Islam. Itu target politiknya. Berhasil mengambil PKS dan PAN dengan isu itu,” ungkap dia.

“Jadi memunculkan dirinya sebagai tokoh Islam, muncul ijtihad pertama, kemudian ternyata Habib Rizieq juga berbohong besar dalam kasus itu. Targetnya sebenarnya mengambil PKS, PAN, dan PBB. Tapi Yusril kan profesor, tidak semudah itu digelapin teori-teori kayak begitu,” sambung Hasanuddin.

Dia melanjutkan, setelah mendapat dukungan dari partai Islam, muncul lagi isu PKI. Penuturan Hasanuddin, isu PKI ada 3 aspek. Pertama untuk mengencangkan pemerintahan Jokowi anti-Islam hingga NU. Sekaligus mendelegitimasi pemerintahan Jokowi. 

“Setelah parpol Islam diambil, dimasifkan isu hoax kedua. Hoax PKI dibesarkan kembali. Isu PKI ini ada 3 aspek, pertama mengencangkan isu pemerintahan Jokowi anti Islam. Kedua, mencoba mengacak-acak basis NU, karena NU korban terbesar dalam sejarah anti PKI dulu itu. Dan yang ketiga, menutupi latar belakang orang tuanya Prabowo,” sebutnya.

Tidak hanya itu, Hasanuddin juga bicara soal hoax Ratna Sarumpet. Hoax Ratna disebutnya untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi seolah-olah anti demokrasi.

“Apa targetnya? Membuat seolah-olah Pak Jokowi anti demokrasi, mengedepankan kekerasan. Padahal sebenarnya yang mau ditutupi karakteristik Prabowo dengan isu itu. Ya memang justru dia lah yang mempunyai karakter otoritarian ini. Menutupi isu kekerasan yang sering dituduhkan pada Prabowo. Tapi itu gagal,” jelas Hasanuddin.

Isu hoax ini turut menyita perhatian Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Imam Aziz. Di sisa kampanye ini, Imam mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk mengantisipasi berita bohong. Dia juga berharap tidak ada lagi penghadangan yang menimpa cawapres 01 Ma’ruf Amin.

“Demokrasi ke depan, adalah demokrasi yang beradab. Kalau kita berbeda boleh, perbedaan itu natural, alamiah. Biasa-biasa saja, mestinya kita menghadapi perbedaan itu. Jangan perbedaan menjadikan kita kehilangan peradaban dalam berdemokrasi,” katanya. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.