Rabu, 27 Oktober 21

Ekosistem Sungai Kapuas Terancam Punah

Ekosistem Sungai Kapuas Terancam Punah

Pontianak, Obsessionnews Sungai Kapuas merupakan rumah lebih dari 700 jenis ikan. Sungai Kapuas sungai terpanjang di Kalimantan, dan sekaligus sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang mencapai 1.143 km. Nama Sungai Kapuas diambil dari nama daerah Kapuas (sekarang Kapuas Hulu). Sungai yang berlokasi di Kalimantan Barat ini adalah ikon Kota Pontianak yang terkenal dengan Jembatan Kapuas.

Dalam tujuh tahun terakhir Sungai Kapuas tercemar logam berat dan berbagai jenis bahan kimia. Hal ini disebabkan dari berbagai aktivitas penambangan emas dan perak secara ilegal di bagian tengah sungai ini. Pencemaran tersebut mengancam ekosistem sungai punah.

“Walaupun mengalami pencemaran logam berat, Sungai Kapuas tetap menjadi urat nadi bagi kehidupan masyarakat, terutama suku Dayak dan Melayu, di sepanjang aliran sungai,” kata Juhardiansyah, Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Pontianak, kepada obsessionnews.com, Senin (2/3).

Juhardiansyah, Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kehutanan   Universitas Tanjungpura, Pontianak
Juhardiansyah, Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Pontianak

Juhar, panggilan akrabnya, mengungkapkan pencemaran Sungai Kapuas berlangsung cukup lama. Pencemaran sungai bukan hanya disebabkan oleh penambangan emas dan perak, tapi juga disebakan oleh limbah industri, limbah kotoran hewan, limbah rumah tangga, radio aktif, kimia anorganik dan organik, dan lain-lain.

“Limbah industri biasanya berasal dari perusahaan-perusahaan sawit dan karet di sepanjang Sungai Kapuas. Sedangkan limbah kotoran hewan dan rumah tangga menjadi salah satu penyebab dari punahnya ekosistem di Sungai Kapuas,” ujarnya.

Degradasi (perusakan ekosistem) lahan seperti illegal logging (pembalakan liar) menjadi penyebab dari berkurangnya ekosistem di Sungai Kapuas. Selain itu, tata ruang yang tidak dikelola dengan baik tanpa melihat analisis dampak lingkungan (Amdal) dan tanpa melihat prinsip kelestarian lingkungan menjadi penyebab kerusakan sungai.

Menurut Juhar, sebaiknya daerah aliran sungai (DAS) dikelola dengan pendekatan ekosistem, yakni dikelola secara terpadu didasarkan atas DAS sebagai satu kesatuan ekosistem, satu rencana, dan satu sistem pengelolaan.

Di sisi lain, harus terjalin koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan (stakeholder) secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“Pengelolaan DAS harus bersifat adaftif terhadap perubahan kondisi yang dinamis, sesuai dengan karakteristik DAS. Selain itu, pengelolaan DAS harus berdasarkan asas-asas akuntabilitas, serta dilaksanakan dengan pembagian tugas, fungsi, beban biaya. dan manfaat antar stakeholder dengan adil,” tutur Juhar.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 tentang pengelolaan DAS disebutkan, pengelolaan DAS secara utuh diselenggarakan melalui proses yang panjang. Yakni, persiapan tata kelola, pelaksanaan kegiatan, monitoring dan evaluasi (monev), pembinaan dan pengawasan.

Upaya yang dilakukan dalam mengurangi limbah belum dianggap maksimal. Baru sebagian komunitas pemerhati lingkungan di Pontianak yang tergerak, salah satu di antaranya adalah Gerakan Senyum Kapuas, yang fokus pada kebersihan Sungai kapuas. Itu pun masih terbatas pada limbah rumah tangga.

“Tanggung jawab  menjaga lingkungan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab semua lapisan masyarakat,.” cetusnya

Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak harus mampu menyosialisasikan mega bio divercity (kekayaan keanekaragaman hayati). Pengelolaan kekayaan keanekaragaman hayati harus dipandang sebagai pembangunan jangka panjang, untuk keberlangsungan regenerasi dan keberlajutan ekosistem dan manusia di dalamnya. (Ahmad Saufi)

 

(Silva Indonesia Pengurus Cabang)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.